Kecanduan Narkoba Marak di Kalangan Anak-anak yang Hidup di Bawah Rezim Assad

21 April 2019, 12:20.
Gadis ini menceburkan diri untuk mengambil benda yang dihirupnya, setelah orang yang merekam video mengambil benda yang dihirupnya dan membuangnya ke kali. Sumber: Twitter (@hadialabdallah, @syrianman967)

Gadis ini menceburkan diri untuk mengambil benda yang dihirupnya, setelah orang yang merekam video mengambil benda yang dihirupnya dan membuangnya ke kali. Sumber: Twitter (@hadialabdallah, @syrianman967)

ISTANBUL, Ahad (Daily Sabah): Penggunaan narkoba dan kecanduan di kalangan anak-anak Suriah yang hidup di bawah kekuasaan rezim Assad dilaporkan telah mencapai tingkat yang sangat tinggi. Rekaman dan foto anak-anak sedang mabuk beredar di media sosial baru-baru ini.

Berdasarkan informasi yang diterima wartawan Anadolu Agency dari penduduk setempat, salah satu alasan utama di balik meningkatnya penggunaan narkoba di kalangan anak-anak ini adalah faktor sosiologis yang disebabkan oleh perang sipil selama delapan tahun. Faktor lain yang menyebabkan masalah kecanduan adalah adanya upaya mencekokkan narkoba pada anak-anak untuk mengeksploitasi mereka bekerja sebagai pengemis di jalanan.

Rekaman seorang anak perempuan berusia 10 tahun menghirup “bally” (lem sintetis) dan hampir pingsan di daerah Lembah Barada di ibukota Damaskus menarik perhatian banyak orang mengenai masalah tersebut ketika rekaman itu beredar luas di media sosial. Dalam rekaman itu, si gadis kecil terlihat mengatakan bahwa ibunya sudah mati dan ayahnya berada di penjara.

Masalah kecanduan narkoba tidak hanya meningkat di ibukota provinsi Damaskus. Surat kabar Suriah, Vatan, yang merupakan sumber media rezim pro-Assad, memberitakan bahwa pada 2018 sekitar 6.939 orang –kebanyakan anak-anak– dirawat di Rumah Sakit Ibn-i Rust, yang merupakan satu-satunya fasilitas kesehatan bagi pecandu narkoba di provinsi Aleppo utara, Suriah. Berdasarkan pernyataan seorang pejabat yang bekerja di rumah sakit, penggunaan obat-obatan terlarang, seperti opium dan heroin sangat umum di kalangan anak-anak dan remaja. Ini menunjukkan gambaran yang jelas tentang kondisi kehidupan yang brutal di bawah rezim Assad.

Delapan tahun lalu, sekelompok anak muda mengorganisir demonstrasi damai menentang rezim Suriah di provinsi Daraa barat daya, namun ditindas secara brutal oleh pasukan rezim. Terlepas dari bertahun-tahun perang –konflik dan pengungsian– tampaknya tidak banyak yang berubah di negara itu; rezim masih bersikeras dengan tindakan brutalnya, sementara oposisi terus melawan sebanyak yang mereka bisa. Pada akhirnya, warga sipil yang paling menderita.

Ratusan ribu warga sipil tewas dalam delapan tahun terakhir ini, sementara 5,68 juta warga sipil terpaksa mengungsi ke luar Suriah. Sebanyak 6,6 juta warga sipil mengungsi di dalam Suriah dan 2,98 juta warga sipil saat ini tinggal di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau atau daerah-daerah yang diblokade.

Warga Suriah juga harus mengalami penyiksaan brutal di penjara-penjara rezim. Berdasarkan laporan terbaru Syrian Network of Human Rights (SNHR), setidaknya 127.916 warga sipil ditahan di penjara rezim, sementara 13.983 orang tewas akibat penyiksaan oleh pasukan rezim. Akan tetapi, penyiksaan oleh pasukan rezim tidak terbatas hanya pada tawanan karena warga sipil juga menjadi sasaran; bahkan, mereka menjadi sasaran 216 kali dengan senjata kimia.

Rezim juga terus menyerang daerah terakhir yang dikuasai oposisi: Idlib, meskipun ada kesepakatan antara Turki dan Rusia.

Menurut laporan yang dirilis SNHR pada 2 April, 135 warga sipil tewas oleh serangan rezim Assad dan kelompok-kelompok teroris yang didukung oleh Iran dan Rusia pada bulan Maret.

Organisasi masyarakat sipil lokal, Syria Intervention Coordinators, menyatakan bahwa 160.583 warga sipil dari 25.776 keluarga harus bermigrasi ke berbagai tempat, termasuk daerah-daerah di dekat perbatasan Turki, antara tanggal 9 Februari dan 6 April ketika serangan meningkat lagi.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada September 2018 –setelah pembicaraan mereka di Sochi– sepakat untuk membangun zona demiliterisasi di Idlib untuk mengurangi ketegangan dan mencegah konflik baru di provinsi tersebut. Menurut memorandum 10 pasal yang ditandatangani antara Ankara dan Moskow selama pertemuan, area de-eskalasi Idlib akan dijaga, dan pos-pos pengamatan Turki akan dibentengi serta terus berfungsi. Rusia juga akan melakukan semua langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa operasi militer dan serangan terhadap Idlib dihindari, dan status quo yang ada dipertahankan.

Akan tetapi, rezim dan pendukungnya (termasuk Rusia) terus melanggar perjanjian. Delapan tahun perang sipil yang melanda Suriah, rezim Bashar Assad mengendalikan sekitar dua pertiga negara itu.* (Daily Sabah | Sahabat Al-Aqsha)

Anak-anak telantar di Suriah menghirup materi perekat yang mengandung zat kimia yang memabukkan dan membuat kecanduan. Sumber: Twitter (@syrianman967)

Anak-anak telantar di Suriah menghirup materi perekat yang mengandung zat kimia yang memabukkan dan membuat kecanduan. Sumber: Twitter (@syrianman967)

Sumber: Twitter (@syrianman967)

Sumber: Twitter (@syrianman967)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Organisasi Sipil Tuntut Walikota Bolu Karena Kebijakan Anti-Pengungsinya
RSF: Warga Pewarta Suriah Terkenal Kemungkinan Tewas di Penjara Assad »