KVN: Pemegangnya Dilecehkan, Pemohonnya Tak Dianggap, Penolaknya Disiksa

8 September 2019, 22:35.
Sumber: Rohingya Vision

Sumber: Rohingya Vision

MAUNGDAW, Ahad (Rohingya Vision): Meskipun Myanmar menyimpulkan –dengan tidak jujur– solusi untuk Rohingya adalah Kartu Verifikasi Nasional (KVN), pada praktiknya di Arakan Utara, yang sudah mendapatkannya masih dihinakan. Para pengaju status kewarganegaraan pun ditolak, sedangkan mereka yang menolak dikenai hukuman.

Rohingya Vision sudah menghubungi beberapa korban KVN, baik pemegang, pemohon, maupun yang menolak. Salah seorang pemegang KVN –yang identitasnya dirahasiakan– menceritakan walau sudah memiliki KVN, pihak berwenang tetap berlaku sewenang-wenang terhadap mereka. Warga Rohingya dimintai uang tanpa alasan jelas, diperas, barang-barang milik pribadi diambil, kendaraan dirampas, toko dirampok, fisik mereka diserang, dilecehkan secara seksual, serta didiskriminasi di ruang publik seperti sekolah maupun perkantoran dan lain-lain.

Yang paling berbahaya adalah larangan bepergian. Dengan kartu ini, para korban justru tidak boleh pergi keluar kota, terlebih lagi keluar negeri. Bahkan di wilayahnya sendiri pun, mereka tidak mendapat keleluasaan untuk memotong kayu, memancing, dan beternak di tanah mereka sendiri, padahal itu adalah hajat hidup mereka sehari-hari.

Di sisi lain, jika mereka hendak meningkatkan status kewarganegaraan mereka, permintaan mereka akan ditolak, tidak diproses, atau sama sekali tidak diterima.

Sedangkan penolakan atas KVN dianggap sebagai tindak kriminal. Warga etnis di Arakan yang tidak memiliki KVN akan disiksa, dipenjara, dan dipaksa untuk mengajukan diri. Akan tetapi, ketika mengajukan permohonan KVN, mereka harus melalui prosedur yang panjang dan rumit. Dalam seluruh prosedur itu, mereka harus menyogok setiap petugas yang ada.

“Saya harus mengeluarkan uang sogokan sebanyak 10 Lakh untuk bisa mendapat KVN. Jika tidak, saya tidak bisa pergi keluar rumah. Saya juga tidak bisa membuka toko saya sendiri,” kata salah seorang korban.

Pada kasus lain, warga Rohingya yang lolos dan mendapat kartu kewarganegaraan berwarna merah muda (yang disebut Kartu Naing) berdasarkan hukum kewarganegaraan Myanmar tahun 1982, anak-anak biologis mereka hanya mendapat KVN.

Ia mengatakan, “Kami berdua (suami istri) diberi kartu kewarganegaraan setelah berhasil membuktikan bahwa keluarga kami telah tinggal di sini terus menerus selama tiga generasi, dan dokumen orang tua beserta kakek nenek kami terverifikasi. Akan tetapi, anak saya sendiri ternyata hanya diberikan KVN.”

“Di Rakhine, baik Anda memiliki KVN maupun Kartu Naing (kartu kewarganegaraan), identitas yang menjamin keselamatan Anda hanyalah penampilan dan keyakinan sebagai orang Budha,” tambahnya.

KVN hanyalah perangkap untuk membunuh atau mengelabui belaka. Tidak ada jaminan keamanan bagi orang yang memegang, mengajukan, maupun menolaknya. Hal ini semakin mempertegas bahwa Myanmar tidaklah jujur, bahkan pada program KVN ini sendiri, yang oleh para pengamat disebut sebagai perangkat genosida.* (Rohingya Vision | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« The Economist: ‘Kemenangan’ Assad Akan Racuni Kawasan
Pasukan Rezim Suriah dan Sekutunya Tebang Ribuan Pohon Buah di Hama dan Idlib »