Masyarakat Internasional Bungkam, Rezim Assad Kian Gencar Bombardir Warga Sipil dan Daerah Pemukiman

9 June 2019, 22:27.
Asap membubung setelah serangan udara rezim Suriah dan Rusia menghantam kota al-Habeet, di selatan Idlib, 7 Juni 2019. Foto: Daily Sabah

Asap membubung setelah serangan udara rezim Suriah dan Rusia menghantam kota al-Habeet, di selatan Idlib, 7 Juni 2019. Foto: Daily Sabah

ISTANBUL, Ahad (Daily Sabah): Sudah tujuh pekan sejak pasukan rezim Bashar al-Assad mengintensifkan serangan membabi buta mereka ke wilayah Idlib, Suriah utara. Aksi itu berubah menjadi taktik yang lazim menyerang tempat-tempat hunian, fasilitas kesehatan, sekolah, pasar dan infrastruktur tanpa henti dan sistematis untuk mematahkan asa warga dan menekan mereka agar mengungsi. Hal itu diungkapkan para pengamat internasional, kelompok hak asasi manusia dan penduduk setempat.

Abdurrahim –warga setempat yang harus mengungsi dengan keluarganya dari kota kelahirannya ke desa terdekat– mengatakan bahwa setiap kali pesawat tempur terbang di atas rumah mereka, putrinya yang berusia 18 bulan berlari ke arahnya untuk bersembunyi karena panik.

Berbicara kepada Associated Press (AP) sebagaimana dilansir Daily Sabah, Abdurrahim –yang meminta agar nama belakangnya tidak dipublikasikan karena alasan keamanan– mengatakan ia menolak untuk meninggalkan kota asalnya selama bertahun-tahun, namun serangan intensif rezim yang diluncurkan pada bulan April yang menargetkan provinsi Idlib memaksa ia untuk memikirkan keselamatan keluarganya.

“Ekspresi wajah putri saya…benar-benar menghancurkan hati saya,” kata Abdurrahim (25), merujuk pada anak pertama dan satu-satunya, Ruwaida.

Satu hal yang mematahkan tekad Abdurrahim untuk tinggal di kampung halamannya adalah ketika serangan udara pada 30 Mei meluluhlantakkan rumah di sebelahnya dan menewaskan tiga bocah, salah satunya seorang anak perempuan seusia Ruwaida. Kemudian, Abdurrahim dan keluarganya melarikan diri agar bertahan hidup.

Apa yang terjadi di Idlib adalah versi baru dari metode yang digunakan pasukan rezim Suriah –dengan bantuan Rusia– dalam operasi militer destruktif sebelumnya yang merebut kembali kota Aleppo pada 2016 dan wilayah-wilayah strategis lainnya.

Idlib adalah daerah kantong terakhir oposisi. Populasinya sebelum perang yang sebanyak 1,5 juta telah membengkak menjadi sekitar 3 juta karena gelombang pengungsi baru setelah Idlib ditetapkan sebagai “zona de-eskalasi”. Itu berdasarkan perjanjian Astana antara Turki, Rusia dan Iran pada Mei 2017 untuk membuka jalan bagi solusi politik permanen di Suriah. Puluhan ribu warga Suriah yang terperangkap di bagian lain Suriah dievakuasi ke sana berdasarkan sejumlah perjanjian gencatan senjata.

Para pengamat internasional dan lembaga-lembaga pemantau menyatakan bahwa rezim Suriah dengan sengaja menargetkan warga sipil, wilayah pemukiman dan infrastruktur karena masyarakat internasional terus bungkam atas bencana kemanusiaan yang sedang berlangsung.

“Perang pun punya aturan,” kata Misty Buswell, direktur advokasi Timur Tengah untuk International Rescue Committee, seraya menambahkan bahwa dua rumah sakit yang didukung lembaganya terkena serangan udara. Dalam perang ini, katanya, serangan terhadap warga sipil “terjadi dengan kekebalan hukum mutlak.”

Pasukan rezim langgar hukum internasional

Perjanjian Sochi disepakati pada 17 September oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Berdasarkan perjanjian tersebut, gencatan senjata di wilayah Idlib akan dipertahankan bersama dengan penarikan senjata berat dari wilayah tersebut. Sebelum adanya perjanjian itu, Assad mengisyaratkan sebuah operasi besar di Idlib, yang merupakan benteng terakhir oposisi sehingga memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis kemanusiaan baru.

Setelah delapan bulan masa tenang yang didasari oleh kesepakatan Sochi, rezim telah mengintensifkan serangannya sejak 26 April dengan dalih memerangi gerilyawan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang bersembunyi di Idlib. Padahal, realitanya serangan dan pengeboman menewaskan, melukai warga sipil, serta membuat ribuan orang mengungsi. Daerah-daerah perumahan dihancurkan dengan serangan membabi buta, sementara banyak fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan dan area perumahan luluh lantak atau menjadi tidak dapat digunakan setelah menjadi sasaran bom.

“Pengeboman itu menargetkan segalanya…toko roti, rumah sakit, pasar. Tujuannya adalah untuk menghentikan seluruh pelayanan kepada warga sipil. Semuanya,” tegas Wasel Aljirk, seorang dokter bedah yang rumah sakitnya dihancurkan oleh bom.

Diana Samaan, peneliti Suriah di Amnesty International, menyatakan rumah-rumah ditargetkan sebagai “taktik untuk menekan warga sipil agar menyerah.” Sara Kayyali, peneliti Suriah di Human Rights Watch (HRW), mengatakan kelompoknya dan kelompok HAM lainnya telah “mendokumentasikan serangan pada bangunan tempat tinggal untuk setidaknya menunjukkan wujud pelanggaran hukumnya.”

Sekitar 32 rumah sakit dan fasilitas kesehatan di sekitar daerah kantong itu sudah tidak berfungsi, baik karena dibom atau ditangguhkan pengoperasiannya karena takut dibom, kata Mustafa al-Eido dari otoritas kesehatan Idlib.

Juga, ada setidaknya enam serangan terhadap pusat-pusat pertahanan sipil, 29 serangan terhadap sekolah-sekolah dan lebih banyak lagi pada infrastruktur sipil lainnya dalam sebulan terakhir, di mana jumlah korban jiwa telah melebihi 300 selama serangan membabi buta rezim yang menargetkan warga sipil dan daerah pemukiman. Menurut Save the Children, sekitar 61 anak termasuk di antara mereka yang tewas sejak April. Sementara, otoritas kesehatan Idlib menyebutkan 75 anak tewas pada bulan Mei saja.

Akibatnya, lebih dari 300.000 orang mengungsi dalam dua bulan terakhir –sebagian besar dalam empat minggu terakhir– dan lebih dari 200.000 dari mereka hidup di tempat terbuka tanpa tempat berlindung karena lokasi pengungsi internal yang dekat dengan perbatasan Turki penuh sesak. Lembaga-lembaga bantuan khawatir bahwa angka itu akan meningkat menjadi 700.000 orang yang mengungsi.

Karena Turki telah menampung hampir empat juta Muhajirin Suriah, tidak mungkin bagi negara itu untuk menangani aliran pengungsi baru dalam skala besar. Ini tidak hanya menyangkut Turki, tapi juga akan berimplikasi pada Eropa.* (Daily Sabah | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« PENYALURAN AMANAH: Hidangan Ifthar untuk Muhajirin di Idlib, Suriah
Meski Terkena Sanksi Internasional, Pejabat Myanmar Hadiri Pameran Senjata ‘Israel’ »