Penyelidik PBB Laporkan Kemungkinan Kejahatan Perang Baru di Myanmar

7 July 2019, 22:46.
Warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh pada 2017. Foto: Hannah McKay/Reuters

Warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh pada 2017. Foto: Hannah McKay/Reuters

NEW YORK, Ahad (Al Jazeera): Pasukan keamanan dan pemberontak Myanmar melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga sipil di negara bagian barat yang bisa disamakan dengan kejahatan perang baru, kata seorang penyelidik PBB.

Lebih dari 730.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh setelah pembantaian yang dilakukan tentara Myanmar pada tahun 2017, yang menurut penyelidik PBB dilakukan dengan “tujuan genosida” dan meliputi pembunuhan massal, pemerkosaan massal serta pembakaran.

Pemerintah Myanmar membantah tuduhan itu dan mengatakan operasi militernya di seluruh Rakhine utara adalah balasan terhadap serangan oleh pemberontak Rohingya, Arakan Army, di Rakhine. Arakan Army adalah kelompok separatis yang berjuang untuk otonomi yang lebih besar bagi etnis Budha Rakhine.

Pada 22 Juni, otoritas memerintahkan perusahaan-perusahaan telekomunikasi untuk mematikan layanan internet di kedua negara. Telenor Group mengatakan, Kementerian Transportasi dan Komunikasi menyebut “gangguan terhadap perdamaian dan penggunaan aktivitas internet untuk mengoordinasikan kegiatan ilegal” sebagai dalih keputusan tersebut.

Yanghee Lee, pelapor khusus PBB untuk Myanmar, mengatakan pekan lalu bahwa militer kemungkinan melakukan pelanggaran HAM berat di balik pemadaman telepon seluler.

Lee mengatakan, pemadaman itu membahayakan penduduk desa, menghalangi bantuan dan melindungi militer.

“Konflik dengan Arakan Army di negara bagian Rakhine utara dan di bagian dari negara bagian Chin selatan berlanjut selama beberapa bulan terakhir dan dampaknya menghancurkan warga sipil,” kata Lee.

Lee menjelaskan, “Banyak tindakan dari Tatmadaw (tentara Myanmar) dan Arakan Army yang melanggar hukum kemanusiaan internasional dan dapat dianggap sebagai kejahatan perang, serta melanggar hak asasi manusia.”

Arakan Army dilaporkan telah menculik warga sipil, termasuk 12 pekerja konstruksi di Paletwa dan 52 penduduk desa di dekat perbatasan Bangladesh, kata Lee kepada Dewan HAM PBB di Jenewa.

Lee mengutip laporan warga sipil –sebagian besar lelaki etnis Rakhine– yang ditahan dan diinterogasi oleh militer karena diduga memiliki hubungan dengan Arakan Army dan mengatakan beberapa orang tewas dalam tahanan. Pada bulan April, sebuah helikopter militer menembaki sejumlah pria dan anak laki-laki Rohingya yang sedang mengumpulkan bambu. Sekitar 35.000 orang telah melarikan diri dari kekerasan tahun ini, pungkas Lee.* (Al Jazeera | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Aktivis HAM: China Lakukan Segala Cara untuk Hapus ‘Identitas’ Uighur
Ingin Bebas? Tawanan Harus Beri Uang Suap pada Rezim Assad »