Rezim Assad Keluarkan Sertifikat Kematian untuk Tawanan yang Dibunuh di Penjara

22 April 2019, 23:07.
Foto: Syrian Coalition’s Media Department

Foto: Syrian Coalition’s Media Department

DOHA, Senin (Syrian Coalition’s Media Department): Aparat keamanan rezim Assad terus membunuh para tawanan di penjara-penjaranya yang merupakan bagian dari serangkaian kejahatan perang yang dikonfirmasi oleh Komisi Penyelidikan PBB mengenai Suriah. Jaringan berita lokal memberitakan bahwa rezim Assad mengeluarkan sertifikat kematian baru untuk tawanan yang tewas karena penyiksaan di penjara rezim di Damaskus.

Jaringan berita Smart memberitakan bahwa istri tawanan Ahmed Abdel Sattar Mansour menerima sertifikat kematian suaminya setelah empat tahun ditahan. Mansour menghabiskan waktu di banyak penjara sebelum akhirnya dibawa ke penjara Sednaya yang terkenal kejam. Di sana ia menjadi sasaran berbagai metode penyiksaan brutal.

Smart mengungkapkan bahwa keamanan militer rezim Assad menahan Mansour dari tempat kerjanya di salah satu institusi rezim di kota Homs pada tahun 2015. Dia dituduh berpartisipasi dalam gerakan revolusioner.

Rezim Assad baru-baru ini mulai mengirimkan pemberitahuan kematian untuk para korban penyiksaan di dalam pusat penahanannya ke departemen catatan sipil di provinsi-provinsi Suriah. Penyebab kematian biasanya dikaitkan dengan alasan wajar, seperti “serangan jantung”.

Amnesty International sebelumnya mendesak agar rezim Assad memberi tahu kerabat korban tewas tentang penghilangan paksa dan kematian orang-orang yang mereka cintai. Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan pada tahun 2017 dengan judul “Rumah Penjagalan Manusia”, kelompok pengawas itu mengatakan bahwa rezim Assad mengeksekusi lebih dari 13.000 orang di penjara Sednaya, yang mayoritas adalah warga sipil yang menentang rezim.

Sertifikat kematian lainnya dikeluarkan untuk Mazen Silik dari kota Douma dekat Damaskus yang ditahan pada tahun 2012. Ia lahir di Douma pada tahun 1979, sudah menikah dan memiliki tiga anak.

Sumber-sumber lokal mengatakan bahwa Silik tewas akibat penyiksaan saat berada dalam tahanan rezim. Dia ditahan di sebuah pos pemeriksaan yang dijaga oleh militan dari Republican Guard rezim Assad di Damaskus.

Sertifikat kematian juga dikeluarkan untuk dua pemuda lainnya dari kota Houla di utara Homs. Mereka mati karena siksaan di penjara rezim Assad yang menahan mereka pada awal masa revolusi.

Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan pada 26 Juni 2018, Syrian Network for Human Rights (SNHR) menyatakan bahwa lebih dari 13.000 orang tewas karena penyiksaan di Suriah, sebagian besar dari mereka ditahan oleh pasukan rezim.

Rezim Assad menolak untuk mengungkap nasib para tawanan di penjara-penjaranya. Para aktivis HAM mengecam kegagalan komunitas internasional untuk menekan rezim agar mengungkap nasib ratusan ribu tawanan dan mereka yang dihilangkan secara paksa di penjara-penjara, membebaskan mereka, serta menuntut pertanggungjawaban atas kejahatan terhadap kemanusiaan.* (Syrian Coalition’s Media Department | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Rezim Assad Bombardir Pasar di Idlib, 1 Warga Sipil Tewas dan 3 Terluka
Qatar Buka Pusat Rehabilitasi Pasien Amputasi di Gaza »