Tim Baru OPCW Akan Selidiki 9 Serangan Senjata Kimia di Suriah

12 July 2019, 21:04.
Sejumlah anggota organisasi pertahanan sipil Suriah, White Helmets, memprotes pembantaian dengan senjata kimia yang terjadi di wilayah Ghouta Timur, Suriah, pada 22 Agustus 2017. Foto: Amer Almohibany/Anadolu Agency

Sejumlah anggota organisasi pertahanan sipil Suriah, White Helmets, memprotes pembantaian dengan senjata kimia yang terjadi di wilayah Ghouta Timur, Suriah, pada 22 Agustus 2017. Foto: Amer Almohibany/Anadolu Agency

LONDON, Jum’at (Middle East Monitor): Tim baru yang dibentuk oleh lembaga pengawas senjata kimia global, OPCW, akan menyelidiki sembilan serangan yang diduga menggunakan amunisi terlarang selama perang sipil di Suriah, termasuk di kota Douma, ungkap sejumlah sumber kepada Reuters.

Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) didirikan pada tahun 1997 sebagai lembaga teknis yang menegakkan perjanjian non-proliferasi global. Hingga kini OPCW hanya diizinkan untuk menyatakan apakah serangan kimia itu terjadi, bukan siapa yang melakukannya.

Juni lalu, Tim Investigasi dan Identifikasi (IIT) dibentuk oleh negara-negara anggota OPCW selama sidang khusus, sebuah langkah yang membawa perpecahan politik yang lebih dalam ke lembaga yang didukung PBB itu. Sekarang tim tersebut mengidentifikasi lokasi investigasi pertama yang akan dilakukan dalam tiga tahun.

Menurut Reuters, dokumen yang tersebar di antara negara anggota OPCW menjelaskan, tim investigasi itu telah mengidentifikasi sejumlah insiden dan bermaksud fokus menyelidiki insiden yang terjadi antara 2014 dan 2018.

Usulan membentuk tim 10 anggota yang dipimpin Inggris itu didukung oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa, namun ditentang oleh Rusia, Iran, Suriah dan sekutu mereka.

Kepala OPCW Fernando Arias mengatakan, Suriah menolak menerbitkan visa untuk para anggota tim yang akan pergi ke Suriah untuk melakukan penyelidikan. Rezim Assad juga menolak memberikan dokumentasi yang diperlukan.

Ada laporan tentang puluhan korban tewas pada tanggal 7 April 2018, setelah serangan di Douma, yang pada saat itu dikuasai oleh pemberontak, namun dikepung oleh pasukan pro-pemerintah.

Pemerintah Presiden Suriah Bashar Al-Assad dan pendukung militernya, Rusia, menyangkal menggunakan senjata kimia dan menuduh kelompok pemberontak yang melakukan serangan untuk “memfitnah” pasukan Suriah.

Sarin, Klorin

Suriah yang bergabung dengan Konvensi Senjata Kimia pada 2013 setuju untuk membuka diri terhadap inspeksi OPCW. Sebagai bagian dari kesepakatan yang ditengahi Rusia itu, Damaskus berjanji untuk sepenuhnya menghancurkan senjata kimianya. Akan tetapi, serangan dengan amunisi terlarang selama perang sipil yang dimulai pada 2011 itu telah meluas dan sistematis.

Mekanisme Investigasi Bersama PBB-OPCW (JIM) menetapkan ada serangan senjata kimia, tetapi Rusia memveto resolusi untuk memperpanjang mandatnya melampaui November 2017.

JIM menyimpulkan dalam serangkaian laporan bahwa militer Suriah menggunakan sarin dan klorin sebagai senjata, sementara pemberontak Islamic State menggunakan gas mustard belerang di medan perang.

Tim baru di OPCW akan fokus di lokasi-lokasi serangan kimia di mana para pelaku belum diidentifikasi oleh JIM.

Selain Douma, tim tersebut akan menginvestigasi: dua serangan di Al-Tamanah, di wilayah barat laut Idlib, pada 2014; satu di Kafr-Zita, Hama utara, juga pada 2014; satu di Marea, Aleppo utara, pada 2015; tiga serangan di Ltamenah, juga di Hama, pada 2017; dan satu di Saraqib, Idlib, pada 2018.

OPCW menyimpulkan dalam laporan 1 Maret bahwa serangan senjata kimia yang terjadi di Douma, kemungkinan besar menggunakan klorin.

Sejak tahun ini, Suriah belum sepenuhnya mengungkapkan program senjata kimianya atau menjelaskan mengapa pihak pemeriksa terus menemukan jejak zat saraf terlarang atau tanda bahan kimia di berbagai lokasi.

Suriah mengakui –setelah lebih dari lima tahun– bahwa mereka melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan zat saraf yang tidak pernah mengaku memilikinya.

“Ini menambah bukti yang berkembang dari deklarasi palsu yang sengaja dibuat oleh Suriah, penghancuran bukti, dan kemungkinan bahwa Suriah terus memiliki zat kimia terlarang,” ungkap duta besar Kanada untuk OPCW, Sabine Nolke, kepada para delegasi yang menghadiri pertemuan OPCW di Den Haag pekan ini.

“Terus memiliki bahan kimia tersebut semakin menguatkan tuduhan penggunaannya oleh rezim (Suriah),” katanya.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Gembong Zionis: ‘Konflik Kita dengan Seluruh Dunia Muslim, dengan Semua Dunia Arab’
Serangan Udara Intensif Tewaskan Puluhan Warga, Hancurkan Enam Fasilitas Sipil di Idlib »