Jerman Tuntut Dua Orang Kaki Tangan Assad atas Kejahatan terhadap Kemanusiaan

1 November 2019, 22:09.
Seorang pria Suriah memperlihatkan bekas siksaan di punggungnya setelah ia dibebaskan oleh pasukan rezim di Aleppo pada 2012. Foto: AFP/Getty Images

Seorang pria Suriah memperlihatkan bekas siksaan di punggungnya setelah ia dibebaskan oleh pasukan rezim di Aleppo pada 2012. Foto: AFP/Getty Images

BERLIN, Jum’at (The Guardian): Jerman menuntut dua orang yang diduga mantan pejabat dinas rahasia Suriah atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Jaksa federal mengumumkan langkah penting itu sebagai upaya untuk mencari keadilan atas kekejaman yang dilakukan rezim dalam perang sipil yang panjang di negara itu.

Anwar Raslan dan Eyad al-Gharib ditangkap pada bulan Februari dalam sebuah operasi oleh polisi Jerman dan Prancis.

Raslan diduga memimpin unit investigasi di penjara yang dikenal dengan Cabang 251, dekat ibukota Suriah, Damaskus. Jaksa mengklaim sekitar 4.000 orang disiksa oleh bawahannya selama interogasi di sana antara April 2011 dan 2012, yakni penjaga penjara menggunakan batang besi, kabel dan cambuk untuk memukuli tawanan selama interogasi.

Menurut jaksa Jerman, sejumlah tawanan disengat dengan listrik, sementara yang lain “pergelangan tangan mereka digantung di langit-langit”. Akibatnya, banyak yang tewas, dan Raslan dituntut dengan 59 tuduhan pembunuhan, pemerkosaan dan kekerasan seksual.

“Sebagai kepala unit investigasi, tertuduh Anwar Raslan menentukan dan mengawasi prosedur operasional penjara, termasuk penggunaan penyiksaan yang sistematis dan brutal,” kata jaksa penuntut dalam sebuah pernyataan. “Dia menyadari fakta bahwa para tawanan tewas akibat penggunaan kekerasan yang masif.”

Gharib diduga melapor kepada Raslan, menangkap para demonstran dan membawa mereka ke penjara Cabang 251. Ia dituntut karena berperan dalam penculikan dan penyiksaan terhadap setidaknya 30 orang pada musim gugur 2011.

Raslan dan Gharib meninggalkan Suriah pada 2013 dan memasuki Jerman sebagai pencari suaka pada Juli 2014 dan Agustus 2018.

Anwar Raslan tertangkap radar penyelidik Jerman setelah sejumlah orang yang diduga korbannya melihat ia di Berlin dan melaporkan hal itu ke pihak berwenang.

Setelah bertahun-tahun kematian warga sipil dan penderitaan oleh berbagai pihak selama konflik Suriah, upaya tersebut untuk menyeret para pelaku ke pengadilan dan menghilangkan kekebalan hukum melalui pengadilan nasional di sejumlah negara.

Banyak yang tergerak oleh orang-orang Suriah yang selamat, kerabat, aktivis dan pengacara, mengumpulkan bukti dan mengajukan pengaduan pidana di berbagai negara termasuk Jerman, Austria dan Swedia.

Kejahatan yang terdokumentasi termasuk penggunaan senjata kimia dan penyiksaan, eksekusi massal, penculikan oleh ISIS dan perbudakan seksual terhadap para wanita Yazidi, dan pengeboman rumah-rumah sakit dan instalasi sipil.

Belum ada upaya internasional bersama karena Suriah bukan merupakan pihak dalam perjanjian yang membentuk Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Rusia dan China juga telah memveto upaya untuk mengamanatkan ICC membentuk pengadilan khusus untuk Suriah.

Penuntutan oleh Jerman disambut baik oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia. “Kami mulai melihat hasil dari dorongan kuat para korban dan yang lainnya untuk meraih keadilan,” ungkap Balkees Jarrah, penasihat senior di Human Rights Watch (HRW).

“Kasus-kasus kriminal di Jerman dan tempat lain di Eropa adalah langkah pertama yang penting untuk menghilangkan kekebalan hukum yang telah terlalu lama melanda Suriah. Para pelaku harus memerhatikan bahwa volume informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dikumpulkan untuk membantu memastikan mereka berhadapan dengan pengadilan, tidak peduli berapa lama waktu berlalu.”

Pusat Konstitusi dan Hak Asasi Manusia Eropa (ECCHR) yang berpusat di Berlin, yang membantu para korban kekerasan di Suriah dan di tempat lain, mengatakan tujuh warga Suriah akan menjadi penggugat dalam kasus ini, sebagaimana diizinkan oleh hukum Jerman.

“Tuntutan ini mengirim pesan penting kepada para korban yang selamat dari sistem penyiksaan Assad,” kata Wolfgang Kaleck dari ECCHR. “Kami akan terus bekerja untuk memastikan bahwa para pelaku utama penyiksaan di bawah kendali Assad diseret ke pengadilan – di Jerman atau di tempat lain.”

Persidangan, yang akan dimulai pada 2020, akan menjadi penuntutan pertama atas penyiksaan di Suriah yang disokong negara. ECCHR menggambarkannya sebagai “langkah penting dalam perjuangan melawan kekebalan hukum.”

Menurut ECCHR, seorang korban yang selamat dari Cabang 251 –yang tidak disebutkan namanya– mengatakan proses pengadilan adalah pembawa harapan.

“Proses (hukum) di Jerman ini memberi harapan, bahkan jika semuanya membutuhkan waktu yang lama dan tidak ada yang terjadi besok, atau bahkan lusa. Fakta bahwa hal itu terus berlanjut memberi kita, sebagai korban yang selamat, harapan akan keadilan. Saya siap untuk bersaksi,” kata korban tersebut.

Otoritas Jerman menangani kasus-kasus itu berdasarkan prinsip hukum yurisdiksi universal, yang memungkinkan penuntutan kejahatan di satu negara bahkan jika itu terjadi di tempat lain.* (The Guardian | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« KVN: Rencana Besar Myanmar Asingkan Rohingya
Pengungsi Rohingya Keluhkan Perlakuan Buruk Otoritas Bangladesh »