Bunuh Diri Bocah Suriah Ini Singkap Bahaya Sentimen Anti-Pengungsi di Turki

8 October 2019, 18:29.
Para aktivis menyatakan, rasisme anti-pengungsi telah membunuh bocah Suriah berusia sembilan tahun, Wael al-Saud. Foto: Twitter via The New Arab

Para aktivis menyatakan, rasisme anti-pengungsi telah membunuh bocah Suriah berusia sembilan tahun, Wael al-Saud. Foto: Twitter via The New Arab

ISTANBUL, Selasa (Daily Sabah | The New Arab): Bunuh diri seorang anak Suriah berusia sembilan tahun di provinsi Kocaeli barat dan klaim bahwa ia didiskriminasi di sekolah sekali lagi menyingkap bahaya sosial dan psikologis retorika politik yang rasis dan diskriminatif. Pada hari Jum’at (4/10), bocah sembilan tahun itu melakukan bunuh diri dengan menggantung dirinya di gerbang pemakaman di distrik Kartepe di Kocaeli.

Laporan menyatakan, warga melihat mayat dan melaporkannya ke pihak berwenang. Penyelidik mengidentifikasi mayat tersebut sebagai bocah kelas lima Wael al-Saud yang dalam bahasa Turki disebut Vail al-Suud.

Media juga mengklaim bahwa al-Saud diduga mengalami diskriminasai di sekolah karena dia adalah Muhajir Suriah.

Sejumlah politisi di Turki dan Eropa sering menggunakan retorika diskriminatif dan rasis terhadap Muhajirin Suriah.

Contohnya, Partai Rakyat Republik (CHP) –meskipun baru-baru ini menyelenggarakan konferensi internasional Suriah di Istanbul– memiliki rekam jejak menggunakan retorika anti-pengungsi. Selama kampanye pemilihan parlemen dan presiden pada bulan Juni 2018, Ketua CHP Kemal Kilicdaroglu mengadopsi interpretasi nasionalisme yang populis dan eksklusif demi meraih suara.

Saat kampanye di Giresun Turki utara pada tahun 2017, Kilicdaroglu mengatakan: “Tidak ada uang untuk para petani, tetapi tahukah Anda berapa banyak yang telah dihabiskan untuk warga Suriah? Sebanyak 30 miliar dolar. Mereka telah menjadi warga negara kelas satu.”

Walikota Bolu di Turki barat yang berasal dari CHP, Tanju Ozcan, menginstruksikan departemen pemerintahan kota untuk menghentikan bantuan bagi orang asing dan mendesak Muhajirin Suriah pulang secepatnya ke negara mereka.

Meskipun menghadapi kritik keras, ia mengatakan bahwa pengungsi Irak, Suriah dan Afganistan hidup dengan “standar tertinggi” di Bolu.

Walikota distrik Kemalpasa di Izmir, Turki barat, yang juga berasal dari CHP Ridvan Karakayali merupakan contoh lain dari politisi yang mengusung retorika anti-pengungsi.

Dia berjanji akan mengusir semua Muhajirin Suriah dari distrik tersebut. “Kami akan menyingkirkan warga Suriah. Ada perdamaian di Suriah, jadi apa yang mereka lakukan di sini?” kata Karakayali dalam sebuah program TV. Karakayali juga menyatakan perang terhadap papan nama yang menggunakan “bahasa Suriah” –merujuk pada bahasa Arab– di distriknya. Ia menegaskan akan menindak secara hukum.

“Ada toko-toko dengan papan nama ‘berbahasa Suriah’ di dekat (gedung) partai kami. Saya akan menyingkirkan mereka. Mereka akan dibawa pergi dari sini. Mereka akan kembali ke negara mereka,” ungkapnya dalam sebuah program TV.

Beberapa bulan yang lalu, International Refugee Rights Association mengajukan tuntutan pidana terhadap walikota Bolu.

Berbicara atas nama asosiasi, pengacara Ugur Yildirim mengatakan keputusan Tanju Ozcan telah menyebabkan kemarahan publik. Dia tidak mengindahkan seruan dari organisasi masyarakat sipil dan pengacara saat dia melanjutkan kebijakan diskriminatifnya terhadap Muhajirin Suriah.

Yildirim menambahkan bahwa Ozcan melanggar Pasal 14 Deklarasi Hak Asasi Manusia, yang menjamin hak tempat perlindungan dan suaka politik. “Ia juga melanggar hak kesetaraan dan akses yang sama atas layanan kota yang tercantum dalam Konstitusi,” kata Yildirim.

Muhajirin Suriah di Turki menyatakan bahwa rasisme yang telah menyebar luas terhadap mereka sebagai penyebab Wael al-Saud melakukan aksi bunuh diri.

Media setempat memberitakan, bocah sembilan tahun itu sering dikucilkan oleh teman-teman sekolahnya dan dimarahi oleh gurunya pada hari kematiannya karena ia adalah Muhajir Suriah.

Kementerian Pendidikan secara resmi membantah klaim bahwa bocah itu menjadi sasaran rasisme di sekolahnya.

Akan tetapi, kematian tragis Saud akibat bunuh diri telah membuka percakapan nasional tentang rasisme terhadap Muhajirin Suriah di Turki, menjadi trending topic di media sosial pada hari Sabtu setelah muncul berita mengenai kematian Saud.

Berita palsu jadi pemicu

Turki kini menjadi rumah bagi 3,6 juta Muhajirin Suriah.

Jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan mayoritas warga Turki tidak senang dengan berlanjutnya kehadiran Muhajirin Suriah di negara mereka setelah delapan tahun perang.

Para pengamat menyatakan banyak yang menyalahkan Muhajirin Suriah atas ekonomi Turki yang sedang sakit.

Sukru Oktay Kilic, ahli strategi konten digital untuk organisasi pemeriksa fakta independen Turki Teyit mengatakan pada bulan Agustus bahwa kemarahan yang ditujukan kepada Muhajirin Suriah telah dipicu oleh berita palsu.

“Berita palsu yang menargetkan mereka sebagian besar tentang Muhajirin Suriah mendapat tunjangan dari pemerintah, sementara warga Turki menderita secara finansial akibat krisis mata uang, terlibat dalam kejahatan, dan membuat kota-kota kurang aman,” katanya.

Aktivis kecam rasisme

Kematian Saud yang memilukan dengan cepat menjadi simbol meningkatnya intoleransi dan rasisme yang ditujukan kepada Muhajirin Suriah. Para aktivis menuntut penyelidikan atas kematiannya.

“Jika seorang bocah dikucilkan oleh teman-teman sekelasnya karena ia warga Suriah, tanyakan pada diri Anda sendiri bagaimana Anda membesarkan sebuah generasi yang tidak tahu apa-apa tentang belas kasih dan penderitaan,” tulis aktivis Inggris-Suriah Razan Saffour di Twitter. “Anda telah mengajarkan anak-anak Anda bukan bagaimana menjadi manusia, tetapi bagaimana menjadi seorang monster.”

“Saya berdoa agar sistem peradilan berlaku dalam kasus ini bahwa guru diadili oleh pengadilan dan para perundung ditangani dengan tegas oleh sekolah mereka,” tambahnya.

Aktivis Suriah Lina Shamy menyerukan reformasi hukum untuk mengurangi rasisme setelah kematian Saud.

“Rasisme membunuh dan dengan cara yang sangat buruk,” tulisnya di Twitter. “Bunuh diri bocah ini harus mengubah hukum, membuat sistem yang lebih adil yang akan melindungi manusia dari penyebaran rasisme gila ini.”

Pernyataan serupa dilontarkan oleh aktivis Suriah Israa, yang menulis di Twitter: “Sentimen anti-pengungsi membunuh, mengipasi api kebencian terhadap Muhajirin Suriah dan menolerir ujaran kebencian karena ‘begitulah yang orang rasakan’ bukanlah alasan.

“Saya berharap keluarganya mendapatkan keadilan yang layak mereka dapatkan dan saya berharap penyelidikan serius dilakukan terhadap mereka yang terlibat di sekolah,” tambahnya.

Ali Semin, seorang peneliti Irak di Wise Men Centre for Strategic Studies (BILGESAM) Turki, menulis: “Salah satu tragedi terbesar perang Suriah adalah seorang anak berusia sembilan tahun telah meninggal dunia karena bunuh diri akibat penghinaan. Mereka yang mengatakan bahwa kita tidak menginginkan Muhajirin Suriah harus berpikir tentang psikologi dan kebanggaan anak-anak yang mengungsi dari rumah mereka!”* (Daily Sabah | The New Arab | Sahabat Al-Aqsha)

Foto: Twitter (@sahloul)

Foto: Twitter (@sahloul)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pemukim Ilegal ‘Israel’ Terobos Dan Lakukan Ritual Talmud Di Makam Nabi Yusuf
Ribuan Yahudi Lakukan Ritual Di Dalam Kompleks Masjidil Aqsha »