Tak Lagi Punya Tempat Tinggal, 150 Pengungsi Rohingya di Nepal Butuh Bantuan

26 November 2019, 18:52.
Sumber: Rohingya Vision (hanya sebagai ilustrasi)

Sumber: Rohingya Vision (hanya sebagai ilustrasi)

DHAKA, Selasa (Rohingya Vision): Hampir 150 orang pengungsi Rohingya di Kathmandu, Nepal, terpaksa hidup tanpa rumah dan dalam kondisi memprihatinkan setelah kamp mereka dirobohkan oleh pemilik tanah.

Ada sekitar 350 pengungsi Rohingya yang berjuang hidup di gubuk-gubuk yang berada di lereng bukit di sekitar Kapan, di pinggiran kota utara Kathmandu. Mereka menyewa lahan dari penduduk lokal dan dengan biaya sendiri mereka membangun gubuk-gubuk yang membentuk empat kamp kecil.

Pekan lalu, tiba-tiba pemilik lahan memaksa mereka yang berada di Plot-2 untuk pindah. Tak hanya itu, gubuk mereka pun dirusak. Mereka dipaksa pergi dan berupaya mendirikan gubuk serupa di lokasi lain, tapi mereka tidak diizinkan.

“Kami sedang membangun gubuk sementara di lokasi lain di Kapan. Belum juga selesai, gubuk-gubuk kami dirobohkan dan kami dilarang untuk membangun apa pun,” kata seorang pengungsi.

Akhirnya 150 orang tersebut terpaksa hidup sebagai tunawisma dan saat ini rekan pengungsi yang lain menampung mereka di gubuk-gubuk mereka, meski untuk anggota keluarga sendiri saja sebenarnya tidak muat.

Seorang kepala keluarga tuan rumah menyatakan, “Gubuk milikku tidaklah cukup untuk anggota keluargaku yang terdiri dari empat orang. Jadi, sangat sulit untuk menyediakan tempat bagi 150 orang saudara kami ini. Akan tetapi, kami harus menolong mereka.”

Salah seorang korban mengatakan, “Kami sudah menemui UNHCR, namun tidak mendapat tanggapan positif dari mereka.”

Meski sebagian besar pengungsi Rohingya di Nepal sudah terdaftar di UNHCR, mereka tidak bisa mencari pekerjaan secara resmi dengan kartu yang diberikan oleh badan pengungsi PBB itu. Hal ini dikarenakan Nepal tidak mengakui Rohingya sebagai pengungsi atas dasar bahwa negara itu tidak menandatangani konvensi PBB mengenai pengungsi tahun 1951 dan bukan pula pendukung Protokol 1967 yang berkenaan dengan status pengungsi.

Para pengungsi Rohingya tidak diperkenankan mendapat pekerjaan formal apa pun dan hanya bergantung pada pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Pekerjaan apa pun yang mereka lakukan, baik sebagai tukang kayu, tukang pipa ledeng, sampai menjadi tukang bangunan pun, semua harus dalam status tidak tetap, tidak resmi, dan akan selalu diawasi. Akibatnya, mereka terus menerus mendapat gaji di bawah upah minimum.

Tidak hanya itu, mereka sering ditipu dan dieksploitasi. Bayaran untuk mereka pun jauh di bawah gaji para pekerja lokal. Karena situasi ini, mereka tidak mampu menyewa apartemen ataupun rumah sebagaimana para pengungsi selain Rohingya.

UNHCR memotong bantuan bulanan mereka yang sebesar 40 dolar pada tahun 2015 dengan alasan minimnya dana yang masuk. Mereka pun terpaksa keluar dari rumah yang disewa karena biaya sewa sebesar 4.000 rupee Nepal tidak sanggup mereka bayar.

Menurut seorang pengungsi Rohingya, UNHCR dulu juga memberikan bantuan pendidikan bagi setiap pelajar pengungsi. Akan tetapi, sekarang bantuan pendidikan untuk jenjang pendidikan usia dini dan taman kanak-kanak telah dihentikan. Sedangkan untuk jenjang lain ikut dikurangi pada tahun depan dan akan berhenti sepenuhnya. Ini membuat para pengungsi semakin cemas.

Ada sekitar 350 orang pengungsi Rohingya yang hidup serba terbatas di Kathmandu. Kebanyakan tinggal di Kapan, di mana ketika musim hujan mereka sangat rawan menjadi korban longsor, banjir, dan badai. Gubuk-gubuk mereka pun rentan mengalami kebocoran. Selama berbulan-bulan mereka akan menghadapi kerasnya musim dingin di sana tanpa ada sistem pemanas ruangan.

Berbagai sumber menyebutkan bahwa di Nepal tersebar sekitar 600 orang pengungsi Rohingya yang hampir mustahil untuk bisa mengonfirmasi jumlah tepatnya.* (Rohingya Vision | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« 29.000+ Anak Tewas di Suriah Sejak Awal Perang
Serangan Gencar Rezim dan Sekutunya ke Idlib untuk Hapuskan Penduduk di Daerah Strategis »