Serangan Rezim Assad Bunuh 21 Warga Sipil yang Sedang Menanti Waktu Berbuka Puasa

29 May 2019, 17:44.
Seorang pria berlari sambil menggendong seorang anak di Idlib saat rezim Assad melancarkan serangan udara, 27 Mei 2019. Foto: Anadolu Agency

Seorang pria berlari sambil menggendong seorang anak di Idlib saat rezim Assad melancarkan serangan udara, 27 Mei 2019. Foto: Anadolu Agency

ISTANBUL, Rabu (Daily Sabah): Sekitar 21 warga sipil terbunuh pada Selasa (28/5) ketika rezim Assad mengintensifkan pengebomannya di Idlib. Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mengungkapkan, sembilan anak termasuk di antara 21 orang yang tewas dalam serangan rezim di beberapa kota di provinsi Idlib dan desa tetangga Aleppo.

Serangan di jalan yang ramai di desa Kafr Halab, di ujung barat provinsi Aleppo, menewaskan sedikitnya sembilan warga sipil.

Seorang fotografer AFP mengatakan, jasad para korban hancur berantakan dan beberapa toko yang berjejer di sisi jalan luluh lantak.

Jalan itu ramai dengan orang-orang yang sedang menanti waktu berbuka puasa.

Sebuah rumah sakit di kota Kafranbel, Idlib, juga terkena tembakan artileri, kata David Swanson, juru bicara kantor kemanusiaan PBB. “Rumah sakit itu dilaporkan tidak bisa beroperasi lagi karena bangunannya rusak parah,” katanya kepada AFP.

Direktur administrasi rumah sakit Majed al-Akraa mengonfirmasi serangan itu. “Rumah sakit sepenuhnya tidak berfungsi,” ujarnya. “Serangannya sangat kuat. Generator dan bahkan mobil saya terbakar,” katanya kepada AFP.

Menurut lembaga yang berbasis di Inggris Raya itu, serangan terjadi setelah pengeboman intensif selama dua hari oleh rezim di wilayah tersebut yang menewaskan total 31 warga sipil pada hari Ahad dan Senin.

Para relawan penyelamat dan warga sipil terlihat menarik para korban yang tertutup debu dari puing-puing bangunan yang hancur setelah serangan.

Wakil kepala kemanusiaan PBB memperingatkan bahwa operasi militer lebih lanjut di provinsi barat laut Suriah, Idlib, akan membuat kewalahan upaya bantuan, serta menekankan bahwa sekitar tiga juta orang terperangkap dalam baku tembak di benteng pertahanan terakhir oposisi itu.

Asisten Sekretaris Jenderal PBB Ursula Mueller mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa operasi kemanusiaan di banyak daerah di mana ada permusuhan aktif telah ditangguhkan. Ia juga menjelaskan bahwa banyak dari mitra kemanusiaan PBB telah mengungsi.

Ini berarti penangguhan layanan kesehatan, nutrisi dan perlindungan yang sebelumnya membantu sekitar 600.000 orang, termasuk 21 pusat imunisasi yang telah menghentikan operasinya, kata Mueller. Ini juga mencakup setidaknya 49 fasilitas kesehatan yang telah ditangguhkan atau ditangguhkan sebagian kegiatannya karena alasan keamanan, katanya.

Idlib adalah kantong terakhir oposisi Suriah dan telah dilindungi dari serangan masif rezim melalui kesepakatan yang dicapai antara Ankara dan Moskow pada September 2018.

Populasi yang sebelum perang hanya berjumlah 1,5 juta kini telah membengkak menjadi sekitar tiga juta karena gelombang pengungsi baru setelah ditetapkan sebagai “zona de-eskalasi” berdasarkan perjanjian Astana antara Turki, Rusia dan Iran pada Mei 2017 untuk membuka jalan bagi solusi politik permanen di Suriah. Puluhan ribu warga Suriah yang terperangkap di bagian lain negara itu dievakuasi ke sana dengan beberapa perjanjian gencatan senjata.

Pengeboman telah menewaskan 229 warga sipil, melukai 727 dan memaksa lebih dari 300.000 orang mengungsi sejak 28 April, menurut Union of Medical Care and Relief Organizations (UOSSM), yang menyediakan bantuan fasilitas kesehatan.

Untuk melakukan serangan ke kota tersebut, pasukan rezim menggunakan dalih adanya militan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang bersembunyi di dalam Idlib. Rezim telah mengintensifkan serangan mereka sejak 26 April.

Ketika serangan udara besar-besaran memperburuk kondisi kemanusiaan, pasukan rezim Assad dan pasukan oposisi bertempur demi memperoleh wilayah di Idlib.

Setelah serangan meningkat, penduduk kota Idlib mulai berduyun-duyun ke wilayah yang dibebaskan oleh Turki melalui operasi Olive Branch dan Euphrates Shield, termasuk kota-kota di dekat perbatasan Turki yang meliputi Atme, Kah, Deir Hassan dan Kefer Lusin, serta 12 titik pengamatan yang didirikan di wilayah tersebut oleh Angkatan Bersenjata Turki (TSK) pada Mei 2018.* (Daily Sabah | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Bayangkan Jika Anda Tinggal di Idlib, Suriah
Tentara Myanmar yang Dipenjara Karena Bantai Muslim Rohingya Telah Dibebaskan »