SNHR: Rezim Suriah Praktikkan 72 Metode Penyiksaan Sadis

23 October 2019, 22:34.
Sumber: Zaman Al Wasl

Sumber: Zaman Al Wasl

HOMS, Rabu (Zaman Al Wasl): Syrian Network for Human Rights (SNHR) mengungkapkan dalam laporan terbarunya bahwa rezim Suriah telah mempraktikkan 72 metode penyiksaan terhadap para tawanan di sel penjara dan rumah sakit militer.

Laporan setebal 65 halaman itu menyatakan bahwa penyiksaan di pusat-pusat penahanan rezim masih berlanjut hingga saat ini. Laporan itu mendokumentasikan kematian setidaknya 14.000 orang karena penyiksaan di pusat-pusat penahanan rezim Suriah antara Maret 2011 dan September 2019, termasuk 185 orang yang terbunuh sejak awal 2019.

Sekitar 1,2 juta warga Suriah telah ditangkap dan ditawan di beberapa titik di pusat-pusat penahanan rezim, termasuk 130.000 orang yang masih ditawan atau dihilangkan paksa oleh rezim Suriah, sejak revolusi pecah pada Maret 2011, ungkap SNHR.

Laporan tersebut mengungkap bahwa antara Maret 2011 dan September 2019, sekitar 14.298 orang, termasuk 178 anak-anak dan 63 wanita (wanita dewasa) didokumentasikan tewas akibat penyiksaan oleh pihak-pihak utama dalam konflik di Suriah, termasuk 14.131 orang tewas oleh pasukan rezim Suriah, 173 di antaranya adalah anak-anak dan 45 orang wanita.

Selain itu, sekitar 57 orang termasuk dua anak-anak dan 14 wanita, didokumentasikan tewas akibat penyiksaan oleh kelompok-kelompok teroris, 32 di antaranya, termasuk satu anak dan 14 wanita, meninggal dunia di penjara ISIS. Sedangkan 25 lainnya, termasuk satu anak tewas akibat penyiksaan di penjara Hay’at Tahrir al-Sham.

Menurut SNHR, sekitar 43 orang termasuk seorang anak dan seorang wanita meninggal dunia karena penyiksaan di penjara faksi-faksi Oposisi Bersenjata. Sedangkan 47 orang lainnya juga didokumentasikan tewas akibat penyiksaan oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin suku Kurdi, termasuk seorang anak dan dua wanita. Laporan itu juga mencatat bahwa sekitar 20 orang didokumentasikan meninggal dunia akibat penyiksaan oleh pihak-pihak lainnya.

Pola dasar penyiksaan adalah: penyiksaan fisik yang terdiri dari 39 metode, pengabaian kesehatan dan kondisi penahanan (enam metode), kekerasan seksual (delapan metode), penyiksaan psikologis dan penghinaan martabat manusia (delapan metode), penyiksaan di rumah-rumah sakit militer (sembilan metode), serta kerja paksa dan fenomena ‘pemisahan’.

SNHR baru-baru ini mengonfirmasi identitas 29 orang lagi yang muncul dalam foto-foto karya Caesar yang diselundupkan keluar dari rumah-rumah sakit militer. Laporan sebelumnya yang dikeluarkan oleh SNHR telah mengidentifikasi 772 dari para korban. Kasus terbaru berarti antara Maret 2015 dan September 2019, SNHR telah berhasil mengidentifikasi sekitar 801 korban yang ada dalam foto-foto Caesar, termasuk dua anak dan 10 wanita, setelah menerima sekitar 6.189 foto yang diselundupkan oleh Caesar.

Laporan ini didasarkan pada basis data SNHR mengenai penahanan, penghilangan paksa dan penyiksaan yang telah didokumentasikan melalui pemantauan harian dan dokumentasi sejak 2011.

Laporan itu mencakup 20 keterangan dari korban penyiksaan yang selamat atau kerabat korban yang diperoleh melalui wawancara langsung dengan para saksi.

Menurut lembaga International Conscience Movement, lebih dari 13.500 wanita telah dipenjara sejak konflik Suriah dimulai, sementara lebih dari 7.000 wanita masih dalam tahanan, di mana mereka menjadi sasaran penyiksaan, pemerkosaan dan kekerasan seksual.

Sumber-sumber oposisi Suriah menyatakan, lebih dari 500.000 tawanan masih berada di dalam penjara-penjara rezim Suriah.

Perang selama delapan tahun telah merenggut nyawa ratusan ribu orang dan memaksa 13 juta orang mengungsi, setengah dari mereka telah meninggalkan tanah air mereka yang hancur.* (Zaman Al Wasl | Sahabat Al-Aqsha)

Sumber: SNHR

Sumber: SNHR

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pejabat Maungdaw Terang-terangan Ancam Pecat Pegawai Rohingya
Ketua Misi Pencari Fakta PBB Ingatkan Risiko Genosida Rohingya Terulang di Arakan »