Meski Terkena Sanksi Internasional, Pejabat Myanmar Hadiri Pameran Senjata ‘Israel’

10 June 2019, 10:44.
Perwakilan militer Myanmar di pameran ISDEF 2019 di Tel Aviv pada 4 Juni 2019. Foto: +972 Magazine

Perwakilan militer Myanmar di pameran ISDEF 2019 di Tel Aviv pada 4 Juni 2019. Foto: +972 Magazine

TEL AVIV, Senin (+972 Magazine): Perwakilan militer Myanmar menghadiri konferensi keamanan dan senjata terbesar ‘Israel’ di Tel Aviv pada Selasa (4/6) lalu. Para pejabat itu tiba di Pusat Pameran Pertahanan Internasional Tel Aviv, HLS & Cyber Expo –yang dikenal dengan ISDEF– dengan pakaian militer lengkap. Di sana mereka melihat-lihat peralatan dan teknologi pertahanan yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan ‘Israel’ dan internasional, bersama dengan delegasi dari puluhan negara lainnya.

Pejabat tinggi militer Myanmar melakukan perjalanan ke ‘Israel’ pada bulan September 2015 untuk “berbelanja” senjata ‘Israel’. Selain bertemu produsen senjata ‘Israel’, mereka juga bertemu dengan Presiden Reuven Rivlin, kepala staf Pasukan Pertahanan ‘Israel’ (IDF), serta kepala Direktorat Kerja Sama Pertahanan Internasional ‘Israel’.

Penjajah Zionis seharusnya berhenti menjual persenjataan canggih ke Myanmar pada tahun 2017 setelah petisi diajukan oleh para aktivis hak asasi manusia dan pengacara Eitay Mack ke Mahkamah Agung ‘Israel’. Berdasarkan keterangan di sidang pengadilan dan pernyataan yang disampaikan oleh perwira militer Myanmar, beberapa senjata yang disediakan ‘Israel’ meliputi senapan, kapal perang, dan pelatihan militer. Pengadilan tetap merahasiakan putusannya, dan ‘Israel’ tidak mengizinkan publikasi resmi perdagangan senjata dengan Myanmar.

Berdasarkan laporan Misi Pencari Fakta PBB di Myanmar, militer Myanmar telah melakukan pelanggaran masif terhadap warga Rohingya –sebuah kelompok minoritas Muslim di negara itu– termasuk pemerkosaan massal, penghilangan paksa, dan pembakaran ratusan desa. Ratusan ribu warga sipil Rohingya yang mengungsi tinggal di kamp-kamp pengungsi di negara tetangga, Bangladesh. Laporan itu secara khusus menyebut enam komandan senior sebagai yang paling bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia termasuk Panglima Tertinggi Tatmadaw, Jenderal Senior Min Aung Hlaing – yang sebelumnya bertemu dengan kepala staf militer ‘Israel’ dalam kunjungan ke ‘Israel’.

Menurut PBB, kekejaman terhadap hak asasi manusia yang sedang dilakukan oleh militer Myanmar terhadap warga Rohingya sama dengan kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida. Uni Eropa memperpanjang embargo penjualan senjata ke Myanmar pada bulan April dan para pejabat PBB mendesak masyarakat internasional untuk menghentikan semua dukungan bagi militer negara itu. ‘Israel’ memiliki sejarah menjual senjata kepada pemerintahan diktator, di antaranya junta di Argentina dan Bolivia, serta Rwanda pada tahun-tahun menjelang genosida.

Aktivis Amnesty International, Hamushim (“Bersenjata” dalam bahasa Ibrani) Project, dan kelompok akar rumput ‘Israel’ Standing Together, berunjuk rasa di luar lokasi konferensi. “Kami menuntut agar ‘Israel’ berhenti memproduksi senjata dan peralatan pengintai ke negara-negara yang melakukan pelanggaran HAM berat,” kata Chen Bril Egri, kepala kampanye pengungsi dan pencari suaka Amnesty International. “Kami menjelaskan kepada para pelanggan potensial bahwa senjata ‘Israel’ yang mereka beli digunakan untuk melakukan genosida di Myanmar, pembersihan etnis di Sudan, pembunuhan ekstrayudisial di Filipina, serta pengintaian terhadap penentang rezim dan aktivis hak asasi manusia di Meksiko dan Uni Emirat Arab.”

“Perusahaan-perusahaan ‘Israel’ menjual senjata dan teknologi mereka usai melakukan uji coba di lapangan, yakni setelah mereka menggunakannya di Tepi Barat dan Jalur Gaza dengan mengorbankan nyawa dan keselamatan warga Palestina,” jelas Daniela Freund, aktivis dari Coalition of Women for Peace’s Hamushim Project, yang berupaya mengungkap “harga manusia” dari industri senjata ‘Israel’. “Ekspor senjata ‘Israel’ telah menjadi bisnis yang maju, dan industri senjata mendapat untung dari penjajahan,” tambahnya.* (+972 Magazine | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Masyarakat Internasional Bungkam, Rezim Assad Kian Gencar Bombardir Warga Sipil dan Daerah Pemukiman
Serdadu Zionis ‘Israel’ Semakin Kecanduan Narkoba »