‘Tidak, Eskalasi Tidak Dimulai dengan Roket yang Ditembakkan ke Israel’

11 May 2019, 16:37.
Warga Palestina berjalan melewati puing-puing gedung yang hancur akibat serangan udara ‘Israel’, Rafah, selatan Jalur Gaza, 5 Mei 2019. Foto: Abed Rahim Khatib/Flash90

Warga Palestina berjalan melewati puing-puing gedung yang hancur akibat serangan udara ‘Israel’, Rafah, selatan Jalur Gaza, 5 Mei 2019. Foto: Abed Rahim Khatib/Flash90

GAZA, Sabtu (+972 Magazine): Ketika jumlah korban di Gaza terus meningkat, para politisi ‘Israel’ sibuk berdebat: haruskah kita menghancurkan Gaza? Melenyapkannya? Atau haruskah kita mengembalikannya ke Zaman Batu? Saya mengusulkan agar kita mengambil pelajaran yang berbeda dari kekerasan mengerikan yang telah merenggut puluhan nyawa warga Palestina akibat serangan ‘Israel’ baru-baru ini: kita warga ‘Israel’ perlu belajar bahasa Arab.

Saya sadar bahwa usulan saya ini jauh lebih tidak menarik bagi kebanyakan warga ‘Israel’ dibandingkan “solusi” yang mencakup lebih banyak kekerasan dan pertumpahan darah. Akan tetapi, dalam jangka panjang itu mungkin yang paling efektif. Belajar bahasa Arab, bagaimanapun, adalah satu-satunya cara untuk mengatasi ketidaktahuan kita tentang apa yang terjadi di sisi lain di tengah putaran “eskalasi” yang menurut ‘Israel’ selalu dimulai dengan warga ‘Israel’ yang menjadi korban lebih dulu.

‘Israel’ dapat mengatakan kepada dirinya sendiri dan dunia kisah apa pun yang diinginkannya. ‘Israel’ bisa berbicara tentang “eskalasi” hanya ketika roket jatuh di selatan atau tentang terorisme hanya ketika warganya terkena dampaknya. ‘Israel’ dapat menghapus blokade biadab atas Gaza, penduduk yang kelaparan tiada habisnya, penembak jitu yang membunuh demonstran tidak bersenjata, penembakan terhadap nelayan, kurangnya air layak minum, listrik, infrastruktur, ekonomi dan ketiadaan pekerjaan.

Akan tetapi, tidak satu pun dari itu akan berhenti menjadi bagian dari sejarah penjajahan dan kekerasan. Dengan segala hormat, sebuah narasi tidak dapat menggantikan kenyataan, dan pada kenyataannya, ‘Israel’ telah memperlakukan dengan kejam dua juta warga Gaza yang diblokade selama lebih dari satu dekade. Apa yang kita pikir akan terjadi? Itu karena yang kuat memiliki kekuasaan untuk menceritakan kisah bahwa yang lemah akan lenyap begitu saja?

Mereka yang menyimak berita di saluran media berbahasa Arab saat serangan roket ke ‘Israel’ selatan akan menemukan hal yang hampir tidak dipedulikan oleh media berbahasa Ibrani. Bagi mereka, “eskalasi” tidak sebanding dengan tembakan roket ke ‘Israel’ selatan. Buka saja situs berita Palestina apa pun selama periode yang disebut sebagai “masa tenang” dan Anda akan mendapati bahwa perang tidak pernah benar-benar berakhir. Anak-anak Palestina terus menghadapi penangkapan, rumah-rumah warga Palestina terus dihancurkan, dan warga Palestina terus menghadapi pengusiran dari tanah mereka sendiri.

Mustahil untuk memahami realitas kita tanpa memahami realitas mereka. Ketidakpedulian terhadap hal itu membuat warga ‘Israel’ selatan kurang pengalaman menjadi sasaran. Menjadi korban.

Sikap terhadap penduduk Jalur Gaza ini muncul tidak hanya dalam konteks serangan roket – itu mencirikan arus utama pemahaman ‘Israel’ tentang segala sesuatu yang bukan bagian dari wilayah Tel Aviv. Peran warga Gaza dalam wacana politik ‘Israel’ adalah sebagai korban.

Secara pribadi, saya percaya bahwa siapa pun yang kembali memilih Netanyahu tidak hanya membuat keputusan tidak bermoral. Saya juga mengerti bahwa di mata para pemilihnya, ini bukan sekadar iseng. Netanyahu menawarkan kepada para pendukungnya janji untuk melanjutkan pemerintahan yang penuh kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, serta memperkuat supremasi Yahudi. Orang tidak dapat mengabaikan logika prioritas ini, terlepas dari betapa tidak bermoralnya mereka.* (+972 Magazine | Sahabat Al-Aqsha)

*Artikel ini ditulis oleh Orly Noy, seorang aktivis politik dan anggota dewan eksekutif B’Tselem.      

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pesawat Tempur Rusia Bombardir Sekolah di Idlib
Jumat Pertama Ramadhan, Lebih dari 180.000 Jamaah Shalat di Masjidil Aqsha »