Kelaparan, Muhajirin Mulai Tinggalkan Kamp Rukban Setelah Lima Bulan Diblokade Rusia

1 August 2019, 22:22.
Foto: Syrian Coalition’s Media Department

Foto: Syrian Coalition’s Media Department

AMMAN, Kamis (Reuters): Populasi kamp Rukban di wilayah padang pasir di Suriah tenggara telah berkurang seperempat dari lebih dari 40.000 yang tinggal di sana lima bulan lalu dikarenakan tindakan Rusia memblokir pasokan, ungkap pekerja bantuan Suriah, diplomat dan warga.

Warga yang tinggal di dekat pangkalan yang dikelola Pentagon dekat perbatasan Yordania dan Irak itu menyoroti pergumulan pengaruh di wilayah tersebut antara Rusia dan Amerika Serikat.

Ini juga mengungkap strategi yang sama –dari bertahun-tahun blokade yang diberlakukan terhadap bekas benteng pertahanan oposisi oleh Moskow dan pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad– untuk memaksa pemberontak menyerah.

Penduduk kamp –yang sebagian besar melarikan diri dari serangan udara Rusia ketika Moskow menghantam kota-kota di gurun Homs timur beberapa tahun yang lalu– mengatakan bahwa kelaparan dan kemiskinan yang meningkat akibat pemblokiran pasokan makanan telah memaksa sebagian besar warga untuk pergi.

“Situasinya sangat, sangat buruk dan pasokan makanan tidak tersedia,” kata Mahmoud al-Humeili, seorang tokoh lokal terkemuka di kamp.

Moskow mengatakan Washington menyediakan tempat berlindung yang aman bagi para pemberontak di zona dekonflik 55 km yang ditetapkan oleh Pentagon terlarang bagi pasukan Suriah atau pasukan lainnya.

Pasukan Rusia dan Suriah telah mengepung daerah itu, menghalangi para penyelundup dan pedagang mengirimkan makanan ke kamp.

Rusia mendirikan “koridor kemanusiaan”, yang katanya akan memungkinkan Muhajirin untuk pulang. Para lelaki yang tinggal di kamp mengatakan, jika mereka pergi maka mereka akan menghadapi wajib militer atau lebih buruk.

“Ribuan pengungsi internal kini melarikan diri dari Rukban karena putus asa, mengambil risiko ditangkap oleh pasukan rezim,” lapor Etana, sebuah kelompok penelitian kebijakan Suriah yang berbasis di Amman, yang mengumpulkan informasi dari sumber-sumber sipil dan militer.

Kelompok itu memperkirakan bahwa sejak 23 Juli hanya ada sekitar 11.000 orang di kamp. Padahal, PBB memperkirakan ada sekitar 41.000 orang di kamp Rukban pada bulan Februari.

Washington ingin mempertahankan pijakan yang strategis di daerah yang dekat dengan rute pasokan penting untuk senjata Iran yang memasuki Suriah dari Irak. Menurut sumber intelijen regional, milisi yang didukung Iran bercokol di daerah gurun yang luas di sekitar zona itu.

“Kondisi saat ini adalah yang terburuk dalam sejarah kamp karena rezim Suriah dan sekutunya, Rusia, terus menerapkan strategi kelaparan atau menyerah untuk memaksa penduduk kamp pergi,” ungkap Etana.

Penduduk kamp mengatakan Washington telah meninggalkan mereka, dan juga menuding Yordania dan PBB tidak berbuat cukup untuk melindungi mereka.

“Jika kita memberi makan mereka, itu akan kelihatan seperti kita akan berada di sana selamanya,” kata James Jeffrey, perwakilan khusus AS untuk Suriah, kepada Washington Post pada 19 Juli. “Kita tidak bisa berkomitmen perihal kehadiran jangka panjang di al-Tanf atau di tempat lain di Suriah.”

Muhajirin mengatakan, setidaknya 6.000 hingga 7.000 orang akan tetap tinggal di kamp Rukban karena mereka menghadapi masa depan yang tidak pasti di tangan otoritas Suriah jika mereka kembali ke daerah-daerah yang dikontrol pemerintah.

“Kami akan tetap tinggal di sini sampai nafas terakhir karena kami takut apa yang menanti kami jika kami kembali ke rezim,” kata Shukri Shehab, seorang petugas kamp setempat.

Banyak dari mereka yang tetap bertahan lebih memilih dievakuasi ke daerah kantong oposisi terakhir di Suriah barat laut.

OCHA, lembaga kemanusiaan PBB –yang mengelak mengatakan siapa yang bertanggung jawab atas kondisi kemanusiaan warga kamp yang semakin memburuk– mengatakan makanan telah menjadi langka sehingga harganya sangat tinggi.

OCHA menyatakan sedang berusaha mendapatkan persetujuan dari Damaskus untuk mengirim bantuan bagi mereka yang masih berada di kamp Rukban.* (Reuters | Sahabat Al-Aqsha)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pemukim Ilegal Yahudi Bikin Al-Khalil ‘Bagaikan Neraka’ bagi Warga Palestina
Manufaktur Muhajirin Suriah di Turki Hidupkan Industri Garmen Anak-anak »