124.000 Muhajirin di Idlib Melarikan Diri dari Serangan Rezim ke Perbatasan Turki

18 August 2019, 11:40.
Ribuan warga sipil yang terjebak dalam serangan rezim Assad yang didukung Rusia di Idlib meninggalkan rumah mereka menuju kamp di Atmeh, Deir Hassan dan Kafr Lusin di utara Idlib, yang terletak di sepanjang perbatasan Suriah-Turki. Foto: Daily Sabah

Ribuan warga sipil yang terjebak dalam serangan rezim Assad yang didukung Rusia di Idlib meninggalkan rumah mereka menuju kamp di Atmeh, Deir Hassan dan Kafr Lusin di utara Idlib, yang terletak di sepanjang perbatasan Suriah-Turki. Foto: Daily Sabah

ANKARA, Ahad (Daily Sabah): Serangan oleh rezim Bashar Assad dan Rusia di Idlib, Suriah barat laut, berlanjut selama Idul Adha sehingga mengakibatkan sekitar 124.000 warga sipil melarikan diri ke kamp-kamp di sepanjang perbatasan Turki-Suriah.

Pasukan rezim Suriah merebut lima desa di barat laut negara itu pada Rabu pagi, melaju semakin dekat ke kota utama yang dikuasai oposisi, Khan Sheikhoun, yang merupakan tempat serangan senjata kimia mematikan pada 2017 sehingga memaksa ribuan orang meninggalkan rumah mereka ke daerah yang lebih aman di utara, sebagaimana diungkapkan aktivis oposisi dan media pemerintah.

Menurut Mohamed Hallaj, direktur organisasi non-pemerintah Coordinators of Interventions in Syria, sekitar 124.000 warga sipil mengungsi akibat serangan pada Idul Adha dan bahwa warga sipil tersebut merupakan 19.231 keluarga yang melarikan diri ke kamp Atmah, Kah, Deir Hassan dan Kafr Lusin di dalam perbatasan Suriah di seberang distrik Reyhanli, Hatay.

Zona de-eskalasi itu saat ini dihuni oleh sekitar empat juta warga sipil, termasuk ratusan ribu orang yang mengungsi karena pasukan rezim dari kota-kota di seluruh negara yang sedang dilanda perang itu dalam beberapa tahun terakhir. Hallaj menggarisbawahi bahwa ancaman pendudukan di Khan Sheikhun dan daerah sekitarnya juga berpengaruh dalam pergerakan migrasi.

Ia menyatakan bahwa sekitar 22.000 warga sipil harus bermigrasi dari Khan Sheikhun, 18.000 orang dari pemukiman ke bagian timur, sekitar 32.000 dari desa Abu Makka dan Um Jalal, sebanyak 15.000 dari Kafranbil dan sekitarnya, sekitar 7.000 dari Tuh dan daerah sekitarnya, 13.000 dari Keferruma dan sekitar 10.000 dari Maarat al-Numan. Menegaskan bahwa kamp-kamp tersebut membutuhkan lebih banyak bantuan, Hallaj memperingatkan bahwa jika serangan menyebar ke provinsi Seraqib dan Maarat al-Numan maka jumlah pengungsi mungkin mencapai satu juta.

Meskipun Damaskus menyatakan gencatan senjata di zona de-eskalasi Idlib ketika Turki, Rusia dan Iran –tiga penjamin proses perdamaian Astana– bertemu dalam pertemuan ke-13 yang diadakan di Nursultan, ibukota Kazakhstan, pada 1 Agustus untuk pembicaraan teknis sebelum pertemuan trilateral Astana, serangan masih berlangsung.

Sejak perjanjian Sochi ditandatangani tahun lalu, hampir 750.000 warga sipil mengungsi selama pelanggaran gencatan senjata itu. Response Coordination Group, sebuah kelompok bantuan yang aktif di Suriah barat laut, mengungkapkan pada Rabu bahwa lebih dari 40.000 orang telah meninggalkan rumah mereka di daerah-daerah yang dekat dengan pertempuran sejak Selasa pagi. Banyak dari mereka yang melarikan diri tinggal di jalan atau di ruang terbuka, dan meminta pemerintah setempat untuk membuka sekolah umum untuk menampung para pengungsi.

Pertemuan pertama proses perdamaian Astana diselenggarakan di Turki pada Januari 2017. Tujuannya, membawa semua pihak yang sedang berperang dalam konflik Suriah ke meja perundingan untuk memfasilitasi pembicaraan damai yang disponsori PBB di Jenewa. Pembicaraan Astana mendukung pembentukan komite konstitusi di Suriah yang didukung PBB sebagai bagian dari menemukan solusi politik.

Tahun lalu, perjanjian Sochi disepakati pada 17 September oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Menurut perjanjian tersebut, gencatan senjata di wilayah Idlib akan dijaga dengan penarikan senjata berat dari wilayah tersebut. Meskipun wilayah Idlib dinyatakan sebagai zona de-eskalasi, serangan oleh rezim Suriah dan Rusia terhadap benteng oposisi terakhir itu terus berlanjut tanpa henti sehingga mengakibatkan kematian dan pengungsian ratusan ribu orang.

Laporan PBB: Lebih dari 500 warga sipil tewas di Idlib

Laporan baru-baru ini oleh Kantor Wakil Koordinator PBB untuk Kemanusiaan Regional dan Krisis Suriah mengungkapkan bahwa lebih dari 500 kematian warga sipil telah secara resmi didokumentasikan oleh PBB di Idlib dan Hama utara selama tiga setengah bulan terakhir saja.

“Setiap hari pekerja kemanusiaan dan penyelamat mempertaruhkan nyawa mereka untuk membantu warga sipil yang terperangkap di daerah ini, termasuk para wanita dan anak-anak, orang sakit, lansia dan orang cacat. Mereka menggali agar orang-orang keluar dari bawah reruntuhan, bergegas membawa korban luka ke rumah sakit, memberikan pelayanan medis dan membantu mereka yang melarikan diri dari daerah itu. Akan tetapi, tidak ada daerah yang aman. Sebaliknya, mereka yang mempertaruhkan segalanya untuk membantu beberapa orang yang paling rentan di dunia adalah diri mereka yang kini sedang diserang.”

Sejak akhir April, ada setidaknya 42 serangan terhadap fasilitas pelayanan kesehatan, merusak 36 rumah sakit dan tujuh ambulans. Secara keseluruhan, sekitar 17 pekerja kesehatan dan pasien telah terbunuh.* (Daily Sabah | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« 15 Orang Termasuk Anak-anak Tewas dalam Serangan Udara Rezim Assad dan Rusia di Idlib
11 Orang Tewas dalam Serangan Rezim dan Rusia, Termasuk Ibu dan 6 Anaknya »