Dokter Zionis Izinkan Penyiksaan terhadap Tawanan Palestina

22 October 2019, 13:58.
Foto ilustrasi seorang serdadu Zionis ‘Israel’ menutup mata seorang tawanan Palestina. Foto: Nati Shohat/Flash90

Foto ilustrasi seorang serdadu Zionis ‘Israel’ menutup mata seorang tawanan Palestina. Foto: Nati Shohat/Flash90

oleh: Dr. Ruchama Marton, pendiri Physicians for Human Rights – Israel.

TEL AVIV, Selasa (+972 Magazine): Jika badan intelijen Zionis ‘Israel’, Shin Bet, menjalankan sebuah sekolah untuk para agen dan interogatornya, kurikulumnya pasti mencakup kelas tentang cara berbohong. Mata pelajaran yang diajarkan, tampaknya, tidak berubah seiring berjalannya waktu.

Menanggapi tuduhan bahwa Shin Bet secara brutal menyiksa tawanan Palestina Hassan Zubeidi pada tahun 1993, Komandan Komando IDF Utara Yossi Peled mengatakan kepada wartawan ‘Israel’ Gabi Nitzan bahwa, “Tidak ada penyiksaan di ‘Israel’. Saya bertugas selama 30 tahun di IDF dan saya tahu apa yang saya bicarakan.”

Dua puluh enam tahun kemudian, wakil kepala dan mantan interogator Shin Bet, Yitzhak Ilan mengulangi kalimat yang sama kepada presenter berita Ya’akov Eilon di televisi nasional ketika berbicara tentang Samer Arbeed, seorang warga Palestina berusia 44 tahun yang dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis setelah ia dilaporkan disiksa oleh Shin Bet. Arbeed dituduh mengorganisir pengeboman mematikan yang menewaskan seorang gadis remaja ‘Israel’ dan melukai ayah, serta saudara laki-lakinya di sebuah mata air di Tepi Barat pada bulan Agustus. Ilan tersinggung dengan anggapan bahwa Shin Bet bertanggung jawab atas kondisi Arbeed.

Mengesampingkan bentuk-bentuk penolakan yang absurd ini, sebagai dokter dan pendiri Physicians for Human Rights (PHR) – Israel, saya selalu merasa terganggu dengan bagaimana para dokter ‘Israel’ bekerja sama dan mengizinkan aktivitas penyiksaan.

Pada Juni 1993, saya atas nama PHR menyelenggarakan konferensi internasional di Tel Aviv mengenai penyiksaan yang dilakukan penjajah Zionis. Dalam konferensi tersebut, saya mempresentasikan dokumen medis Shin Bet yang ditemukan oleh wartawan ‘Israel’ Michal Sela.

Dalam dokumen itu, dokter Shin Bet ditanya apakah tawanan yang bersangkutan memiliki batasan medis – terkait upaya penjajah Zionis untuk terus menyekap mereka dalam sel isolasi, apakah mereka dapat diikat, apakah wajah mereka dapat ditutup, atau apakah mereka bisa dibuat berdiri untuk jangka waktu yang lama.

Shin Bet membantah ada dokumen semacam itu. “Tidak ada dokumen. Itu hanya sebuah makalah eksperimental yang tidak digunakan,” klaim badan intelijen Zionis itu. Empat tahun kemudian, dokumen kedua, yang mencurigakan mirip dengan yang pertama, terungkap. Dokumen itu meminta dokter untuk menandatangani (izin) penyiksaan sesuai dengan beberapa klausul yang telah disepakati sebelumnya.

Dokumen pertama, bersama dengan temuan lain, diterbitkan dalam buku berjudul “Torture: Human Rights, Medical Ethics and the Case of Israel.” Buku itu tidak dapat ditemukan di Israel; Steimatzky, jaringan toko buku tertua dan terbesar ‘Israel’, telah melarang penjualannya.

Setelah dokumen itu ditemukan, PHR berpaling ke Israel Medical Association (IMA) dan memintanya untuk bergabung dengan perjuangan melawan penyiksaan. IMA meminta agar PHR menyerahkan nama-nama dokter Shin Bet yang menandatangani dokumen itu sehingga mereka dapat ditangani secara internal.

Saya menolak untuk menyerahkan nama-nama itu dan mengatakan kepada pengacara IMA bahwa saya tidak tertarik mengincar “dokter biasa” – saya ingin mengubah seluruh sistem. Itu berarti menghapuskan legitimasi yang diberikan pada pengakuan yang dibuat karena penyiksaan, mendidik anggota IMA tentang tidak bekerja sama dengan penyiksa, dan khususnya memberikan bantuan aktif kepada para dokter yang melaporkan dugaan penyiksaan atau interogasi brutal.

Saat itu, IMA hanya menerima pernyataan kami, namun tidak melakukan apa pun untuk mencegah dokter-dokter Shin Bet bekerja sama dengan penyiksaan. Selain itu, organisasi itu gagal memenuhi kewajibannya untuk membentuk sebuah forum bagi dokter untuk melaporkan dugaan penyiksaan.

Kegagalan etika, moral, dan praktik

Akan tetapi, bukan hanya dokter di Shin Bet dan Dinas Penjara Israel (IPS) yang bekerja sama terkait penyiksaan. Para dokter di ruang gawat darurat di seluruh wilayah Palestina terjajah 1948 (yang kini disebut ‘Israel’) menuliskan opini medis palsu sesuai dengan tuntutan Shin Bet. Contohnya, kasus Nader Qumsieh dari kota Beit Sahour di Tepi Barat terjajah. Dia ditangkap di rumahnya pada 4 Mei 1993 dan dibawa ke Pusat Medis Soroka di Be’er Sheva lima hari kemudian. Di sana seorang ahli urologi mendiagnosisnya pendarahan dan skrotum robek.

Qumsieh bersaksi bahwa dia dipukuli selama interogasi dan ditendang testisnya.

Sepuluh hari kemudian, Qumsieh dibawa ke ahli urologi yang sama untuk pemeriksaan medis. Ahli urologi tersebut menulis surat retroaktif (seolah-olah telah ditulis dua hari sebelumnya), tanpa benar-benar melakukan pemeriksaan tambahan pada pasien, di mana ia mengatakan bahwa “menurut pasien, dia jatuh dari tangga dua hari sebelum dia tiba di ruang gawat darurat.” Kali ini, diagnosis adalah “hematoma superfisial (di bawah kulit) di daerah skrotum, yang sesuai dengan memar lokal yang bertahan antara dua dan lima hari sebelum pemeriksaan.” Surat asli ahli urologi tersebut, yang ditulis setelah pemeriksaan pertama, menghilang dari arsip medis Qumsieh.

Sejarah mengajarkan kepada kita bahwa para dokter di mana pun dengan mudah dan efektif menginternalisasikan nilai-nilai rezim, dan banyak dari mereka menjadi pelayan setia rezim. Itulah yang terjadi dengan Nazi di Jerman, di Amerika Serikat, dan di berbagai negara di Amerika Latin. Hal yang sama berlaku untuk penjajah Zionis. Kasus Qumsieh, bersama dengan tawanan lain yang tak terhitung jumlahnya, mencerminkan kegagalan etika, moral, dan praktik dari pengembangan medis di ‘Israel’ mengenai penyiksaan.

Pada abad ke-18, para ahli hukum – bukan dokter – menerbitkan pendapat hukum disertai dengan bukti bahwa tidak ada hubungan antara menyebabkan rasa sakit dan mendapatkan kebenaran. Dengan demikian, baik penyiksaan maupun pengakuan yang didapatkan melalui rasa sakit secara hukum didiskualifikasi.

Akan tetapi, penyiksaan – yang mencakup kekejaman mental dan fisik – terus terjadi dalam skala besar. Mengapa? Karena, tujuan sebenarnya dari penyiksaan dan penghinaan adalah untuk menghancurkan semangat dan tubuh tawanan. Untuk menghilangkan kepribadiannya.

Dokumen kelayakan medis Shin Bet mengizinkan pelarangan tidur, mengizinkan interogator mengekspos tawanan pada suhu ekstrem, memukuli mereka, mengikat mereka selama berjam-jam dalam posisi yang menyakitkan, memaksa mereka berdiri berjam-jam sampai pembuluh di kaki mereka pecah, menutupi kepala mereka untuk jangka waktu yang lama, mempermalukan mereka secara seksual, mematahkan semangat mereka dengan memutuskan hubungan mereka dengan keluarga dan pengacara, serta mengizinkan untuk terus menerus menyekap mereka dalam sel isolasi sampai para tawanan kehilangan kewarasan mereka.

Formulir kelayakan medis Shin Bet ini mengarahkan tawanan langsung ke ruang penyiksaan – dan para dokter mengetahui hal ini. Dokter-dokter itu tahu seperti apa proses sistematis dari rasa sakit dan penghinaan yang mereka berikan izin dan persetujuan. Para dokterlah yang mengawasi penyiksaan, memeriksa tawanan yang disiksa, dan menulis pendapat medis atau laporan patologi.

Jubah putih melewati ruang penyiksaan seperti bayangan yang mengintai selama interogasi. Seorang dokter yang bekerja sama dengan aktivitas penyiksaan ‘Israel’ berarti terlibat dalam kegiatan tersebut. Jika seorang tawanan tewas selama interogasi, dokter adalah kaki tangan dari pembunuhnya. Dokter, perawat, petugas medis, dan hakim yang tahu apa yang terjadi dan lebih memilih untuk tetap diam semuanya adalah kaki tangannya.

Kita harus tanpa syarat menentang segala bentuk penyiksaan – tanpa kecuali. Kita harus menolak untuk bekerja sama dengan kejahatan penyiksaan, dan terlebih lagi ketika itu menyangkut dokter.

Kita juga tidak boleh bersembunyi di balik gagasan bahwa penyiksaan merupakan gejala dari penjajahan sambil mengatakan kepada diri kita sendiri bahwa praktik itu akan hilang ketika penjajahan berakhir. Penyiksaan adalah cara pandang yang menurut hak asasi manusia tidak memiliki tempat atau nilai. Penyiksaan telah ada jauh sebelum penjajahan dan itu akan terus ada jika kita tidak mengubah cara pandang itu.

Penyiksaan menyebabkan kehancuran tatanan sosial kita. Tidak hanya mereka yang melakukan “pekerjaan” mengerikan ini kehilangan nilai-nilai moralitas, martabat manusia, dan demokrasi, tetapi juga semua orang yang tetap diam, tidak mau tahu. Yakni, kita semua.* (+972 Magazine | Sahabat Al-Aqsha)

Anak-anak lelaki Palestina berpakaian seperti para tawanan memprotes pembebasan tawanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara ‘Israel’, Kota Gaza, 21 April 2007. Foto: Ahmad Khateib/Flash90

Remaja Palestina berunjuk rasa dengan berpakaian seperti para tawanan untuk menuntut pembebasan tawanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara ‘Israel’, Kota Gaza, 21 April 2007. Foto: Ahmad Khateib/Flash90

Aktivis ‘Israel’ berpartisipasi dalam unjuk rasa memprotes penggunaan penyiksaan, 2011. Foto: Oren Ziv/Activestills.org

Aktivis berunjuk rasa memprotes penggunaan penyiksaan oleh penjajah Zionis, 2011. Foto: Oren Ziv/Activestills.org

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Ismail Haniyah: Rencana Penjajah Zionis Yahudisasi Baitul Maqdis Tak Akan Berhasil
Pejabat Maungdaw Terang-terangan Ancam Pecat Pegawai Rohingya »