Wanita-wanita Suriah yang Mengungsi dari Idlib Terpaksa Bersalin di Ruangan Terbuka

1 July 2019, 21:48.
Seorang bayi Suriah di luar tenda sebuah kamp untuk warga sipil yang melarikan diri dari pasukan pemerintah yang masuk ke provinsi Idlib yang dikuasai oposisi pada September 2018. Foto: AFP

Seorang bayi Suriah di luar tenda sebuah kamp untuk warga sipil yang melarikan diri dari pasukan pemerintah yang masuk ke provinsi Idlib yang dikuasai oposisi pada September 2018. Foto: AFP

LONDON, Senin (Middle East Eye): Tidak pernah terlintas dalam benak Rabaa al-Shamaa akan mengalami ini saat melahirkan anak kelimanya. Di sebuah lapangan terbuka dekat perbatasan Suriah-Turki, ibu hamil itu berbaring di atas rumput, kesakitan.

Hanya dua pekan sebelumnya, serangan udara pemerintah menargetkan kampung halamannya di barat laut Suriah, mengebom rumah sakit sehingga membuat Shamaa dan keluarganya melarikan diri ke utara. Sejak itu mereka tidur di kebun zaitun.

Ketika kontraksinya semakin dekat, Shamaa takut dia harus melahirkan di ruangan terbuka tanpa bantuan medis.

“Saya menghabiskan waktu berjam-jam di bawah pohon saat panas terik,” katanya kepada MEE. “Saya tidak bisa menggambarkan rasa sakitnya.”

Akan tetapi, setelah mendengar deru sebuah truk pickup di dekatnya, suami Shamaa berhasil menghadang pengemudi dan meyakinkannya untuk membawa keluarga itu ke rumah sakit terdekat.

“Saya tiba di rumah sakit dengan napas terakhir saya,” kata Shamaa. Tidak lama setelah itu, putranya, Nasser, lahir dan Shamaa mengatakan bahwa dia segera keluar dari rumah sakit.

“Saya melihat kematian seribu kali pada hari itu,” katanya. “Saya tidak berharap itu terjadi pada ibu mana pun di dunia.”

Assad terus serang rumah sakit

Lebih dari 300.000 warga Suriah seperti Shamaa melarikan diri dari rumah mereka sejak akhir April, ketika pasukan yang setia kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad memulai operasi militer berdarah untuk merebut kembali bagian-bagian di barat laut Suriah yang dikuasai oleh kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS).

Pesawat tempur Rusia dan Suriah tanpa henti menggempur daerah-daerah pemukiman di Idlib selatan dan Hama utara, ungkap pekerja bantuan medis dan penduduk. Pengeboman yang terus menerus telah memaksa setidaknya 49 rumah sakit dan fasilitas-fasilitas kesehatan untuk menghentikan sebagian atau seluruh layanan, menurut Imad al-Zahran, kepala kantor media Direktorat Kesehatan Idlib.

Sementara itu, dokter-dokter yang bekerja di wilayah tersebut telah berhenti berbagi koordinat rumah sakit mereka dengan PBB. Karena, mereka menduga itu justru menghasilkan penargetan langsung terhadap rumah sakit.

Damaskus dan sekutunya, Moskow, menyatakan mereka hanya menargetkan teroris di wilayah itu, tetapi kelompok-kelompok hak asasi manusia menyatakan pengeboman rumah sakit baru-baru ini mengikuti bertahun-tahun serangan yang disengaja dan sistematis pada fasilitas medis, pekerja kesehatan dan pasien mereka.

Sejak awal konflik pada tahun 2011, Physicians for Human Rights (PHR) telah mendokumentasikan pembunuhan lebih dari 890 personel medis di Suriah. Kelompok advokasi yang berbasis di New York itu mengatakan lebih dari 90 persen serangan dilakukan oleh pasukan pemerintah Suriah dan sekutu mereka.

Bersalin di kebun zaitun

Karena akses rumah sakit berkurang secara dramatis, para bidan membantu mengisi kekosongan itu.

Sejak melarikan diri dari daerah pedesaan Idlib bulan lalu, bidan Randa al-Ali telah membantu kelahiran puluhan bayi di kebun zaitun yang tersebar di seluruh perbatasan Turki.

Ketika mengungsi, dia meninggalkan sebagian besar perlengkapannya sehingga ia membantu persalinan tanpa alat dan obat pereda nyeri yang biasanya ia miliki.

“Saya sangat khawatir terhadap para wanita ini, banyak dari mereka melahirkan bayi mereka di bawah pohon-pohon dan di tempat terbuka,” katanya pada MEE.

Bagian tersulit bagi banyak orang, katanya, adalah ketiadaan martabat dalam kondisi kehidupan mereka. Hal terbaik yang bisa mereka lakukan adalah menggantungkan kain di atas cabang-cabang pohon untuk memberikan sedikit keteduhan dan privasi.

“Para wanita ini tidak merasa nyaman. Tidak ada kamar mandi atau air ledeng di sini, dan para wanita yang hamil sembilan bulan membawa ember air di kepala mereka.”

Mereka yang melahirkan di rumah sakit seringkali menderita komplikasi yang sepenuhnya bisa dicegah. Salah seorang dokter kandungan wanita –yang meminta namanya dirahasiakan karena alasan keamanan– mengatakan gizi buruk, stres ekstrem dan tidak adanya sanitasi yang layak telah berkontribusi pada peningkatan dramatis tekanan darah tinggi, infeksi saluran kemih dan keguguran.

Dalam dua bulan terakhir, dia membantu persalinan lebih banyak bayi prematur, dan rumah sakitnya kekurangan staf serta inkubator.

“Kami sering menangis di rumah sakit karena ketidakmampuan kami untuk mencegah hilangnya begitu banyak nyawa,” katanya.

Operasi caesar di rumah sakit daerah itu juga meningkat, kata Dr Zaher Sahloul, presiden kelompok bantuan kemanusiaan MedGlobal, yang mengirim tim medis ke daerah-daerah bencana termasuk di Suriah. Selama kunjungannya baru-baru ini ke Idlib, seorang dokter mengatakan kepadanya bahwa 40 hingga 50 persen dari persalinan di rumah sakitnya sekarang adalah operasi caesar.

“Para wanita ingin mengontrol waktu mereka melahirkan karena semuanya tidak terduga,” kata Sahloul. “Bom bisa terjadi kapan saja, dan di tengah malam Anda tidak bisa pergi ke rumah sakit.”

Bencana kemanusiaan

Idlib adalah tempat berlindung terakhir bagi banyak warga sipil. Sekitar setengah dari tiga juta penduduk di provinsi itu telah melarikan diri dari rumah mereka setidaknya sekali sebelumnya, banyak dari mereka dievakuasi ke Idlib dari tempat lain di negara itu.

Jika kekerasan di bagian Suriah yang padat penduduk ini terus berlanjut, PBB memperingatkan terjadinya “bencana hak asasi manusia dan kemanusiaan yang tak terbayangkan”.

Negara tetangga, Turki, yang telah menampung lebih dari tiga juta Muhajirin Suriah, telah menutup perbatasannya. Tidak dapat menyeberang, ratusan ribu warga Suriah yang mengungsi masuk ke dalam kamp-kamp yang penuh sesak. Yang lain menemukan tempat berlindung di tanah pertanian terbuka.

Sahloul dari MedGlobal khawatir bahwa tanpa akses ke rumah sakit, jumlah warga sipil yang mengungsi akan terus bertambah.

“Orang-orang menolerir risiko bom jatuh selama ada infrastruktur sipil tertentu di desa mereka,” katanya.

“Jika itu dihancurkan maka orang-orang pergi.”

Shamaa punya sedikit waktu untuk berkemas ketika bom-bom mulai menghujani kotanya. Di tengah kekacauan itu, dia meninggalkan pakaian bayi yang telah dia pilih dengan hati-hati untuk calon anaknya.

Untuk saat ini, putranya yang berusia satu bulan mengenakan kaus ukuran balita yang dipinjam Shamaa dari keluarga pengungsi lainnya.

Memeluk Nasser erat, ia tidak bisa tidak khawatir tentang dunia tempat putranya akan tumbuh. “Saya sangat takut akan masa depannya. Saya hanya ingin anak-anak saya tinggal di tempat yang aman.”* (Middle East Eye | Sahabat Al-Aqsha)

Seorang wanita Suriah menggendong bayi di dalam rumah sakit darurat setelah serangan dan pengeboman di kota Idlib barat laut yang dikuasai oposisi, pada 21 Juli 2016. Foto: AFP

Seorang wanita Suriah menggendong bayi di dalam rumah sakit darurat setelah serangan dan pengeboman di kota Idlib barat laut yang dikuasai oposisi, pada 21 Juli 2016. Foto: AFP

Dua putri Rabaa al-Shamaa menggendong adik lelaki mereka yang berusia satu bulan, Nasser. Foto: Istimewa

Dua putri Rabaa al-Shamaa menggendong adik lelaki mereka yang berusia satu bulan, Nasser. Foto: Istimewa

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Imam Masjidil Aqsha: ‘Kesepakatan Abad Ini’ Akan Gagal
Masjidil Aqsha Semakin Terancam! Dubes AS Resmikan Terowongan Dekat Masjid »