Langgar Gencatan Senjata, Rezim Assad Terus Bombardir Idlib

2 September 2019, 23:20.
Sebuah fasilitas kesehatan menjadi sasaran serangan udara rezim di kota Urum al-Kubra di pedesaan barat provinsi Aleppo, Suriah, kendati ada gencatan senjata yang diumumkan secara sepihak, 31 Agustus 2019. Foto: Daily Sabah

Sebuah fasilitas kesehatan menjadi sasaran serangan udara rezim di kota Urum al-Kubra di pedesaan barat provinsi Aleppo, Suriah, kendati ada gencatan senjata yang diumumkan secara sepihak, 31 Agustus 2019. Foto: Daily Sabah

ANKARA, Senin (Daily Sabah): Kondisi mengerikan di Idlib, Suriah, tampaknya belum akan berakhir karena rezim Bashar al-Assad terus melakukan serangan terhadap pemukiman sipil, kendati gencatan senjata untuk menciptakan ketenangan di wilayah itu telah diumumkan pada hari Sabtu (31/8).

Serangan mortir dan rudal balistik oleh rezim, merusak sekolah dan membuat sebuah rumah sakit tak lagi bisa berfungsi. Meskipun Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan pada Jum’at sore bahwa rezim mengumumkan gencatan senjata sepihak di zona de-eskalasi berlaku setelah pukul 6 pagi pada hari Sabtu, pasukan rezim melakukan pengeboman besar-besaran di distrik dan desa-desa Idlib selatan termasuk Kafranbel, Has dan Cercenaz.

Menurut Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), kelompok pemantau perang yang berbasis di Inggris, pengeboman kota Kafranbel pada malam hari itu menewaskan seorang warga sipil. Ini terjadi hanya beberapa jam setelah gencatan senjata diberlakukan.

Pengumuman itu dikeluarkan sehari setelah Mark Lowcock, koordinator bantuan darurat PBB, meminta Dewan Keamanan PBB mengambil tindakan penting untuk melindungi warga sipil di Idlib. “Tiga juta orang –dua pertiga dari mereka adalah wanita dan anak-anak– mengharapkan dukungan Anda untuk menghentikan kekerasan ini,” kata Lowcock pada hari Kamis.

Ini adalah gencatan senjata kedua yang dideklarasikan sejak Agustus, gencatan senjata pada awal bulan itu gagal dalam tiga hari. Kali ini, sekali lagi, gencatan senjata yang didukung Moskow tidak berumur panjang.

Menurut SOHR, serangan udara oleh Damaskus dan Rusia telah menewaskan lebih dari 950 warga sipil sejak akhir April. PBB menyatakan serangan besar-besaran terhadap wilayah Idlib akan menghasilkan salah satu “mimpi buruk” kemanusiaan dalam perang delapan tahun di Suriah. Semua itu terjadi, meskipun ada kesepakatan yang dicapai untuk membangun stabilitas dan perdamaian di wilayah tersebut, serta menghindari tragedi kemanusiaan lebih lanjut dan arus pengungsi.

Perjanjian Sochi yang disebutkan di atas disepakati pada 17 September oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Berdasarkan perjanjian tersebut, gencatan senjata di wilayah Idlib harus dijaga, serta penarikan senjata berat dari wilayah tersebut.

Akan tetapi, rezim mengintensifkan serangannya sejak 26 April dengan dalih memerangi kelompok Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) di Idlib. Serangan dan pengeboman telah menewaskan, melukai dan membuat ribuan orang mengungsi. Serangan membabi buta menghancurkan area perumahan. Selain itu, banyak fasilitas pendidikan dan kesehatan hancur atau menjadi tidak dapat digunakan setelah menjadi sasaran bom.* (Daily Sabah | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« SNHR: 98.000 Orang Dihilangkan Paksa di Suriah Sejak Maret 2011
Terkait Repatriasi, Myanmar Tak Sepenuh Hati Ingin Pengungsi Rohingya Kembali »