Banjir Monsoon Mempersulit Kehidupan Warga Rohingya di Kamp Pengungsi

13 July 2019, 23:50.

Poster Donasi Banjir Rohingya (13 Juli 2019)

COX’S BAZAR, Sabtu (CNN): Ketika hujan monsoon menghantam Bangladesh tenggara pekan ini, Hafiz Ullah dan keluarganya meninggalkan rumah bambu dan terpal rapuh mereka untuk berlindung di sebuah sekolah terdekat.

Ketika mereka pergi, pengungsi Rohingya dari Myanmar itu kehilangan hampir semua milik mereka. “(Semua) barang-barang kami dicuri,” kata istri Ullah, Kawser. “Itu sebabnya saya harus hidup dalam kegelapan sekarang. Saya kehilangan lampu dan baterai.”

Beberapa barang milik keluarga yang terdiri dari enam orang itu selamat dari hujan, namun barang mereka yang paling penting –kulkas dan kompor– rusak.

“Kami tidak bisa memasak apa pun karena kompor saya rusak,” kata Hafiz. “Kami tidak punya makanan untuk dimakan sekarang, jadi kami tidak bisa memberikan apa pun kepada anak-anak kami dan mereka tidak bisa minum air atau pergi ke luar karena banjir.”

Bahkan sebelum banjir hebat pekan lalu, anak-anak mereka sudah sakit dan malnutrisi. “Anak-anak saya menderita demam, tapi kami tidak punya obat,” kata Kawser. “Kami hidup sangat sulit di sini.”

Hafiz dan keluarganya adalah satu di antara satu juta Muslim Rohingya yang tinggal di kamp-kamp pengungsi penuh sesak di Cox’s Bazar –sebagian besar dari mereka melarikan diri dari Myanmar ketika terjadi pembantaian oleh militer pada tahun 2017, yang menurut PBB dapat dianggap sebagai genosida. Tentu saja, Myanmar membantah klaim itu.

Kondisi genting

Banjir monsoon di Cox’s Bazar mengancam keberadaan para pengungsi yang mencari perlindungan di sana.

Ratusan rumah darurat telah roboh setelah tanah longsor terjadi di lereng bukit berlumpur di sekitar kamp. Sekitar 4.000 keluarga terkena dampaknya, banyak dari mereka telah dipindahkan ke tempat penampungan sementara.

Dua anak lelaki tenggelam akibat banjir dan sejumlah anak lainnya terluka, ungkap UNICEF.

Lembaga-lembaga bantuan melaporkan bahwa sekitar 60.000 anak di kamp tidak dapat bersekolah, setelah ratusan pusat pembelajaran terpaksa ditutup. Rute akses, pusat kesehatan dan titik distribusi bantuan juga telah rusak.

“Sangat sulit karena jalannya sangat berlumpur, orang-orang mengalami banyak kesulitan untuk mencapai titik-titik layanan dan untuk anak-anak pergi ke sekolah,” kata Berta Travieso, manajer kondisi darurat untuk UNICEF di Cox’s Bazar. “Sejumlah orang tinggal dalam kondisi sangat penuh sesak. Ini membuat hidup cukup sulit.”

Lembaga-lembaga bantuan meningkatkan upaya mereka untuk membantu para pengungsi dan mencegah penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air.

Menteri Luar Negeri Bangladesh Shahidul Haque menyatakan negaranya “telah mempersiapkan dengan matang, bersama dengan sistem PBB, untuk menghadapi segala kemungkinan.” Ia menambahkan bahwa Perdana Menteri Sheikh Hasina “selalu memerhatikan Rohingya dengan baik.”

Untuk saat ini, banjir terburuk telah surut –namun banjir besar lainnya diperkirakan terjadi pada pekan berikutnya dan musim hujan akan berlangsung hingga Oktober.

Ketika hujan sementara mereda, Hafiz Ullah menyatakan prioritasnya adalah memperbaiki tempat penampungan sementara keluarganya sehingga mereka dapat kembali ke rumah.

Akan tetapi, tiang bambu dan kerangka terpal, yang diikat dengan tali, tampaknya tidak bisa tahan dengan terjangan hujan deras.

“Kami hidup dengan krisis,” katanya. “Kami kehilangan segalanya, tapi lantas kenapa? Setidaknya kami masih hidup.”* (CNN | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Ketika Pria Palestina Ini Tak Lagi Jadi Tersangka, Media Zionis Kehilangan Minat Beritakan Kasusnya
Ada 100+ Pecahan Peluru di Otak Bocah Palestina yang Ditembak Serdadu Zionis di Tepi Barat »