1.000+ Warga Gaza yang Ditembak Serdadu Zionis Derita ‘Infeksi Tulang Parah’

4 September 2019, 22:27.
Tenaga medis Palestina menolong seorang pria yang terluka setelah serdadu Zionis menyerang demonstran saat unjuk rasa “Barisan Pulang ke Tanah Air” (Great March of Return) di Gaza pada 14 Juni 2019. Foto: Mohammad Asad/Middle East Monitor

Tenaga medis Palestina menolong seorang pria yang terluka setelah serdadu Zionis menyerang demonstran saat unjuk rasa “Barisan Pulang ke Tanah Air” (Great March of Return) di Gaza pada 14 Juni 2019. Foto: Mohammad Asad/Middle East Monitor

LONDON, Rabu (Middle East Monitor): Lebih dari 1.000 warga Palestina di Jalur Gaza yang terblokade “menderita infeksi tulang parah setelah ditembak serdadu Zionis”, ungkap badan amal medis global Medecins Sans Frontieres (MSF).

MSF menyatakan bahwa pihaknya “berhadapan dengan tantangan sangat berat” saat mengobati mereka yang ditembak gerombolan serdadu Zionis saat demonstrasi di Jalur Gaza, termasuk infeksi tulang yang menambah “rumit upaya pemulihan yang harus dilalui oleh mereka yang terluka ini”.

Lebih dari 7.400 warga Palestina terluka oleh amunisi tajam selama demonstrasi. Menurut MSF, “sekitar setengahnya menderita patah tulang terbuka, di mana tulang patah di dekat luka”.

“Luka tembak pada dasarnya rentan terhadap infeksi,” ungkap MSF.

“Dengan luka-luka seperti yang dialami para korban di Gaza, di mana lukanya sangat besar, tulangnya pecah, dan pengobatannya sulit maka banyak luka yang tetap terbuka lama setelah cedera. Ini berarti risiko infeksi secara drastis lebih tinggi.”

Aulio Castillo, Ketua Tim Medis MSF di Gaza, menjelaskan bahwa bagi banyak pasien mereka yang tertembak, “tingkat keparahan dan kompleksitas luka mereka – dikombinasikan dengan kurangnya perawatan  bagi mereka di Gaza – berarti sekarang telah berkembang menjadi infeksi kronis.”

Mengobati infeksi ini semakin sulit karena “sistem kesehatan terguncang akibat blokade penjajah Zionis selama lebih dari satu dekade, pertikaian politik Palestina, dan pembatasan gerak oleh Mesir,” urai MSF.

“Kami telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan mutu laboratorium sehingga dapat menganalisis sampel tulang, bagian penting dari mendiagnosis dengan benar infeksi tulang ini, dan untuk mengetahui antibiotik mana yang akan berhasil (mengobatinya),” kata Castillo.

Menurut MSF, ini adalah laboratorium pertama yang mampu menganalisis sampel tulang di Gaza karena sebelumnya setiap sampel harus dikirim ke laboratorium di wilayah Palestina terjajah 1948 yang kini disebut ‘Israel’.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Hakim Perintahkan Jaksa ICC Kembali Selidiki Serangan ‘Israel’ di Kapal Mavi Marmara
‘Berhenti Mempersenjatai Israel’: Seruan Aktivis Inggris Protes Pameran Senjata »