Rezim Suriah Ubah Tempat Penampungan Jadi Pusat Penahanan

18 April 2019, 17:12.
Kamp pengungsi Al-Rukban. Foto: Arsip Middle East Monitor

Kamp pengungsi Al-Rukban. Foto: Arsip Middle East Monitor

LONDON, Kamis (Middle East Monitor): Rezim Suriah mengubah tempat penampungan sementara di Homs menjadi pusat penahanan yang setara dengan Abu Ghraib, ungkap Komite Hubungan Masyarakat dan Kebijakan kamp pengungsi Al-Rukban.

Para petugas yang mengelola kamp di perbatasan Yordania itu mengecam perlakuan rezim terhadap Muhajirin yang kembali. Menurut Komite, Muhajirin dibujuk ke pusat-pusat penahanan berdasarkan ketentuan perjanjian rekonsiliasi, namun seringkali Muhajirin ditahan di sana tanpa batas waktu.

Juru bicara Komite, Shukri Al-Shehab, mengatakan kepada kantor berita Suriah Zaman Al-Wasl bahwa rezim telah mendirikan tiga pusat penahanan di Homs untuk menerima kedatangan sekitar 3.000 orang yang telah meninggalkan kamp Al-Rukban bulan ini. Yakni, setelah kesepakatan Rusia mendorong banyak orang yang berasal dari daerah pedesaan bagian timur Homs dan kota Palmyra melakukan perjalanan pulang.

Akan tetapi, saat tiba, keluarga-keluarga mendapati diri mereka terpisah, baik pria maupun wanita melaporkan adanya interogasi dan penyiksaan oleh para petugas administratif, termasuk pemerkosaan. Sementara itu, pasukan Rusia juga berada di lokasi tersebut pada siang hari, setelah mereka pergi, milisi-milisi yang setia pada rezim melecehkan tahanan dengan sewenang-wenang tanpa takut dihukum.

Menurut Al-Shehab, setidaknya tiga pria telah tewas di pusat penahanan yang menurut dia setara dengan penjara Abu Ghraib yang terkenal di Irak. Akan tetapi, ancaman rezim Suriah terhadap tawanan yang menceritakan kisah mereka telah mengakibatkan kurangnya liputan media.

Awal bulan ini, Rusia menuntut agar kamp Al-Rukban ditutup, seraya mengklaim bahwa Muhajirin Suriah ingin kembali ke rumah-rumah mereka yang kini berada di bawah kendali rezim.

Sementara itu, pasukan oposisi yang didukung Amerika Serikat (AS) menuding polisi militer Rusia dan pasukan Suriah memblokir makanan dan barang-barang memasuki kamp untuk memaksa Muhajirin kembali sebelum waktunya.

Al-Rukban, yang terletak di sepanjang daerah demiliterisasi antara Yordania dan Suriah, dihuni oleh lebih dari 60.000 Muhajirin Suriah sejak 2014. Sebagian besar dari mereka berasal dari daerah pedesaan Homs, Hama, dan Damaskus.

Sejak Juni lalu, Presiden Bashar Al-Assad menerapkan blokade yang mencekik di kamp itu, melarang masuk semua pasokan medis dan makanan. Pada bulan November, kelompok-kelompok oposisi Suriah yang didukung AS mengonfirmasi bahwa rezim semakin memperketat blokade dengan menutup semua jalan menuju ke daerah tersebut. Dua minggu kemudian, sekitar 15 orang, termasuk dua bayi yang baru lahir, meninggal dunia karena kekurangan pasokan kebutuhan dasar.

Sedangkan ratusan Muhajirin telah diusir kembali ke Suriah karena krisis kemanusiaan selama beberapa bulan terakhir. Sebagian besar Muhajirin telah menolak tawaran itu karena takut ditangkap dan disiksa oleh rezim saat mereka kembali.

Meskipun rezim berjanji bahwa mereka yang berani kembali akan dapat dengan bebas kembali ke rumah-rumah mereka, laporan pelecehan dan pembalasan dendam oleh rezim Assad telah menghalangi banyak orang untuk kembali. Bahkan ketika masa depan mereka di Al-Rukban tidak pasti.

Komite Hubungan Masyarakat dan Kebijakan kamp pengungsi Al-Rukban menyatakan, PBB dan komunitas internasional bertanggung jawab atas tidak adanya tindakan dari mereka atas situasi di kamp.

Perang di Suriah telah menewaskan lebih dari 600.000 orang sejak 2011, sebagian besar oleh pasukan sekutu rezim. Lebih dari separuh populasi 21 juta negara itu telah mengungsi, dan sekitar 14.000 warga Suriah masih ditahan di penjara rezim, sementara nasib 82.000 lainnya masih tidak diketahui.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Tinggalkan Kamp Pengungsi Al-Rukban, Dua Pemuda Dieksekusi Tentara Rezim Assad
Lebanon Peringatkan Hamas tentang Kemungkinan ‘Israel’ Bunuh Petingginya »