PBB: Jika Perang Berlanjut, Yaman Akan Jadi Negara Termiskin di Dunia

12 October 2019, 14:39.
Seorang wanita dan kedua putrinya duduk di luar tenda mereka di sebuah kamp untuk pengungsi internal dekat Sanaa, Yaman, pada 15 Agustus 2016. Foto: Reuters/Khaled Abdullah

Seorang wanita dan kedua putrinya duduk di luar tenda mereka di sebuah kamp untuk pengungsi internal dekat Sanaa, Yaman, pada 15 Agustus 2016. Foto: Reuters/Khaled Abdullah

LONDON, Sabtu (Middle East Monitor): Laporan terbaru PBB mengungkap, Yaman akan menjadi negara termiskin di dunia jika perang terus berlanjut.

“Jika pertempuran berlanjut hingga 2022, Yaman akan menduduki peringkat negara termiskin di dunia, dengan 79 persen populasi hidup di bawah garis kemiskinan dan 65 persen diklasifikasikan sebagai sangat miskin,” menurut laporan Program Pembangunan PBB (UNDP) yang dipublikasikan pada hari Rabu.

Sudah menjadi negara termiskin di antara negara-negara Arab, kemiskinan di Yaman akan melonjak dari 47 persen populasi pada 2014 menjadi 75 persen pada akhir 2019. PBB sebelumnya menyebut Yaman menderita “krisis kemanusiaan terburuk di dunia”.

“Perang tidak hanya mengakibatkan Yaman mengalami krisis kemanusiaan terbesar di dunia, tapi juga menjerumuskannya ke dalam krisis pembangunan yang mengerikan juga,” kata perwakilan warga Yaman di UNDP, Auke Lootsma, dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu.

“Krisis yang sedang berlangsung membuat penduduk Yaman terancam menjadi yang termiskin di dunia – sebuah gelar yang tidak mampu ditanggung oleh negara yang sudah menderita ini.”

Jika tidak ada konflik, Yaman bisa memenuhi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan – kerangka kerja global untuk memerangi kemiskinan yang disepakati pada 2015 dengan target pada 2030, ungkap laporan itu.

Laporan itu mengacu pada gangguan terhadap pasar dan institusi, serta penghancuran infrastruktur sosial dan ekonomi, yang mencatat bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita turun dari 3,577 dolar menjadi 1.950 dolar, level yang tidak terlihat di Yaman sejak sebelum 1960.

Perang saudara di negara yang miskin itu terjadi sejak 2014, ketika pemberontak syiah Houthi menguasai sebagian besar bagian dari negara itu, termasuk ibukota Sanaa.

Pada tahun 2015, Arab Saudi dan sekutu-sekutu Arabnya meluncurkan serangan udara besar-besaran untuk merebut kembali bagian-bagian yang dikuasai militer syiah Houthi dan menopang pemerintah Yaman yang diserang.

Menurut PBB, lebih dari 90.000 orang tewas dalam perang, sementara lebih dari 11 persen populasi negara itu telah mengungsi.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Zionis Lukai 22 Anak Gaza di ‘Great Return March’
Syaikh Ikrimah Shabri: “Bebaskan Baitul Maqdis Dengan Landasan Ilmu” »