Assad Ganti Kepala Keamanannya yang ‘Terlibat Kejahatan Perang’

8 July 2019, 22:51.
Presiden Suriah Bashar Al-Assad di Sochi, Rusia, pada 21 November 2017. Foto: Kremlin Press Office/Anadolu Agency

Presiden Suriah Bashar Al-Assad di Sochi, Rusia, pada 21 November 2017. Foto: Kremlin Press Office/Anadolu Agency

LONDON, Senin (Middle East Monitor): Presiden Suriah Bashar Al-Assad mengganti sejumlah kepala keamanan utama di sektor keamanan negara dan intelijen militer dalam perombakan aparat keamanan yang tak terduga, kemarin (7/7).

Mereka yang diganti terdiri dari tokoh-tokoh besar yang menjadi terkenal karena kebrutalan mereka terhadap pihak oposisi dan kejahatan perang yang mereka lakukan dalam konflik Suriah, termasuk Jamil Hassan yang mengepalai Direktorat Intelijen Angkatan Udara Suriah sejak 2009. Hassan digantikan oleh Mayor Jenderal Ghassan Ismail, yang merupakan wakilnya.

Hassan merupakan salah satu perwira paling terkemuka di militer rezim Suriah dan dijuluki “bapak gentong” karena reputasinya melakukan penyerangan besar-besaran dengan bom gentong di daerah-daerah yang dikuasai oposisi. Dia adalah salah satu dari 13 komandan dan pejabat penjara Suriah yang diklaim Amerika Serikat beberapa tahun lalu bertanggung jawab atas serangan terhadap daerah pemukiman dan infrastruktur sipil, serta tindakan penyiksaan. Dalam pernyataan tertulis, Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa Hassan “terkenal karena keterlibatannya dalam penggunaan penyiksaan ekstensif di pusat-pusat penahanan Suriah.”

Selain itu, AS dan Uni Eropa (UE) menjatuhkan sanksi kepada Hassan karena perannya dalam konflik. Pada Juni tahun lalu, Jerman mengeluarkan surat perintah penangkapan sang jenderal karena melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan setelah pengaduan diajukan oleh Muhajirin Suriah yang tinggal di negara itu.

Tidak ada alasan khusus yang disebutkan mengenai perombakan aparat keamanan Al-Assad dan penggantian tokoh-tokoh terkemuka itu. Laporan itu didapat dari organisasi berita yang dekat dengan rezim karena rezim sendiri jarang mengeluarkan pembaruan resmi mengenai perubahan dalam posisi pejabat militer dan intelijen.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Ingin Bebas? Tawanan Harus Beri Uang Suap pada Rezim Assad
Tempat Penampungan Pengungsi Rohingya di Bangladesh Rusak Karena Banjir »