Ingin Bebas? Tawanan Harus Beri Uang Suap pada Rezim Assad

8 July 2019, 22:21.
Para pengunjuk rasa di Suriah menuntut keadilan bagi para tawanan yang disiksa dan dibunuh di penjara-penjara Assad. Foto: Twitter

Para pengunjuk rasa di Suriah menuntut keadilan bagi para tawanan yang disiksa dan dibunuh di penjara-penjara Assad. Foto: Twitter

LONDON, Senin (Middle East Monitor): Selain mengalami penyiksaan, banyak tawanan di penjara-penjara Suriah menjadi korban pemerasan untuk ditukar dengan kebebasan mereka, ungkap eks-tawanan, sebagaimana dikutip MEMO dari Anadolu Agency.

“Keluarga saya membayar uang suap sebesar 500.000 lira Suriah (sekitar 10.000 dolar) kepada salah seorang anggota keluarga Assad demi pembebasan saya,” kata Um Hisam (50) kepada Anadolu Agency dalam sebuah wawancara.

Mengingat kembali penyiksaan yang tidak manusiawi dan kekejaman yang dia alami selama dipenjara di berbagai pusat tahanan di Aleppo, Damaskus, Homs dan Idlib, Hisam mengatakan ia menderita serangan jantung karena tidak tahan dengan penyiksaan yang berat. Ia dituduh mendukung oposisi militer Suriah.

“Ada kecoak di roti yang mereka berikan kepada para tawanan. Berat badan saya turun 17 pon (7,7 kg) dalam empat bulan,” katanya.

Ditahan di perbatasan

Um Hisam terpaksa mengungsi di Turki bersama istri dan anak-anaknya pada September 2011 dikarenakan perang sipil di Suriah, yang terjadi beberapa bulan sebelumnya.

Ketika ia kembali ke Suriah untuk mengambil dokumen yang diperlukan untuk mendaftarkan anak-anaknya di sekolah-sekolah Turki, dia ditahan oleh pasukan rezim di pintu perbatasan di Idlib.

Setahun setelah pembebasannya, ia kembali ke Turki untuk tinggal bersama keluarganya.

Krisis kemanusiaan di Suriah

Konflik yang menghancurkan di Suriah berlangsung sejak awal 2011, ketika rezim Assad menindak keras demonstran dengan tingkat kekejaman yang tak terbayangkan.

Menurut PBB, sejak saat itu ratusan ribu orang telah terbunuh dan lebih dari 10 juta orang mengungsi, sementara para wanita dan anak-anak terus menanggung beban dari konflik.

Menurut lembaga non-pemerintah, International Conscience Movement, lebih dari 13.500 wanita telah dipenjara sejak konflik Suriah dimulai, sementara lebih dari 7.000 wanita masih ditahan, di mana mereka menjadi sasaran penyiksaan, pemerkosaan dan kekerasan seksual.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Penyelidik PBB Laporkan Kemungkinan Kejahatan Perang Baru di Myanmar
Assad Ganti Kepala Keamanannya yang ‘Terlibat Kejahatan Perang’ »