Alih-alih Bebas, Mesir Kembali Jebloskan Putri Yusuf Al-Qaradawi ke Sel Isolasi

6 July 2019, 14:55.
Ola Al-Qaradawi, putri Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional Syaikh Yusuf Al-Qaradawi, dan suaminya. Foto: Twitter

Ola Al-Qaradawi, putri Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional Syaikh Yusuf Al-Qaradawi, dan suaminya. Foto: Twitter

LONDON, Sabtu (Middle East Monitor): Ola Al-Qaradawi kembali dijebloskan ke sel isolasi pada Kamis (4/7), terlepas dari kenyataan bahwa pengadilan Mesir memerintahkan pembebasannya beberapa jam sebelumnya.

Putri ulama berpengaruh Syaikh Yusuf Al-Qaradawi itu ditangkap bersama suaminya Hosam Khalef pada 2017, dihilangkan secara paksa, kemudian ditahan di tahanan praperadilan, yang secara teratur diperpanjang.

Berdasarkan hukum Mesir, para tawanan praperadilan harus dibebaskan setelah dua tahun jika kasus mereka belum dibawa ke pengadilan. Jaksa kemudian memiliki 24 jam untuk mengajukan banding atas putusan itu.

Jaksa penuntut sekarang mendakwa Ola atas “keanggotaan dan dukungan keuangan dari kelompok teroris menggunakan relasinya di penjara”. Kelompok yang dimaksud jaksa adalah Ikhwanul Muslimin. Dakwaan serupa ditujukan kepadanya dua tahun lalu.

Pada 2013, otoritas Mesir mengilegalkan Ikhwanul Muslimin, mencapnya sebagai organisasi teroris, dan memenjarakan ratusan anggotanya.

Banyak warga Mesir ditahan dengan tuduhan menjadi bagian dari Ikhwanul Muslimin, meskipun, seperti halnya Ola, mereka tidak berafiliasi dengan kelompok itu.

Ola adalah warga negara Qatar dan penangkapannya dianggap sebagai bagian dari konflik geopolitik yang lebih luas antara Qatar dan Mesir – yang telah memberlakukan blokade darat, laut dan udara di negara Teluk itu bersama dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.

Ia dihukum karena menjadi putri Yusuf Al-Qaradawi, yang telah dianggap sebagai penentang rezim saat ini karena dia pernah berbicara menentang militer di Mesir, meskipun tidak melakukannya secara terbuka selama beberapa tahun. Salah satu tuntutan untuk mengangkat blokade adalah agar Qatar mengekstradisi Al-Qaradawi ke Mesir.

Ola sekarang telah menghabiskan lebih dari 700 hari di sel isolasi di mana dia tidak diizinkan melakukan kontak dengan keluarga atau pengacaranya, baik secara langsung maupun melalui telepon. Dia tidak pernah diizinkan untuk menerima tamu, tindakan hukuman umum yang digunakan terhadap tawanan, yang semakin memburuk setelah kematian mantan Presiden Muhammad Mursi.

Menanggapi dakwaan tersebut, Ola mengatakan kepada jaksa bahwa dia akan memulai mogok makan terbuka sampai ia dibebaskan tanpa syarat. Selama masa penahanannya, Ola tidak mendapatkan perawatan medis dan keluarganya sangat khawatir dengan kesehatannya.

Tahun lalu, putri sulungnya, Aayah Khalef, yang berada di Amerika Serikat, mengatakan pada MEMO bahwa kondisi ibunya “lemah dan memburuk”. Ia menggambarkan keputusan terakhir itu sebagai “tragedi”.

“Kesehatan ibu saya memburuk dan dampak psikologis dari sel isolasi tak terkatakan. Mogok makan akan membunuh ibu saya dan kematiannya merupakan tanggung jawab otoritas Mesir.”

Aayah melanjutkan, “Saya dan keluarga saya merasa hancur dan sangat sedih. Impian kami untuk segera melihatnya dan kegembiraan kami bahwa dua tahun penyiksaan akhirnya berakhir hancur berantakan pagi ini.”* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Rakyat Palestina Ramaikan Medsos dengan Tagar ‘Kami Semua Anakmu’ untuk Dukung Syaikh Hasan Yusuf
Penjajah Zionis Minta Inggris Ilegalkan Hamas dan Gerakan BDS »