Andil Bisnis Muhajirin Suriah pada Pendapatan Turki

1 September 2019, 16:52.
Sejumlah pria Suriah bekerja di sebuah restoran di provinsi Gaziatep, Turki. Foto: Daily Sabah

Sejumlah pria Suriah bekerja di sebuah restoran di provinsi Gaziatep, Turki. Foto: Daily Sabah

ISTANBUL, Ahad (Daily Sabah): Turki telah menjadi rumah bagi sekitar 3,6 juta Muhajirin Suriah yang berlindung dari perang brutal yang kini memasuki tahun kedelapan. Banyak dari warga Suriah –yang menjadi penduduk di Turki dan membangun kehidupan baru– berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi Turki baik sebagai karyawan atau pebisnis.

Laporan penelitian terbaru yang dilakukan oleh Yayasan Penelitian Kebijakan Ekonomi Turki (TEPAV) bertajuk “Kewirausahaan Warga Suriah dan Perusahaan Rintisan Pengungsi di Turki” mengungkap bahwa Turki menampung lebih dari 10.000 perusahaan yang didirikan oleh warga Suriah.

Perusahaan-perusahaan ini mempekerjakan rata-rata tujuh orang, dan 60% karyawan mereka adalah warga Suriah. Berdasarkan perhitungan rata-rata jumlah anggota keluarga, hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 250.000 warga Suriah mendapatkan manfaat dari lapangan kerja yang dibuka oleh perusahaan-perusahaan Muhajirin Suriah. Hasilnya menunjukkan bahwa 7% dari Muhajirin Suriah di Turki memperoleh nafkah dari perusahaan-perusahaan milik warga Suriah yang beroperasi di negara itu.

Survei TEPAV, yang dilakukan bersama dengan Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (EBRD), secara komparatif menganalisis sampel 416 perusahaan, yang terdiri dari 207 perusahaan milik warga Turki dan 209 bisnis yang dikelola Muhajirin Suriah untuk memahami kinerja bisnis Muhajirin.

Penelitian ini dilakukan di delapan provinsi tempat populasi Muhajirin paling padat: Gaziantep, Mersin, Hatay, Sanliurfa, Kilis, Adana, Kahramanmaras, dan Mardin. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar bisnis yang dijalankan oleh warga Suriah adalah perusahaan mikro. “Profil umum perusahaan-perusahaan warga Suriah menunjukkan bahwa 66% dari mereka mempekerjakan kurang dari lima karyawan dan jumlah rata-rata karyawan adalah 7,3. Sebagai perbandingan, perusahaan-perusahaan Turki dalam sampel (penelitian) berukuran kecil hingga menengah dengan 53% dari perusahaan mempekerjakan lima hingga 50 karyawan, dengan rata-rata 26,6 karyawan,” ungkap TEPAV dalam laporannya.

Terkait dengan perincian sektoral, 71% dari perusahaan warga Suriah beroperasi dalam bidang jasa, 14% ritel dan 15% manufaktur. Sebagai perbandingan, 59% perusahaan Turki yang disurvei dalam sampel berkecimpung dalam bidang jasa, sementara 22% beroperasi dalam ritel dan 19% di bidang manufaktur.

Kontribusi perusahaan Muhajirin Suriah terhadap ekspor Turki

Penelitian EBRD-TEPAV membuktikan, “Perusahaan-perusahaan Muhajirin Suriah telah membantu menyeimbangkan kembali ekspor Turki ke Suriah.”

“Ada semacam korelasi antara peningkatan jumlah perusahaan warga Suriah di Turki, terutama sejak 2013, dan ekspor Turki ke Suriah,” ungkap laporan itu. Ekspor ke Suriah mengalami penurunan tajam dari 1,84 miliar dolar pada 2010 menjadi 500 juta dolar pada 2012. Pada tahun 2014, ekspor Turki ke Suriah mendekati tingkat sebelum perang. Sedikit menurun menjadi 1,5 miliar dolar pada tahun 2015. Ekspor Turki ke negara tetangga yang sedang dilanda perang itu stabil pada 1,3 miliar dolar per tahun pada periode 2016 hingga 2018. Ini berdasarkan data yang diperoleh dari Lembaga Statistik Turki (TurkStat).

“Di samping fluktuasi ekspor Turki ke Suriah, ada tren lain yang membentuk kinerja ekspor bersifat kedaerahan. Pada masa kejayaan ekspor Turki ke Suriah, Istanbul adalah pusat dengan volume ekspor 616 juta dolar pada 2011. Ekspor Istanbul terus menurun dalam beberapa tahun berikutnya dan mencapai 133 juta dolar pada 2017,” ungkap laporan itu.

Dalam laporan itu dijelaskan: “Periode yang sama menunjukkan munculnya pusat ekspor baru ke Suriah. Ini adalah tiga provinsi perbatasan: Gaziantep, Hatay, dan Mersin. Menurut hasil penelitian itu, ekspor Gaziantep ke Suriah perlahan-lahan meningkat dari 96 juta dolar pada 2011 menjadi 393 juta dolar pada 2017. Demikian pula, ekspor Hatay meningkat dari 97 juta dolar menjadi 207 juta dolar, dan ekspor Mersin tumbuh dari 15 juta dolar pada 2011 menjadi 207 juta dolar pada 2017.”

Mengacu pada peningkatan perdagangan dengan wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA), hasil penelitian menyatakan bahwa kenaikan itu mungkin disebabkan oleh jaringan warga Suriah di wilayah itu.

Pengusaha Suriah ingin menetap di Turki

Penelitian itu juga mengevaluasi bagaimana para pebisnis Suriah melihat potensi umur panjang bisnis mereka dan menunjukkan bahwa warga Suriah tidak ingin dianggap “sementara” di Turki.

Berdasarkan penelitian tersebut: “Sekitar 72% dari pengusaha Suriah yang disurvei menunjukkan bahwa mereka tidak ingin kembali ke Suriah bahkan ketika perang berakhir. Salah satu alasan yang jelas di balik keputusan ini adalah keberhasilan bisnis mereka di Turki.”

Lebih dari separuh warga Suriah (59,4%) menyatakan bahwa mereka memiliki bisnis yang sukses di Turki, sementara 71,7% dari seluruh pemilik bisnis Suriah mengatakan bahwa mereka tidak akan kembali ke Suriah bahkan setelah perang usai. Selain itu, 44,8% pemilik atau mitra warga Suriah menyatakan bahwa lingkungan bisnis Turki lebih baik, sementara 23,1% menyatakan mereka sekarang adalah warga negara Turki.

Hambatan bisnis di Turki

Meskipun para pengusaha Suriah puas dengan perusahaan mereka dan lingkungan investasi di Turki karena mereka memberikan kontribusi positif bagi ekonomi negara tersebut, ada kendala yang masih harus diatasi. Beberapa dari hambatan ini adalah akses ke keuangan, tarif pajak, dan hukum bisnis.

Undang-undang dan peraturan saat ini yang berkaitan dengan ketenagakerjaan warga Suriah berdampak negatif terhadap perusahaan-perusahaan yang dijalankan oleh Muhajirin dan membatasi integrasi Muhajirin Suriah ke pasar tenaga kerja resmi. “Analisis hasil survei juga menunjukkan bahwa kondisi dan kepemimpinan lokal memainkan peran penting dalam preferensi pengusaha Suriah terhadap provinsi tertentu daripada yang lain untuk membuka dan menjalankan bisnis mereka,” demikian hasil penelitian EBRD-TEPAV.

Lebih penting lagi, para pengusaha Suriah juga menghadapi tantangan dalam mengakses perbankan dan lembaga keuangan. Survei TEPAV mengungkap bahwa lebih dari sepertiga (38,5%) dari seluruh Muhajirin Suriah mengatakan mereka menggunakan sistem hawala alih-alih menggunakan sistem perbankan tradisional. Selain kemungkinan alasan agama, alasan lain bagi perusahaan Suriah memilih sistem hawala (nilai transfer informal berdasarkan kinerja jaringan pialang uang) mungkin terkait dengan hambatan dalam mengakses layanan perbankan di Turki untuk warga Suriah.

Akses ke sistem perbankan masih menjadi salah satu hambatan terbesar yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan warga Suriah yang beroperasi di Turki, laporan itu mengamati: “Sekitar 28% dari pengusaha Suriah menyatakan bahwa mereka menghadapi masalah dengan membuka rekening bank komersial, sementara hanya 10% dari pengusaha Turki menggarisbawahi ini sebagai masalah.”

Menurut hasil penelitian, 27,3% dari perusahaan warga Suriah mengalami masalah dengan transfer uang domestik, 19,7% bermasalah dengan pembukaan rekening bank individu dan 15,9% mengalami kesulitan dalam memperoleh surat kredit untuk transaksi mereka.* (Daily Sabah | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Rezim Assad Sekap 1.180 Pengungsi Palestina Sejak Awal Revolusi Suriah
SNHR: 98.000 Orang Dihilangkan Paksa di Suriah Sejak Maret 2011 »