Myanmar Seperti ‘Israel’ dalam Memperlakukan Rohingya

31 May 2019, 23:54.
Muslim Rohingya, yang melarikan diri dari operasi militer di Myanmar, berbaris untuk mendapatkan bantuan makanan di sebuah kamp pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh. Foto: Safvan Allahverdi/Anadolu Agency

Muslim Rohingya, yang melarikan diri dari operasi militer di Myanmar, mengantre untuk mendapatkan bantuan makanan di sebuah kamp pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh. Foto: Safvan Allahverdi/Anadolu Agency

LONDON, Jum’at (Middle East Monitor): Myanmar sedang melakukan aksi genosida terhadap Muslim Rohingya, kata duta besar Bangladesh untuk Turki, pada Rabu lalu, sebagaimana diberitakan kantor berita Turki Anadolu.

M. Allama Siddiki mengungkapkan hal itu dalam sebuah seminar di Ankara yang membahas tentang pembangunan sosial ekonomi, hubungan dengan Turki dan masalah Rohingya.

“Apa perbedaan antara Myanmar dan ‘Israel’? Kami tidak memiliki hubungan diplomatik dengan ‘Israel’. Kami tidak suka dan tidak mendukung pelanggaran mereka terhadap rakyat Palestina. Myanmar melakukan hal yang sama kepada warga Rohingya,” kata Siddiki.

“Itu seperti aksi genosida,” tambahnya.

Siddiki membahas latar belakang masalah ini dan memuji upaya negaranya yang menerima Muslim Rohingya.

“Kami harus membuka perbatasan. Mereka akan mati jika kami tidak melakukannya. Akan tetapi, itu adalah hal yang sangat berani untuk dilakukan,” katanya.

Dia juga memuji Turki dan Yordania atas upaya mereka menerima Muhajirin Suriah.

“Seperti Turki dan Yordania, kami melindungi orang-orang yang melarikan diri dari kekejaman,” tambahnya.

Siddiki mengatakan Bangladesh tidak memberikan status pengungsi kepada Rohingya karena ingin mereka kembali ke negara mereka secepat mungkin.

“Kami ingin mereka kembali ke Myanmar sesegera mungkin. Kami ingin mereka secara sukarela kembali ke Myanmar dalam kondisi aman. Kami ingin mereka memiliki kewarganegaraan Myanmar dalam jangka panjang.”

Ia juga membahas tentang hubungan bilateral antara Turki dan Bangladesh. “Baik Turki maupun Bangladesh adalah Muslim Sunni. Itu adalah kekuatan hubungan kami,” katanya.

Bangladesh dan Turki telah saling mendukung sejak Perang Kemerdekaan Turki antara 1919-1923, ungkap duta besar.

Turki juga mendukung Perang Pembebasan Bangladesh, yang merenggut tiga juta nyawa rakyat Bangladesh pada tahun 1971, ujarnya.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar wanita dan anak-anak, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan pembantaian terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.

Menurut laporan Ontario International Development Agency (OIDA), sejak 25 Agustus 2017 sekitar 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh pasukan negara Myanmar.

Lebih dari 34.000 warga Rohingya juga dilemparkan ke dalam api, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, ungkap laporan yang berjudul “Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terungkap”.

Sekitar 18.000 wanita dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar, serta lebih dari 115.000 rumah warga Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak.

Dalam sebuah laporan, para penyelidik PBB mengungkapkan pelanggaran-pelanggaran seperti itu bisa dikategorikan kejahatan terhadap kemanusiaan dan bertujuan genosida.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Tentara Myanmar Terus Lakukan Kekerasan dan Pelanggaran HAM di Rakhine
Serdadu Zionis Kembali Tangkap Murabithah Al-Aqsha Ini »