Diplomat Druze Dipermalukan Petugas Bandara ‘Israel’: ‘Kalian Membuat Saya Muak’

10 August 2019, 13:53.
Foto: Twitter

Foto: Twitter

LONDON, Sabtu (Middle East Monitor): Duta Besar ‘Israel’ untuk Panama mengecam Bandara Ben Gurion karena tindakan rasial yang mempermalukan ia dan keluarganya setelah mereka diketahui merupakan kaum minoritas Druze.

Reda Mansour adalah seorang diplomat ‘Israel’ dari Isfiya, sebuah desa Druze yang terletak di Gunung Carmel, selatan Haifa, yang bertugas sebagai duta besar ‘Israel’ untuk Panama sejak tahun 2018. Ada sekitar 143.000 Druze di wilayah Palestina terjajah 1948 yang kini disebut ‘Israel’ itu, yang diakui sebagai komunitas etno-religius dan tinggal terutama di bagian utara, khususnya sekitar Haifa dan di Dataran Tinggi Golan.

Pekan ini Mansour terbang ke Panama ketika ia dicegat oleh otoritas bandara ‘Israel’, yang kemudian memeriksa ia dan keluarganya. Mansour menyatakan, saat ia berkendara ke pintu masuk bandara, seorang penjaga keamanan menanyakan nama kota asalnya. Setelah menjawab, ia diminta untuk minggir. Mansour, istri dan dua putrinya diminta untuk menyerahkan paspor mereka dan mengidentifikasi diri mereka.

Mansour menumpahkan kemarahannya mengenai insiden tersebut di Facebook: “Sepanjang malam, saya berpikir di dalam pesawat: Persetan Bandara Ben-Gurion. Tiga puluh tahun penghinaan dan kalian masih belum selesai. Di masa lalu, kalian akan memukul kami di terminal, sekarang kalian memperlakukan kami sebagai tersangka di pos pemeriksaan, di pintu masuk.”

Mansour juga menunjukkan kemunafikan penjajah Zionis dalam memperlakukan Druze sebagai tersangka, meski telah memberikan sejarah panjang kesetiaan mereka kepada ‘Israel’ dan menyelesaikan wajib militer: “Isfiya bukanlah kota di wilayah (Palestina terjajah), tapi tempat bagi kuburan militer utama untuk tentara Druze yang gugur dan meninggal dunia selama mereka berdinas di (militer ‘Israel’).”

“Saya sarankan kalian membawa penjaga keamanan kalian dan mereka yang bertanggung jawab atas pelatihan mereka untuk mengunjungi pemakaman ini dan mengajarkan mereka tentang pengorbanan diri dan rasa hormat. Sampai saat itu tiba, hanya ini yang ingin saya sampaikan pada kalian: Kalian membuat saya muak,” tulis Mansour.

Juru bicara Otoritas Bandara ‘Israel’ mengeluarkan apa yang Times of Israel gambarkan sebagai “respons tajam”, yang menekankan bahwa pemeriksaan keamanan dilakukan “tanpa memandang agama, ras atau jenis kelamin” dan malah menyindir “ketika Anda bertemu lebih dari 25 juta wisatawan setiap tahun, akan ada beberapa orang yang memilih untuk dihina karena pertemuan mereka dengan penjaga keamanan yang hanya melakukan pekerjaannya.”

Tokoh-tokoh oposisi menyebut insiden itu sebagai perlakuan penjajah Zionis yang biasa dialami oleh minoritas, entah Druze atau warga Palestina.

Pemimpin baru dari partai sayap kiri Meretz, Nitzan Horowitz, menekankan dalam sebuah pernyataan bahwa “Duta Besar Mansour tidak sendirian. Rezim Netanyahu memberi label warga kelas pertama dan kelas kedua.”

Pernyataan Horowitz menggemakan kritik yang sering diungkapkan oleh Druze dan warga Palestina, khususnya setelah UU Negara-Bangsa disahkan Juli lalu. Undang-undang itu menyatakan ‘Israel’ “rumah nasional bagi kaum Yahudi” di mana “hak untuk menentukan nasib bangsa sendiri (…) adalah unik bagi kaum Yahudi”, yang secara efektif mendeklarasikan warga negara kelas dua bagi minoritas non-Yahudi.

Para pemimpin komunitas Druze memimpin protes terhadap UU itu, menyebutnya “menusuk dari belakang dan pengkhianatan terhadap pengorbanan yang dilakukan oleh Druze”. Terlepas dari upaya Netanyahu untuk menenangkan Druze dengan UU baru yang mengakui “kontribusi” mereka terhadap ‘Israel’, protes terus berlanjut sepanjang musim panas, dengan puluhan ribu demonstran turun ke jalan-jalan di Tel Aviv untuk mengekspresikan solidaritas mereka dengan komunitas tersebut.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Perihal Pencaplokan Kashmir, India Tiru Penjajah Zionis ‘Israel’
PBB Kecam Penjualan Senjata Penjajah Zionis ke Myanmar dalam Laporan Genosida Rohingya »