Rakhine yang Tak Juga Aman

5 September 2019, 20:37.
Foto: Rohingya Vision

Foto: Rohingya Vision

DHAKA, Kamis (The Daily Star): Keamanan tetap menjadi permintaan utama para pengungsi Rohingya untuk mau kembali ke tanah airnya. Karena, mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana saudara-saudara mereka dibunuh dan dilecehkan kehormatan, serta rumah-rumah mereka dihanguskan menjadi abu oleh tentara Myanmar.

“Sekarang ini keberadaan militer di Rakhine justru menguat,” kata Razia Sultana, warga Rohingya yang bertindak selaku advokat untuk para pengungsi.

Sebuah riset internasional tahun lalu menemukan bahwa sekitar 25.000 orang Rohingya dibunuh dan 19.000 wanita Rohingya diperkosa selama aksi brutal militer Myanmar di Rakhine pada akhir Agustus 2017.

Penelitian yang dilakukan sejumlah akademisi dan organisasi dari Australia, Bangladesh, Kanada, Norwegia, serta Filipina itu menemukan bahwa kurang lebih 43.000 warga Rohingya terkena luka tembak, 36.000 orang dilemparkan ke dalam api, serta 116.000 orang mengalami siksaan fisik karena kebengisan aparat Myanmar.

Penyelidik independen PBB menyatakan bahwa tindakan kriminal militer Myanmar ini merupakan sebuah upaya genosida dan menekankan agar hal itu segera diselidiki.

Akan tetapi, Dewan Keamanan PBB tidak bisa berbuat banyak mengenai tindak kejahatan ini karena China dan Rusia selalu menggunakan hak vetonya untuk mendukung Myanmar.

Myanmar sendiri menolak semua tuduhan dan berdalih bahwa aksi militer tersebut hanyalah balasan atas serangan warga Rohingya ke pos polisi.

Bahkan setelah dua tahun kebrutalan itu berlalu, para wartawan independen dan lembaga-lembaga kemanusiaan tidak mendapat keleluasaan untuk memasuki sebagian besar kawasan Rakhine, kata Razia. “Warga Rohingya sama sekali tidak merasa aman untuk kembali ke sana dengan kondisi yang masih seperti itu,” ungkapnya.

Joseph Tripura, juru bicara UNHCR di Dhaka, mengatakan bahkan badan pengungsi PBB pun tidak mendapat akses ke banyak wilayah di Rakhine, yang tentu menghalanginya untuk memeriksa keadaan sebenarnya secara keseluruhan. Dengan demikian, mereka tidak yakin bahwa kondisi Rakhine terkini sudah layak untuk menerima kepulangan para pengungsi Rohingya.* (The Daily Star | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« ‘Berhenti Mempersenjatai Israel’: Seruan Aktivis Inggris Protes Pameran Senjata
Warga Rohingya Tak Dilibatkan dalam Perundingan Repatriasi »