1.000+ Warga Suriah Tewas Akibat Serangan Udara Rezim dan Rusia Sejak April

21 November 2019, 20:22.
Tim pencarian dan penyelamatan di antara puing-puing rumah setelah serangan udara di Idlib bulan ini. Foto: Anadolu Agency/Getty

Tim pencarian dan penyelamatan di antara puing-puing rumah setelah serangan udara di Idlib bulan ini. Foto: Anadolu Agency/Getty

LONDON, Kamis (The Guardian): Pengeboman oleh rezim Suriah dan pasukan Rusia di daerah-daerah kantong terakhir yang dikuasai oposisi telah menewaskan 1.300 orang dan membuat hampir satu juta orang mengungsi sejak April, menurut Syria Campaign.

Badan amal yang berbasis di Inggris itu menyatakan, 304 anak dan 11 pekerja penyelamat telah tewas dalam pengeboman di provinsi Idlib barat laut dan daerah pedesaan di sekitarnya.

Beberapa jam setelah angka itu dirilis pada hari Rabu, serangan oleh pasukan presiden Suriah Bashar al-Assad dan Rusia menewaskan sekitar 21 warga sipil, termasuk 10 anak-anak, di provinsi Idlib yang dikuasai oposisi.

Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) menyatakan rudal darat-ke-darat yang ditembakkan oleh pasukan rezim menghantam sebuah fasilitas bersalin di sebuah kamp darurat untuk para pengungsi yang berada dekat perbatasan dengan Turki. Rudal itu menewaskan 15 warga sipil, termasuk enam anak-anak, dan melukai sekitar 40 lainnya.

Pesawat militer Rusia juga menargetkan kota Maaret al-Numan di selatan provinsi tersebut, kata Observatory, dan “enam warga sipil tewas, di antara mereka ada empat anak-anak”.

Seorang fotografer yang bekerja dengan AFP melihat petugas penyelamat menggotong mayat seorang gadis yang tertutup debu dari puing-puing dan menempatkannya di sebuah ambulans.

Assad dan sekutunya, Rusia, memulai serangan udara dan operasi darat terbatas terhadap oposisi Suriah yang masih tersisa pada 26 April.

Sekitar 11.500 serangan udara telah dilakukan sejak saat itu, termasuk penggunaan lebih dari 460 bom tandan dan 1.280 bom gentong, yang ilegal menurut hukum internasional. Semuanya digunakan untuk menargetkan infrastruktur sipil, seperti sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit. Sekitar 42.000 orang telah meninggalkan rumah mereka dalam seminggu terakhir saja.

Ahmad Arafat, manajer Hurras Child Protection Network di Idlib, mengatakan: “Dengan semakin dekatnya musim dingin, situasinya sangat buruk di kamp-kamp. Mereka yang melarikan diri baru-baru ini tinggal di bawah pohon tanpa tempat berlindung atau tenda untuk melindungi mereka. Anak-anak terus menerus hidup dalam ketakutan dan tidak dapat bermain di luar atau pergi ke taman. Berada di mana saja secara berkelompok bisa menjadi target pengeboman. Terutama sekolah sangat berbahaya.”

Kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Rusia dan Turki pada September tahun lalu seharusnya menyelamatkan Idlib dari ancaman serangan rezim.

Lembaga-lembaga bantuan telah memperingatkan bahwa serangan terhadap Idlib akan membahayakan jiwa tiga juta warga sipil dan memicu bencana kemanusiaan terburuk. Idlib awalnya adalah rumah bagi sekitar satu juta orang, namun populasi Idlib membengkak karena banyaknya warga sipil yang mengungsi akibat pertempuran di daerah lain di negara itu.* (The Guardian | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Kelompok Bersenjata Rakhine Rampok Padi, Pukuli Muslim Rohingya
Sejumlah Anak Tewas dalam Serangan Mematikan di Kamp Pengungsi, Idlib »