Perdagangan Manusia: Cara Ekstremis Anti-Rohingya Usir Warga Rohingya yang Masih Bertahan

4 October 2019, 20:39.
Foto: Rohingya Vision

Foto: Rohingya Vision

SITTWE, Jum’at (Rohingya Vision): Para pelaku perdagangan manusia di Rakhine secara tidak langsung menyerahkan belasan remaja Rohingya dari Sittwe dan kota-kota lain terutama dari kamp-kamp pengungsi internal (IDP) kepada pihak berwenang saat berusaha mencari peruntungan ke Thailand dan Malaysia. Para remaja itu sudah membayar penuh uang yang diminta para pelaku perdagangan manusia.

Pada 25 September lalu, 18 remaja Rohingya tertangkap di Sittwe saat berupaya keluar melalui jalur darat. Sebenarnya mereka terdiri dari 60 orang, namun yang lain berhasil lolos dari kejaran polisi.

Esoknya, sekitar 30 remaja lainnya ditangkap di wilayah Irrawaddy. Mereka juga berasal dari Sittwe. Awalnya mereka berjumlah 44 orang, kemudian dipisah menjadi kelompok beranggotakan 30 dan 14 orang. Akan tetapi, nasib 14 orang lainnya hingga kini tidak diketahui.

Sedangkan pada 29 September, kelompok yang terdiri dari enam remaja Rohingya ditahan di dekat Jalan Raya Pathein-Mone Ywar.

Tiga kasus di atas adalah insiden berbeda yang terjadi dalam seminggu terakhir di bulan September dan insiden serupa sering terjadi sepanjang tahun. Ironisnya, tidak ada yang tahu bagaimana nasib para remaja itu setelahnya.

Menurut laporan, contohnya pada tahun 2013, sebanyak 52 remaja Rohingya ditangkap di Ngapu Taung, wilayah Irrawaddy. Pada tahun 2018, ratusan pemuda ditahan di wilayah Tanintharyi saat dalam pelarian menuju Malaysia menggunakan jalur laut. Wilayah Bago juga menahan 78 remaja Rohingya di awal tahun ini.

Menurut para pengamat, ini adalah bagian dari operasi anti-Rohingya, untuk mengusir warga Rohingya yang masih bertahan di wilayahnya. Para pedagang manusia ini sengaja menargetkan kalangan muda dengan kisaran usia 15 sampai 30 tahun.

Operasi ini untuk melayani kepentingan para ekstremis anti-Rohingya dari berbagai sudut pandang. Mereka tidak hanya memeras jutaan kyat dari warga Rohingya di kamp-kamp yang miskin dan bertahan karena bantuan kemanusiaan, tapi juga menggiring mereka ke dalam bahaya dengan menyerahkan mereka kepada pihak berwenang yang berada di luar negara bagian Rakhine karena berpindah secara ilegal.

Seandainya pun mereka berhasil lolos dari pihak berwenang, dan sampai ke tempat tujuan pelarian mereka, hal ini juga menjadi cara untuk membersihkan dan mengusir warga Rohingya dari tanah air mereka.

Para pelaku perdagangan manusia ini meminta bayaran antara empat hingga lima juta kyat atau sekitar 36-46 juta rupiah untuk setiap orangnya.

Merasa putus asa dengan kondisi yang menyedihkan di “penjara terbuka” kamp pengungsi internal, generasi muda Rohingya ini mempertaruhkan hidup mereka dengan memercayai janji palsu dari musuh-musuh mereka. Hanya karena mereka percaya bahwa mempertaruhkan nyawa untuk keluar dan menjadi pelarian lebih baik ketimbang hidup tersiksa di dalam “penjara terbuka” tersebut.* (Rohingya Vision | Sahabat Al-Aqsha)

Foto: Rohingya Vision

Foto: Rohingya Vision

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Dukung Usulan PM Bangladesh, Aktivis Rohingya Desak Komunitas Internasional Bertindak
Toilet untuk 120 Keluarga Rohingya di Kamp Balukhali Tak Berfungsi »