Hakim Perintahkan Jaksa ICC Kembali Selidiki Serangan ‘Israel’ di Kapal Mavi Marmara

4 September 2019, 19:10.
Pada 31 Mei 2010, kapal Mavi Marmara, kapal utama armada yang menuju Jalur Gaza diserang oleh gerombolan serdadu Zionis ‘Israel’ pada dini hari. Foto: AP

Pada 31 Mei 2010, kapal Mavi Marmara, kapal utama armada yang menuju Jalur Gaza diserang oleh gerombolan serdadu Zionis ‘Israel’ pada dini hari. Foto: AP

ISTANBUL, Rabu (Daily Sabah): Majelis hakim sidang banding pada hari Senin (2/9) memerintahkan jaksa penuntut Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk mempertimbangkan kembali penolakannya membuka penyelidikan resmi penyerangan kapal Mavi Marmara yang dilakukan gerombolan serdadu Zionis. Serangan yang terjadi pada tahun 2010 itu menewaskan sembilan aktivis Turki.

Hakim Ketua Solomy Bossa memerintahkan Jaksa Fatou Bensouda untuk memutuskan pada 2 Desember apakah akan membuka penyelidikan resmi atau tidak. Keputusan mayoritas 3-2 oleh majelis banding pengadilan adalah langkah terakhir dalam perjuangan hukum yang panjang untuk membawa kasus ini ke pengadilan.

Sebelumnya, Bensouda menolak permintaan Komoro –negara kepulauan di Samudera Hindia– untuk menyelidiki penyerangan kapal Mavi Marmara yang terjadi pada 31 Mei 2010. Kapal tersebut berlayar dengan bendera Komoro.

‘Israel’ dapat dijatuhi dakwaan jika Bensouda membuka penyelidikan.

Dalam penolakan awal untuk membuka penyelidikan menyeluruh, Bensouda mengakui bahwa kejahatan perang mungkin telah dilakukan di Mavi Marmara – di mana delapan orang Turki dan seorang warga Turki-Amerika terbunuh, serta sejumlah aktivis pro-Palestina lainnya terluka oleh perintah ‘Israel’. Akan tetapi, ia memutuskan bahwa kasus itu tidak cukup serius untuk diselidiki ICC.

Komoro mengajukan banding atas keputusan itu dan meminta peninjauan kembali ketika Bensouda sekali lagi menolak untuk menyelidiki kasus tersebut.

ICC merupakan pilihan terakhir untuk menuntut para pemimpin senior yang diduga bertanggung jawab atas kejahatan berat termasuk genosida, kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan ketika pengadilan nasional terbukti tidak mampu atau tidak mau mengambil kasus-kasus seperti itu.

Panel sidang banding pada hari Senin mengkritik Bensouda karena penolakannya untuk mempertimbangkan kembali kasus ini.

“Majelis banding juga menemukan bahwa bahasa tidak pantas yang digunakan oleh jaksa untuk menyatakan ketidaksetujuannya menunjukkan bahwa dia sepenuhnya salah informasi tentang apa yang diminta darinya dalam melakukan pertimbangan ulang seperti yang diminta,” kata Bossa.

Hubungan antara ‘Israel’ dan Turki retak setelah serangan itu, tetapi kedua pihak kemudian setuju untuk mengakhiri pertikaian setelah adanya pembicaraan rahasia.* (Daily Sabah | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Kenapa Warga Rohingya Belum Juga Dapat Hak Kewarganegaraan?
1.000+ Warga Gaza yang Ditembak Serdadu Zionis Derita ‘Infeksi Tulang Parah’ »