Kedubes ‘Israel’ Kirim Imam-imam Inggris untuk Tur ke Palestina Terjajah

12 May 2019, 23:00.
Para imam Inggris berdiri di luar Masjid Al-Aqsha saat tur di Baitul Maqdis yang diselenggarakan oleh kedutaan besar ‘Israel’ di Inggris Raya pada 22 April 2019. Foto: Vivian Aisen/Twitter

Para imam Inggris berdiri di luar Masjid Al-Aqsha saat tur di Baitul Maqdis yang diselenggarakan oleh kedutaan besar ‘Israel’ di Inggris Raya pada 22 April 2019. Foto: Vivian Aisen/Twitter

LONDON, Ahad (Middle East Monitor): Kedutaan Besar ‘Israel’ di Inggris Raya bersumbar tentang peran yang dimainkannya dalam mengorganisir delegasi para imam Inggris ke Baitul Maqdis terjajah bulan lalu. Tur –yang dikecam oleh para kritikus sebagai “propaganda halus” bagi Zionis– mengajak para imam dari berbagai daerah di Inggris Raya mengelilingi komunitas Palestina dan Yahudi dalam apa yang disebut sebagai insiatif “perdamaian dan hidup berdampingan”.

Peran kedubes ‘Israel’ terungkap setelah adanya tweet dari salah seorang stafnya, Vivian Aisen, yang menggambarkan dirinya di bio Twitter-nya sebagai “Diplomat & Direktur Diplomasi Publik di Kedutaan Besar ‘Israel’ di Inggris Raya”. Dia mengatakan bahwa ia telah “mendampingi” para imam selama perjalanan. Dalam cuitannya tentang perjalanan itu, Aisen men-tag Kementerian Urusan Luar ‘Israel’ dan Kedutaan Besar ‘Israel’ di London.

Para aktivis pro-Palestina menyebut cuitan Aisen dan partisipasinya dalam delegasi tersebut sebagai “bukti nyata bahwa para imam ini digunakan sebagai propaganda halus bagi entitas apartheid, rasis ‘Israel’”.

Ketika kedutaan tampaknya memainkan peran utama, sebenarnya penyelenggara tur utama adalah Journey to Jerusalem, yang disponsori oleh Basharat & Bashert, di mana Ed Husain secara formal merupakan direktur dari Quilliam Foundation dan Tony Blair Foundation.

Delegasi para imam meliputi Dr Musharraf Hussain, kepala eksekutif Institut Karimia Nottingham; Imam Asim Hafiz, ulama Muslim pertama di Angkatan Bersenjata Inggris; Syaikh Ghulam Rabbani; dan Syaikh Mohammad Asrar, yang mengepalai masjid terbesar di Leeds.

Hussain membela dirinya atas kritik itu dengan mengatakan bahwa tujuan dari perjalanan itu adalah untuk “memajukan perdamaian dan hidup berdampingan di Tanah Suci Muslim, Yahudi dan Kristen” dan ia percaya “bahwa perdamaian di Baitul Maqdis akan menginspirasi perdamaian.”

Kedubes ‘Israel’ dikenal karena peran mereka dalam mengatur kampanye propaganda penjajah Zionis di negeri asing, terutama di Inggris dan Amerika Serikat (AS). Di Inggris, baik Labour Friends of Israel dan Conservative Friends of Israel telah menikmati hubungan dekat dengan misi Tel Aviv di London.

Film dokumenter Al Jazeera mengenai lobi ‘Israel’ di Inggris Raya mengungkap operasi jahat kedutaan ‘Israel’. Investigasi mengungkap upaya untuk memengaruhi politik Inggris dengan menggunakan kelompok front. Investigasi rahasia selama enam bulan mengungkap sejauh mana kedubes ‘Israel’ telah menembus berbagai tingkat demokrasi Inggris.

Shai Masot, yang merupakan pejabat senior di Kedubes ‘Israel’, tertangkap kamera menyatakan berencana “menjatuhkan” menteri senior pemerintah Inggris, Sir Alan Duncan, dan anggota parlemen lainnya. Dia mengaku memiliki “daftar target” para anggota parlemen.

Terungkap pula bahwa kedubes ‘Israel’ memberikan bantuan rahasia kepada kelompok-kelompok yang seharusnya independen di dalam partai Buruh; pekerjaan di kedutaan ditawarkan untuk mengurus para aktivis muda partai Buruh; dan betapa khawatirnya kedubes sehingga tidak hanya menyingkirkan Sir Alan Duncan, tapi juga anggota parlemen Crispin Blunt, ketua Komite Seleksi Urusan Luar Negeri (keduanya adalah anggota parlemen Konservatif), serta anggota parlemen Jeremy Corbyn, pemimpin partai Buruh.

Publik Inggris marah terhadap upaya kedubes ‘Israel’ “menjatuhkan” anggota parlemen. Lebih dari 10.000 orang menandatangani petisi yang menyerukan pemerintah untuk menyelidiki Masot, yang kemudian dipecat.

Skandal terbaru adalah upaya kedubes ‘Israel’ untuk menekan universitas Inggris Raya agar menyensor kebebasan berbicara.

MEMO telah menghubungi beberapa imam dari delegasi tersebut dan bertanya apakah mereka akan ikut serta dalam delegasi jika mengetahui peran kedubes ‘Israel’. Sejauh ini belum ada yang memberikan tanggapan.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Tak Hanya Infrastruktur, Rezim Assad Juga Berusaha Hancurkan Masyarakat Suriah
Media ‘Israel’ Ungkap Detail ‘Dokumen’ Kesepakatan Abad Ini »