Dokter Spesialis Anak: Beban Perang Pengaruhi ‘Pemberian ASI’ di Suriah Utara

28 November 2019, 16:24.
Sumber: Zaman Al Wasl

Sumber: Zaman Al Wasl

HOMS, Kamis (Zaman Al Wasl): Di Suriah, perang telah meninggalkan jejaknya dalam segala hal, bahkan pada hubungan antara ibu dan bayi mereka, mengakibatkan keretakan hubungan di antara mereka yang terlihat jelas dari menurunnya praktik menyusui bayi.

Berdasarkan pengamatan para dokter di klinik-klinik dan rumah-rumah sakit, terutama yang beroperasi di utara Suriah, alasannya bervariasi dan kadang-kadang bisa mengejutkan.

Dalam satu kasus, Umm Adib (29), yang tinggal di sebuah kamp di perbatasan, mengatakan, “Setelah terjadi kebakaran di tenda saya, ASI saya mengering padahal bayi saya baru berusia satu bulan. Saya berhasil memadamkan api dengan bantuan para tetangga, tetapi gambaran api yang membakar bagian-bagian tenda mengejutkan saya dan memengaruhi laktasi saya, yang berhenti beberapa hari kemudian. Saya harus memberikan susu formula, meskipun sulit didapat. Saya sedih karena tidak bisa menyusui bayi saya.”

Ibunda Umm Adib menjelaskan, tidak mudah menemukan susu formula begitu sering, dan mereka harus membelinya dari apotek dengan harga yang sangat mahal.

Ketika dunia merayakan Pekan Menyusui Sedunia pada Agustus lalu, ratusan keluarga Suriah, termasuk sejumlah ibu menyusui terpaksa melarikan diri menuju perbatasan karena serangan udara di pedesaan utara Hama dan Idlib.

Iman Mohammed (19) mengatakan, “Saya mengungsi dari pedesaan selatan Idlib dengan suami saya, dua anak dan seorang bayi ke perbatasan Suriah-Turki. Tanpa tenda atau tirai, saya tidak memiliki privasi dan saya malu untuk menyusui bayi saya. Saya khawatir tidak bisa mendapatkan susu formula untuk bayi saya yang berumur tujuh bulan. Produksi ASI saya dipengaruhi oleh kekurangan gizi dan tekanan psikologis yang saya alami selama berbulan-bulan menjelang saya mengungsi.”

Ghada Al Omari, direktur Program Perlindungan di Watan Foundation, mengatakan, “Sayangnya, banyak ibu muda yang kurang mendapat dukungan dan merasakan pengalaman penting menyusui bayi mereka. Pengungsian dan akomodasi yang tidak lengkap mendorong para ibu untuk berhenti menyusui. Oleh karena itu, mendukung masalah ini akan meningkatkan kesadaran dan menekankan pentingnya hal ini kepada para pendukung proyek-proyek kemanusiaan di Suriah. Studi nyata dan terdokumentasi adalah tugas semua organisasi yang beroperasi di Suriah utara, baik lokal maupun global.”

Memberi makan dan menjaga bayi di seluruh Suriah utara tetap sehat merupakan tantangan tersendiri. Ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan para dokter spesialis anak UNICEF merekomendasikan praktik menyusui bayi di zona-zona konflik, ketergantungan terhadap pemberian susu formula di Suriah utara justru meningkat.

Dokter spesialis anak Nahla Al-Saeed prihatin dengan kesehatan bayi-bayi di sana, daftar penyebabnya panjang dan rumit: “Malnutrisi dalam proporsi yang beragam serta ketidakstabilan memengaruhi kualitas susu ibu. Bagaimana mereka bisa menyusui jika mereka tidak makan? Iklan susu formula juga berkontribusi pada kecenderungan pemberian susu botol, meskipun ada sedikit pengingat akan pentingya menyusui selama enam bulan pertama. Faktor lainnya adalah ketersediaan botol susu dalam paket bantuan makanan.”

Dr. Orwa Abdullah mengatakan bahwa yayasan telah melakukan sensus umum mengenai tingkat kekurangan gizi di antara ibu hamil dan menyusui, yang mewakili 8% dari masyarakat Suriah, dan anak-anak di bawah lima tahun. Hasilnya menyimpulkan bahwa keprihatinan publik terhadap masalah itu masih rendah.

Selain kematian kaum ibu karena pengeboman, alasan kesenjangan yang semakin lebar antara para ibu dan bayi mereka tampaknya lebih kompleks, meluas ke alasan sosial juga, yakni perceraian. Pengadilan Legislatif telah mengonfirmasi bahwa tingkat perceraian telah meningkat di Suriah selama masa perang. Menurut statistik Istana Kehakiman di Damaskuas, tingkat perceraian naik pada 2017 menjadi 31% dengan 7.703 kasus di Damaskus saja, di mana banyak di antaranya hak asuh anak diperebutkan di antara orang tua.

Dr. Nahla menegaskan, “Menyusui dapat meningkatkan perkembangan psikologis dan kualitas tidur bayi, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka. Menyusui memiliki banyak manfaat bagi para ibu juga, yakni melindungi dari kanker rahim, kanker ovarium dan osteoporosis, mengurangi kemungkinan kehamilan dengan menunda ovulasi, serta berkontribusi pada kondisi mental yang positif.”

Akan tetapi, program dari organisasi-organisasi bantuan jarang yang mengampanyekan kesadaran untuk mendorong para ibu menyusui bayi mereka. Beberapa organisasi, seperti Watan, memilih untuk tidak membanjiri kamp dengan botol bayi, hanya memberikan dalam jumlah terbatas ke daerah-daerah yang terkepung.

WHO menekankan bahwa kematian 820.000 anak per tahun dapat dihindari jika menyusui dimulai satu jam setelah kelahiran dan berlangsung selama enam bulan pertama, serta menambahkan makanan tambahan sampai bayi berusia dua tahun. Dengan kata lain, bagi ribuan bayi ini adalah masalah hidup dan mati.* (Zaman Al Wasl | Sahabat Al-Aqsha)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« ‘Tentara Assad Bombardir Kamp Qah dengan Rudal Balistik yang Dimodifikasi’
UOSSM Kecam Serangan terhadap Rumah Sakit di Suriah »