PBB Kecam Penjualan Senjata Penjajah Zionis ke Myanmar dalam Laporan Genosida Rohingya

10 August 2019, 20:17.
Panglima Tertinggi militer Myanmar Min Aung Hlaing, bertemu dengan Kepala IDF. Foto: Arsip Middle East Monitor

Panglima Tertinggi Militer Myanmar Min Aung Hlaing, bertemu dengan Kepala IDF. Foto: Arsip Middle East Monitor

LONDON, Sabtu (Middle East Monitor): Penjualan senjata ‘Israel’ ke Myanmar dikritik PBB dalam sebuah laporan yang meminta komunitas internasional untuk menjatuhkan sanksi dan embargo senjata kepada negara Asia Tenggara itu. Laporan PBB itu mengungkap bahwa perusahaan-perusahaan Myanmar mendanai “operasi brutal” di desa-desa di negara bagian Rakhine yang diserbu oleh para tentara; ribuan orang dibantai, banyak yang dibakar hidup-hidup di rumah mereka, serta wanita dan anak-anak diperkosa.

Dalam laporan yang disampaikan di sidang ke-39 Dewan Hak Asasi Manusia, Misi Pencari Fakta Internasional Independen tentang Myanmar menemukan “pola konsisten pelanggaran hak asasi manusia berat dan penganiayaan.” Selain pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan internasional, PBB “menyimpulkan bahwa banyak dari pelanggaran itu adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan termasuk pembunuhan; hukuman penjara; penghilangan paksa; penyiksaan; pemerkosaan, perbudakan seksual dan bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya; persekusi dan perbudakan.”

Tim yang menyusun laporan itu fokus pada kepentingan ekonomi militer Myanmar dan cara-cara untuk menghukum para perwiranya atas kejahatan yang menurut PBB sama dengan genosida.

Misi Pencari Fakta mengidentifikasi sejumlah perusahaan dari berbagai negara, termasuk penjajah Zionis, yang memasok senjata kepada militer Myanmar. ‘Israel’ dikatakan telah mengekspor senjata ke Myanmar sebelum Mahkamah Agung melarang praktik ini pada 2017.

Akan tetapi, perusahaan-perusahaan ‘Israel’ menyambut delegasi dari militer Myanmar ke pameran senjata di Tel Aviv bulan lalu. Menanggapi pertanyaan dari media ‘Israel’, Haaretz, tentang mengapa perusahaan-perusahaan ‘Israel’ menunjukkan peralatan (senjata) itu kepada perwakilan Myanmar padahal mereka tidak diizinkan untuk menjual senjata ke negara itu, para perwakilan penjualan di sejumlah stan mengaku tidak mengetahui larangan semacam itu.

Laporan PBB mencatat bahwa pada bulan April 2017, ketika operasi militer genosida terhadap Muslim Rohingya menjadi perhatian dunia, Israel Aerospace Industries –sebuah perusahaan milik penjajah Zionis– mengirimkan dua kapal serang cepat kepada Angkatan Laut Myanmar. Hal ini diikuti dengan pengajuan petisi ke Mahkamah Agung ‘Israel’ pada awal 2017 yang menuntut larangan atas penerapan perjanjian kerja sama pertahanan yang ditandatangani antara ‘Israel’ dan Myanmar karena tindakan militer di Rakhine utara pada Oktober 2016.

Perusahaan-perusahaan manufaktur senjata ‘Israel’ milik pribadi juga telah menjual senjata dan memberikan pelatihan militer kepada Myanmar. “’Israel’, khususnya, mengizinkan transfer senjata yang dilindungi oleh ATT (Perjanjian Perdagangan Senjata),” kata Misi PBB, “pada waktu yang sama ketika ‘Israel’ telah mengetahui, atau seharusnya mengetahui, bahwa itu (senjata) akan digunakan untuk kejahatan berat berdasarkan hukum internasional.”

Mengecam penjualan senjata ke Myanmar, laporan itu menyatakan bahwa ‘Israel’, bersama dengan Republik Rakyat Demokratik Korea, Rusia, dan Ukraina, seharusnya tidak mengizinkan penjualan senjata ketika pengetahuan tentang pembunuhan di Myanmar “tersebar luas”. Tim juga menemukan bahwa militer Myanmar telah berusaha untuk mendapatkan peralatan (senjata) dari perusahaan-perusahaan di Inggris, Austria, Jepang dan Kanada, meskipun tidak dapat mengonfirmasi apakah kesepakatan itu berjalan terus. Kesimpulannya, Misi Pencari Fakta meminta Dewan Keamanan PBB untuk memberlakukan embargo senjata terhadap Myanmar.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Diplomat Druze Dipermalukan Petugas Bandara ‘Israel’: ‘Kalian Membuat Saya Muak’
Idul Adha, Serdadu Zionis Serang Jamaah yang Protes Kehadiran Pemukim Ilegal Yahudi di Masjidil Aqsha »