Malaysia Kecam Aung San Suu Kyi Terkait Krisis Rohingya

27 September 2019, 23:49.
Muslim Rohingya berkumpul di luar tempat penampungan darurat di atas tanah milik petani Bangladesh Jorina Katun dekat kamp pengungsi Kutapalong di distrik Cox’s Bazar, Bangladesh, 9 Februari 2018. Foto: Reuters/Andrew RC Marshall

Muslim Rohingya berkumpul di luar tempat penampungan darurat di atas tanah milik petani Bangladesh Jorina Katun dekat kamp pengungsi Kutapalong di distrik Cox’s Bazar, Bangladesh, 9 Februari 2018. Foto: Reuters/Andrew RC Marshall

NEW YORK, Jum’at (Malay Mail): Malaysia yakin Penasihat Negara Myanmar, Aung San Suu Kyi, mestinya bisa berbuat lebih banyak untuk meredakan penderitaan yang dialami warga Rohingya.

Perdana Menteri Malaysia, Dr Mahathir Mohammad mengatakan, ketika dulu sang penerima Nobel Perdamaian terpaksa dikurung di rumahnya, Malaysia bersimpati dan ikut mengampanyekan hak kebebasannya. “Akan tetapi, sekarang (setelah bebas) kita tahu dia tidak membela orang-orang yang juga menderita,” ungkap Mahathir.

Ia melanjutkan, “Nyatanya sekarang ini, terlepas dari pembicaraan kita mengenai perdamaian, tentang dunia yang berusaha mengakhiri perang, kita dapati ketika ada negara yang melakukan kekejaman seperti itu kita semua tidak bisa berbuat apa-apa.”

Saat menjawab pertanyaan terkait krisis Rohingya di Forum Pemimpin Dunia di Universitas Colombia, Mahathir menjelaskan, “Mungkin kalian masih ingat, pemerintah Kamboja pernah membantai dua juta warganya dan dunia hanya diam tak bisa berbuat apa-apa. Sampai akhirnya orang-orang Kamboja sendiri yang menurunkan rezim Pol Pot.”

“Sedangkan untuk krisis Rohingya, tidak ada orang yang berani mengambil risiko dan menggulingkan pemerintahan Myanmar yang jelas-jelas kejam. Dan dunia kembali tak bisa berbuat apa-apa.

“Jika Myanmar mengatakan, ‘Anda tidak boleh memasuki negara kami’, tentu Anda tahu ada sesuatu yang tidak beres di sana,” kata Mahathir.

Dia juga menggarisbawahi bahwa ada kelemahan yang mendasar pada PBB, yakni “ketika pemerintah suatu negara bertindak kejam terhadap warganya sendiri, kita tidak bisa melakukan apa-apa.”

“Kita bisa berorasi, kita bisa berdoa, kita bisa meminta mereka agar tidak berbuat seperti itu, tapi mereka bisa terus melakukannya karena kita tidak campur tangan untuk menyingkirkan rezim yang seperti itu,” tukasnya.

“Meskipun demikian, kenyataannya ketika Saddam Hussein (mantan Presiden Irak) dituduh membunuh warganya dan bertindak sebagai diktator, Amerika Serikat bisa menginvasi dan menggulingkan pemerintahannya.”

“Jadi, rakyat di negara bagian Rakhine akan terus menderita dalam waktu yang sangat, sangat lama. Mereka tidak bisa kembali pulang karena takut dengan militer di sana yang selama ini selalu berbuat sewenang-wenang terhadap mereka.”* (Malay Mail | Sahabat Al-Aqsha)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« PBB: Dua Juta Anak di Yaman Putus Sekolah Karena Perang
Zionis Bunuh 1 Warga Gaza dan Lukai 63 Lainnya Saat ‘Great Return March’ »