Amnesty: Lebanon Deportasi Hampir 2.500 Muhajirin Suriah dalam 3 Bulan

29 August 2019, 21:49.
Muhajirin Suriah berjalan dari Yunani menuju Turki, 2017. Foto: Arsip Reuters

Muhajirin Suriah berjalan dari Yunani menuju Turki, 2017. Foto: Arsip Reuters

LONDON, Kamis (Middle East Eye): Lebanon telah mendeportasi hampir 2.500 Muhajirin Suriah dalam periode tiga bulan. Ini berdasarkan informasi yang diterima oleh Amnesty International. Oleh karena itu, Amnesty menyerukan Beirut untuk menghentikan pemindahan paksa.

Pada hari Selasa (27/8), kelompok hak asasi manusia itu menyatakan bahwa otoritas Lebanon pada pertengahan Mei mulai menerapkan keputusan Dewan Pertahanan Tertinggi yang berafiliasi dengan militer untuk mendeportasi Muhajirin yang memasuki negara itu “secara ilegal” setelah 24 April.

Menurut data yang diterima dari Organisasi Keamanan Umum Lebanon dan Menteri Urusan Presidensial, Lebanon telah secara paksa mengembalikan 2.447 Muhajirin ke Suriah, ungkap Amnesty, meskipun ada kekhawatiran Muhajirin akan menghadapi pelanggaran HAM di negara yang sedang dilanda perang itu.

“Kami mendesak otoritas Lebanon untuk menghentikan deportasi dan Dewan Pertahanan Tertinggi membatalkan keputusan tersebut,” kata Lynn Maalouf, direktur riset Timur Tengah Amnesty, dalam pernyataan tertulis.

Maalouf mengatakan, selama lembaga pemantau hak asasi independen seperti PBB tidak bisa beroperasi secara bebas di Suriah, tidak mungkin bisa memastikan Muhajirin terbebas dari pelanggaran HAM jika mereka dikirim kembali ke negara mereka.

“Akses dan mekanisme pemantauan di dalam Suriah harus menjadi langkah pertama dalam menetapkan proses pemulangan. Sementara itu, ketika risiko atas pemulangan tidak dapat dipastikan maka setiap upaya untuk mengembalikan Muhajirin secara paksa adalah pelanggaran jelas Lebanon terhadap kewajiban non-refoulement (praktik tidak memaksa pengungsi atau pencari suaka untuk kembali ke negara di mana mereka dapat mengalami persekusi),” tambahnya.

Muhajirin Suriah di Lebanon menghadapi peningkatan pengawasan selama bertahun-tahun. Pemberlakuan jam malam, penggerebekan kamp, dan pengusiran menjadi hal yang biasa mereka alami.

Lebih dari 900.000 Muhajirin Suriah di Lebanon terdaftar di Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) pada akhir Juli, kata Amnesty.

Selain itu, 31.000 pengungsi Palestina yang berasal dari Suriah juga terdaftar di badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).

Pemerintah Lebanon mengklaim bahwa 550.000 pengungsi lain yang tidak terdaftar tinggal di negara itu.

Sentimen anti-pengungsi

Jika mereka terdaftar di PBB, warga Suriah berhak atas bantuan, seperti jatah makanan, subsidi dan kebebasan bergerak yang lebih besar.

Akan tetapi, Lebanon menjadikan terdaftar sebagai pengungsi berarti akses terbatas terhadap pekerjaan.

Para pejabat Lebanon sering menyalahkan Muhajirin Suriah atas beberapa masalah di negara itu, seperti kurangnya sumber daya, pekerjaan, dan infrastruktur yang tidak memadai.

Beberapa bahkan mengklaim bahwa Muhajirin Suriah yang harus disalahkan atas keterpurukan ekonomi yang sedang dialami negara itu.

Dalam periode dua pekan di bulan Juni, sekitar 25.000 Muhajirin Suriah diusir dari rumah-rumah mereka di Lebanon – di tengah meningkatnya sentimen anti-pengungsi di seluruh negara.

Pada 9 Juni, lebih dari 5.600 bangunan yang menampung Muhajirin Suriah di kota Arsal dihancurkan setelah adanya keputusan dari Dewan Pertahanan Tinggi Lebanon yang menganggap bangunan-bangunan itu ilegal.

“Kami mengulangi seruan kami kepada komunitas internasional untuk berbagi tanggung jawab atas Muhajirin Suriah dengan negara-negara tuan rumah, termasuk Lebanon,” kata Maalouf dari Amnesty International.* (Middle East Eye | Sahabat Al-Aqsha)

Muhajirin menghancurkan tempat penampungan sementara mereka di Arsal karena ancaman keputusan pengadilan militer. Foto: Joseph Eid/AFP/Getty Images

Muhajirin menghancurkan tempat penampungan sementara mereka di Arsal karena ancaman keputusan pengadilan militer. Foto: Joseph Eid/AFP/Getty Images

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Mahasiswa Harvard Ini Dideportasi Karena Temannya ‘Kritik’ Amerika Serikat di Medsos
‘Serangan Mematikan di Maaret Al-Numan Adalah Tanggung Jawab PBB dan Pelaku Utama’ »