‘Hari Genosida’: Ribuan Pengungsi Rohingya Berunjuk Rasa di Kamp-kamp Bangladesh

25 August 2019, 23:31.
Para pengungsi Rohingya berkumpul untuk memperingati tahun kedua eksodus di kamp Kutupalong di Cox’s Bazar, Bangladesh. Foto: Rafiqur Rahman/Reuters

Para pengungsi Rohingya berkumpul untuk memperingati tahun kedua eksodus di kamp Kutupalong di Cox’s Bazar, Bangladesh. Foto: Rafiqur Rahman/Reuters

COX’S BAZAR, Ahad (Al Jazeera): Ribuan pengungsi Rohingya memperingati tahun kedua eksodus mereka ke Bangladesh dengan berkumpul dan berdoa bersama, serta menuntut Myanmar memberi mereka kewarganegaraan dan hak-hak lain sebelum mereka setuju untuk kembali.

Sekitar 200.000 warga Rohingya berpartisipasi dalam unjuk rasa damai, yang dihadiri oleh para pejabat PBB, di kamp Kutupalong di Cox’s Bazar, Bangladesh, pada Ahad (25/8), ungkap petugas polisi Zakir Hassan kepada kantor berita AFP.

Anak-anak, wanita-wanita yang mengenakan hijab, dan para pria yang mengenakan sarung meneriakkan: “Allahu Akbar, hidup Rohingya” ketika mereka berunjuk rasa di jantung kamp pengungsi terbesar di dunia untuk memperingati apa yang mereka sebut sebagai “Hari Genosida”.

Beberapa orang membawa plakat dan spanduk, bertuliskan “Jangan pernah terjadi lagi! Peringatan hari genosida Rohingya” dan “Kembalikan kewarganegaraan kami”.

Pada 25 Agustus 2017, sekitar 740.000 warga Rohingya yang mayoritas Muslim melarikan diri dari negara bagian Rakhine ke Bangladesh – bergabung dengan 200.000 orang yang telah berada di sana – setelah angkatan bersenjata Myanmar melancarkan pembantaian usai terjadinya serangan di pos-pos keamanan.

Unjuk rasa hari Ahad ini berlangsung setelah upaya kedua untuk memulangkan para pengungsi gagal karena tidak ada satu pun warga Rohingya yang melintasi perbatasan.

“Kami ingin memberi tahu dunia bahwa kami ingin hak kami kembali, kami menginginkan kewarganegaraan, kami ingin rumah dan tanah kami kembali,” kata Mohib Ullah, salah seorang penyelenggara demonstrasi kepada kantor berita Associated Press. “Myanmar adalah negara kami. Kami adalah Rohingya.”

“Saya datang ke sini untuk mencari keadilan atas pembunuhan kedua putra saya. Saya akan terus mencari keadilan sampai nafas terakhir saya,” ujar Tayaba Khatun (50) kepada AFP sambil menangis.

‘Masalah jangka panjang’

Hampir satu juta warga Rohingya tinggal di kamp-kamp kumuh di Bangladesh tenggara.

Wartawan Al Jazeera Stefani Dekker memberitakan dari kamp pengungsi Kutupalong: “Skala kamp ini tidak seperti yang pernah Anda lihat. Populasinya kira-kira sama dengan Islamabad atau Oslo.”

“Sebuah kota pengungsi, namun tanpa infrastruktur yang dibutuhkan untuk menanggulanginya,” tambahnya.

Rohingya, kaum minoritas yang sebagian besar Muslim, tidak diakui sebagai kelompok etnis di Myanmar, meskipun telah tinggal di sana selama beberapa generasi. Kewarganegaraan mereka ditolak dan dijadikan tak berkewarganegaraan.

Bangladesh dan Myanmar telah menandatangani kesepakatan pemulangan pada November 2017.  Rencananya, para pengungsi dikembalikan dalam dua tahun.

Bangladesh, dengan bantuan lembaga pengungsi PBB, berusaha memulai pemulangan 3.450 warga Rohingya pada hari Kamis untuk kali kedua setelah upaya terakhir pada November, tetapi tidak ada yang setuju untuk kembali secara sukarela.

“Mereka bertanya apakah kami ingin kembali ke Myanmar, saya bilang tidak. Mereka bertanya mengapa. Saya memberi tahu mereka bahwa rumah kami dibakar, anggota keluarga kami diperkosa dan dibunuh. Itulah sebabnya kami menderita dan datang ke sini. Bagaimana kami bisa kembali tanpa tahu bahwa kami akan aman?” kata Noor Hossain kepada Al Jazeera.

Pemimpin Rohingya Mohib Ullah mengatakan warga minoritas tanpa kewarganegaraan itu ingin kembali ke rumah, tetapi hanya setelah mereka diberi kewarganegaraan, keamanan mereka dijamin dan mereka diizinkan untuk menetap kembali di desa mereka.

“Kami telah meminta pemerintah Burma untuk dialog. Akan tetapi, kami belum mendapat tanggapan apa pun dari mereka,” kata Ullah.

Wartawan Al Jazeera, Dekker mengatakan banyak dari para pengungsi terlalu “takut dan trauma” untuk kembali.

“Ada laporan bahwa sebagian besar rumah orang-orang ini telah dihancurkan oleh otoritas, bahwa bangunan lain telah didirikan di atas tempat mereka, jadi ke mana mereka akan kembali?” ucapnya.

“Ini adalah masalah-masalah yang belum diatasi dan saya pikir banyak orang mengatakan kepada Anda secara realistis bahwa ini akan menjadi masalah jangka panjang untuk Bangladesh dan mungkin kawasan.”

‘Tujuan genosida’

Penyelidikan yang dilakukan PBB tahun lalu merekomendasikan penuntutan terhadap para petinggi militer Myanmar atas tuduhan genosida, kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan atas pembantaian terhadap Rohingya.

Myanmar menolak tuduhan itu.

Pada hari Kamis (22/8), Misi Pencari Fakta Internasional Independen PBB untuk Myanmar mengeluarkan laporan baru yang menyimpulkan bahwa pemerkosaan terhadap wanita-wanita Rohingya oleh pasukan keamanan Myanmar bersifat sistemik dan bertujuan untuk melakukan genosida.

Laporan itu menyatakan diskriminasi yang dilakukan Myanmar terhadap Rohingya di masa damai memperburuk kekerasan seksual terhadap mereka selama masa konflik.

PBB menyebut krisis Rohingya sebagai “contoh buku teks tentang pembersihan etnis”.

“Genosida Rohingya adalah langkah terakhir dalam kesinambungan persekusi dan operasi teror, kekerasan, pembunuhan dan pemerkosaan yang dilakukan terhadap rakyat kami yang telah dimulai puluhan tahun lalu,” ungkap Arakan Rohingya National Organisation (ARNO) yang berbasis di Inggris dalam pernyataan tertulis pada Ahad.

“Hari ini, kami mengingat dan menghormati semua orang yang terbunuh sebagai pahlawan dan syuhada. Kami akan mengingat mereka selamanya.”* (Al Jazeera | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« SNHR: Tak Hiraukan Kejahatan Assad Akan Dorong Rezim Lain Gunakan Senjata Kimia
Serangan Pesawat Tempur Rezim Assad dan Rusia Tewaskan 13 Orang di ‘Zona De-Eskalasi’ »