Sisi Lain di Balik Rencana Relokasi Pengungsi Rohingya ke Pulau Terpencil Bangladesh

26 October 2019, 18:57.
Sumber: Rohingya Vision

Sumber: Rohingya Vision

COX’S BAZAR, Sabtu (Rohingya Vision): Banyak pengungsi Rohingya yang keluarganya masuk dalam daftar relokasi protes karena nama mereka tetap dimasukkan, meski telah menolak rencana tersebut. Sementara pengungsi lainnya terkejut ketika diberitahu bahwa nama mereka ada dalam daftar warga yang bersedia direlokasi.

“Sekitar 6.000 sampai 7.000 pengungsi telah menyatakan keinginannya untuk direlokasi ke pulau Bhashan Char. Jumlahnya terus bertambah,” kata Kepala Komisi Bantuan dan Repatriasi Pengungsi (RRRC) Mahbub Alam.

Untuk mengonfirmasi hal ini secara langsung, Rohingya Vision mewawancara sejumlah pengungsi dan respon mereka sangat bertolak belakang dengan apa yang disampaikan RRRC.

Seorang aktivis dari sebuah kamp mengatakan, “Daftar tersebut benar-benar menggemparkan kamp.”

Pada 18 Oktober, penanggung jawab kamp (CiC) memanggil para ketua kamp (yang disebut majhi) untuk rapat di kantor mereka dan meminta majhi mengumpulkan daftar nama pengungsi yang berkeinginan untuk pindah ke pulau kecil Bhashan Char.

“Sejumlah majhi memasukkan nama-nama pengungsi tanpa sepengetahuan mereka,” tambahnya, contohnya, “Di Blok 29, kamp 8 Timur.”

Mereka mendaftarkan lebih dari 70 hingga 100 keluarga. Washington Post mengutip pernyataan pejabat tinggi administrasi di Cox’s Bazar, Kamal Hossain, “Saya memiliki daftar 100 keluarga yang terdiri dari sekitar 7.000 orang pengungsi.” Akan tetapi, hal tersebut terasa tidak masuk akal.

Dikabarkan para majhi memasukkan keluarga-keluarga tersebut yang secara pribadi mereka tidak suka karena sejumlah alasan, seperti konflik pribadi atau lainnya.

Banyak pengungsi yang diwawancara mengatakan bahwa mereka lebih memilih kembali ke Myanmar daripada dipindah ke “pulau kematian” tersebut. Para pengungsi juga khawatir bahwa pemindahan ini akan membuat mereka telantar dan menunda repatriasi mereka.

A. Karim, seorang imam di sebuah masjid di kamp pengungsi mengatakan, “Bangladesh mengencangkan cengkeramannya kepada kami dan semakin sulit dari hari ke hari. Penanggung jawab kamp kami mengancam akan memberikan hukuman jika kami tidak bersedia pindah ke pulau itu.” Ia merujuk pada larangan telepon seluler dan juga rencana pemasangan kawat berduri di sekitar kamp.

Pada 16 Oktober lalu, penanggung jawab kamp di Kamp No. 16, Shobiullah Hada mengumumkan di setiap blok bahwa para pengungsi Rohingya tidak boleh menggunakan kartu SIM Bangladesh maupun Myanmar. Jika ada pengungsi yang ketahuan menggunakan kartu SIM lokal maka kartu SIM dan telepon seluler mereka akan disita. Sedangkan jika mereka menggunakan jaringan Myanmar, mereka akan dipenjara.

Seorang pengungsi bernama Monzur A., mengatakan bahwa ketika ia sedang mengambil bantuan untuknya, ia diberitahu bantuan itu akan ditahan jika mereka menolak relokasi. “Baik relokasi ataupun repatriasi (yang dipaksakan) ini, keduanya menyengsarakan kami,” jelasnya.

Pulau Bhasan Char (dalam bahasa Bengal berarti ‘mengapung’) adalah pulau kecil yang rawan banjir. Pemerintah Bangladesh bekerja sama dengan China berencana memindahkan para pengungsi Rohingya ke sana. Sebagaimana yang dikhawatirkan aktivis, pemindahan para pengungsi ke pulau ini akan membuat proses repatriasi semakin tertunda sehingga China bisa mengeruk keuntungan dari lahan Rohingya di Arakan yang selama ini telah diincar untuk bisnis gas alam Shwe.

Pengungsi lain yang identitasnya dirahasiakan, mengatakan, “Itu adalah pulau yang 165 juta penduduk Bangladesh sendiri tak mau tinggal di sana, tetapi pemerintah Bangladesh ingin menguji coba kelayakan huni pulau itu dengan mengorbankan nyawa kami.” Lebih lanjut ia menyarankan, “Dibanding pulau berlumpur terpencil ini, daerah perbukitan dan kawasan pegunungan lainnya di sepanjang perbatasan lebih cocok untuk digunakan sebagai tempat relokasi dan lebih aman bagi pengungsi.”

Jika para pengungsi direlokasi ke pulau kecil ini, besar kemungkinan mereka akan jatuh ke tangan jahat pelaku perdagangan manusia dan penyelundup, memperbanyak jumlah manusia kapal, serta meningkatkan pembajakan di Teluk Bengal dan Samudera India.* (Rohingya Vision | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Ketua Misi Pencari Fakta PBB Ingatkan Risiko Genosida Rohingya Terulang di Arakan
Rezim Assad dan Rusia Bombardir Pasar Sayur di Idlib, Enam Warga Sipil Tewas »