Di Kamp Perbatasan, Dokter ‘Buka Praktik’ di Truk dan Tenda untuk Obati Muhajirin Suriah

25 June 2019, 21:37.
Bassel Maarawi (57), dokter gigi klinik gigi keliling di sebuah truk dekat Azaz, Suriah, 16 Juni 2019. Foto: Reuters/Khalil Ashawi

Bassel Maarawi (57), dokter gigi klinik gigi keliling di sebuah truk dekat Azaz, Suriah, 16 Juni 2019. Foto: Reuters/Khalil Ashawi

AZAZ, Selasa (Euronews | Sahabat Al-Aqsha): Perang Suriah telah membuat Najwa Abdelaziz mengalami segala jenis penderitaan. “Perlawanan telah merusak gigi saya,” candanya ketika mendapatkan perawatan gigi untuk kali pertama dalam beberapa tahun di belakang sebuah truk.

Wanita berusia 33 tahun itu tidak memperoleh bantuan untuk mengobati sakit giginya bahkan setelah ia melarikan diri dari daerah kekuasaan Islamic State dan berlindung di barat laut Suriah. Akan tetapi, seorang dokter gigi dari klinik keliling kini tiba di kamp Rayyan, tempat ia tinggal bersama suami dan empat anaknya di sebuah tenda di antara pepohonan.

“Kami terus berpindah-pindah sehingga kami tidak memiliki akses ke dokter,” kata Najwa, yang keluarganya diselundupkan keluar dari kota Raqqa sekitar tiga tahun lalu.

Mereka berakhir di sudut barat laut Suriah, benteng terakhir oposisi. Kamp-kamp penuh sesak, sementara para dokter terlalu sedikit, dan banyak rumah sakit hancur karena pengeboman rezim.

Di kamp-kamp sepanjang perbatasan Turki, seringkali satu-satunya layanan kesehatan bagi Muhajirin seperti Najwa berasal dari dokter keliling dan klinik darurat di tenda-tenda.

“Banyak yang hanya minum pil dan tidak memberitahu tentang rasa sakit yang mereka derita,” kata Bassel Maarawi (57), dokter gigi yang berkeliling ke tujuh kamp di jalur perbatasan.

Klinik gigi keliling itu menetap di setiap kamp beberapa bulan dan merawat puluhan pasien –yang tidak dapat pergi ke kota untuk menemui dokter– setiap hari.

Klinik itu milik Independent Doctors Association, kelompok Suriah berbasis di Turki yang juga menjalankan fasilitas kamp gratis termasuk klinik untuk wanita, anak-anak, penyakit dalam dan farmasi.

Maarawi sendiri mengungsi pada akhir 2016 dari kota Aleppo, di mana militer menghancurkan oposisi dengan bantuan Rusia dan Iran setelah pengepungan yang sengit.

Anak-anak yang ia rawat sekarang –tinggal di tempat kotor dan meminum air kotor– seringkali menderita malnutrisi. “Banyak orang yang mengungsi baru-baru ini yang benar-benar memengaruhi mereka secara mental, Anda bisa melihatnya ketika mereka masuk,” ujarnya.

Gelombang serangan baru telah memicu eksodus ratusan ribu orang yang melarikan diri dari serangan militer di Suriah barat laut sejak April.

Di sebuah kamp untuk sekitar 14.000 orang di desa perbatasan Shamarin, Ammar al-Omar menjalankan klinik fisioterapi di dalam sebuah tenda besar.

Staf –profesional medis dan tiga sukarelawan yang dia latih– membuat sebagian besar peralatan sendiri dan bertahan hanya dengan sedikit sumbangan. Mereka mengobati semuanya, mulai dari sakit punggung hingga pasien yang terluka karena pertempuran termasuk para pejuang oposisi dan anak-anak yang lumpuh.

“Ada banyak yang cedera karena pengeboman yang sengit,” kata Omar. “Para pasien tidak mampu membeli makanan apalagi transportasi.”

Um Mhamad (29) membawa putranya dari kamp terdekat dan berjalan pulang-pergi ke klinik tenda selama lebih dari dua tahun. Cedera saat lahir telah melumpuhkan putranya yang baru berusia enam tahun itu. Um Mhamad dan keluarganya mengungsi dari Aleppo pada 2016.

“Dia dulu tidak bergerak sama sekali,” jelas Um Mhamad. “Sekarang, ia bisa merangkak dan berbalik di kedua sisi dan berdiri.”* (Euronews | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Qatar Kucurkan 3 Juta Dolar untuk Bantu Puluhan Ribu Muhajirin Suriah di Yordania
Kematian Mursi Picu Kekhawatiran terhadap Nasib Tawanan di Penjara Mesir »