Toilet, Pompa Air Rusak Sulitkan Kehidupan Warga Rohingya di Kamp Pengungsi

15 August 2019, 23:21.
Pompa air dan salah satu toilet donasi dari ACF di Balukhali 2, Cox’s Bazar, Bangladesh. Foto: VOR

Pompa air dan salah satu toilet donasi dari ACF di Balukhali 2, Cox’s Bazar, Bangladesh. Foto: VOR

COX’S BAZAR, Kamis (Rohingya Vision): Kurangnya perawatan dan perbaikan pada fasilitas umum, seperti toilet dan pompa air di kamp pengungsi Rohingya, semakin menambah kesulitan yang mereka alami setiap hari di kamp-kamp di Cox’s Bazar, Bangladesh.

Sebagai contoh, lima toilet dan satu pompa air (air layak minum) di Blok B-2, Balukhali 2, yang merupakan donasi dari ACF digunakan bersama oleh para pengungsi di tiga blok. Bahkan tidak sedikit pula pengungsi dari blok yang sangat jauh datang untuk mendapatkan air bersih layak minum.

Sejak tiga bulan terakhir, semua kakus sudah penuh bahkan kotorannya sampai meluap keluar di sekitar area pejalan kaki karena minimnya perawatan fasilitas tersebut. Akibatnya, mustahil bagi warga berjalan di sekitar area itu dikarenakan baunya yang sangat menyengat.

Pompa-pompa air di sana pun mengalami hal serupa. Banyak yang rusak dan patah karena tidak adanya perbaikan. Padahal pompa-pompa air tersebut sering digunakan. Karena itu adalah satu-satunya cara bagi para pengungsi bisa mendapatkan air bersih, beberapa pompa air yang bocor mereka tutup dengan karung semen dan entah bagaimana pompa tersebut bisa kembali digunakan untuk sementara waktu.

Sejak 2016, sebanyak 1,3 juta pengungsi Rohingya berjuang memenuhi kebutuhan mereka, setelah melarikan diri dari operasi genosida yang dilakukan militer Myanmar.* (Rohingya Vision | Sahabat Al-Aqsha)

Foto: VOR

Foto: VOR

Foto: VOR

Foto: VOR

Foto: VOR

Foto: VOR

Foto: VOR

Foto: VOR

Foto: VOR

Foto: VOR

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Wabah Demam Berdarah Landa Kamp Pengungsi Rohingya di Bangladesh
BROUK: ‘Jangan Berbisnis dengan Genosida’ »