Tiada Telepon, Tiada Makanan: Derita Kashmir dalam Kepungan

8 August 2019, 20:27.
Foto: AP

Foto: AP

SRINAGAR, Kamis (AP News): Puluhan ribu tentara pemerintah berpatroli di daerah Kashmir yang dikuasai India. Jalan-jalan yang biasanya penuh dengan toko kini sunyi senyap, dikelilingi barikade baja dan kawat berduri. Keheningan mencekam sesekali terpecahkan oleh suara tank-tank bersenjata atau suara gagak berkoak-koak.

Pengepungan dan pemblokiran jalur komunikasi yang kini memasuki hari keempat, memaksa kantor-kantor berita untuk membawa langsung hasil liputan ke luar wilayah Kashmir karena tidak bisa dikirim melalui Internet atau telepon.

Kehidupan jutaan orang di satu-satunya wilayah yang mayoritas penduduknya Muslim di India ini sedang ditekan amat keras — terutama sejak peristiwa ricuh yang diakibatkan keputusan New Delhi untuk mencabut status istimewa Jammu dan Kashmir, serta penurunan status Himalaya dari negara bagian menjadi wilayah. Kashmir selama ini diklaim oleh India dan Pakistan, sementara segelintir kelompok telah berperang melawan pemerintahan India selama beberapa dekade.

Di pusat Srinagar, kota utama kawasan tersebut, hanya terlihat beberapa pejalan kaki yang berusaha melewati pos-pos pengawasan dan kawat-kawat berduri di depan rumah mereka. Para penjaga pos pengawasan menggunakan helm, senapan, dan perisai pelindung. Pusat perbelanjaan, toko kelontong, bahkan klinik ditutup.

Dalam pengepungan beberapa waktu lalu, beberapa toko dibuka selama beberapa jam agar orang-orang bisa membeli kebutuhan dasar, seperti susu, makanan pokok, dan makanan bayi. Akan tetapi, dalam pengepungan kali ini, belum diketahui apakah toko-toko bisa dibuka.

Pemadaman komunikasi, termasuk matinya sambungan telepon rumah, ponsel, dan Internet, mengakibatkan orang-orang di Kashmir tidak dapat saling menelepon atau berbicara dengan kawan dan kerabat di luar kawasan. Mereka hanya mengandalkan TV kabel yang terbatas dan laporan radio lokal.

Di rumah sakit Shri Maharaja Hari Singh di Srinagar, para dokter mengatakan kepada The Associated Press pada hari Kamis bahwa setidaknya 50 orang telah datang dengan luka-luka dari senjata pelet dan peluru karet. Senjata pelet adalah tembakan yang dapat mengeluarkan ribuan peluru kecil dalam satu kali tembakan. Jenis senjata ini sering digunakan tentara India untuk membubarkan demonstrasi.

Kemarahan dan pergolakan dari penduduk Kashmir kepada pemerintah India bukanlah hal baru. Akarnya terletak pada janji yang tidak ditepati dari referendum yang dijaminkan oleh PBB setelah India dan Pakistan memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1947. Kedua tetangga yang saling memiliki senjata nuklir ini belum berhasil menyelesaikan persoalan klaim mereka terhadap wilayah pegunungan di antara mereka.

Di sisi India, beberapa gerakan separatis telah terjadi sejak lama, termasuk pemberontakan berdarah yang dimulai pada 1989 untuk menuntut kemerdekaan atau bergabung dengan Pakistan. Sejak itu, lebih dari 70.000 orang telah terbunuh dalam penumpasan pemberontakan yang dilakukan oleh militer secara brutal. * (AP News | Sahabat Al-Aqsha)

Foto: AP

Foto: AP

Foto: AP

Foto: AP

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Hamas Kecam PBB Karena Abaikan Pelanggaran ‘Israel’ terhadap Anak-anak Palestina
Perihal Pencaplokan Kashmir, India Tiru Penjajah Zionis ‘Israel’ »