Satu Anak Terbunuh Setiap Hari Selama Eskalasi Serangan Militer di Idlib

11 January 2020, 18:47.
Foto: @IHHen (arsip tahun 2018)

Foto: @IHHen (arsip tahun 2018)

RATA-rata setiap hari satu anak terbunuh di Idlib, Suriah bagian barat laut, selama eskalasi serangan militer di tahun 2019 ini.

Demikian Save the Children mengungkapkan pada Kamis (9/1/2020).

Eskalasi serangan militer yang terus berlangsung di Idlib – yang bermula pada bulan Desember 2019 – telah mengakibatkan 36 anak meninggal, menurut Save the children dan organisasi partnernya, Hurras Network.

Eskalasi tersebut juga membuat hampir 300.000 orang mengungsi dan benar-benar mengosongkan beberapa kota besar di wilayah tersebut.

Pada eskalasi serangan sebelumnya (yang dimulai akhir bulan April 2019), lebih banyak anak-anak terbunuh dalam satu bulannya dibandingkan dalam kurun satu tahun pada 2018 di Idlib.

Antara 30 April 2019 sampai 25 Juli 2019, 90 anak terbunuh akibat serangan militer, sebelum adanya gencatan senjata yang diumumkan pada bulan Agustus.

Sonia Khush, Direktur Save the Children mengatakan, jumlah korban di Idlib terus meningkat.

“Bagi kebanyakan orang, jumlah tersebut hanyalah rangkaian angka saja. Tapi bagi keluarganya, itu adalah anak-anak yang mereka kasihi; yang nyawanya direnggut oleh konflik tak pandang bulu ini.”

“Satu orang anak mati setiap harinya tidaklah bisa diterima,” jelasnya.

Suhu dingin dan cuaca di musim salju memperburuk kondisi anak-anak dan keluarganya yang sudah rentan.

Ratusan orang tidur di jalanan Idlib tanpa tempat bernaung setelah serangkaian serangan darat dan udara membuat Kota Maarat al-Numan kosong.

Banyak yang berlindung di masjid, gudang kosong, maupun peternakan ayam.

Sementara dua belas kamp pengungsian di Suriah barat laut terendam banjir selama beberapa pekan terakhir.

Minimnya stok bahan bakar juga membuat keluarga-keluarga Suriah yang mengungsi sangat kesulitan dalam menghadapi musim dingin ini.

“Ribuan keluarga memulai tahun baru ini dengan terus mencoba menghindar dari serangan militer tanpa tahu harus kemana, dengan tetap menggotong barang yang bisa mereka bawa. Bagi kebanyakan pengungsi, ini sudah kesekian kalinya mereka harus melakukan hal itu,” terang Sonia.

“Save the Children memanggil semua pihak untuk menghentikan peperangan terhadap anak-anak ini. Konflik Suriah ini tidak seharusnya membuat pelanggaran atas hak asasi manusia dan hukum internasional, yang dirancang untuk melindungi anak-anak, menjadi sebuah kebiasaan baru,”ujarnya.

Keluarga-keluarga di Suriah begitu membutuhkan pengoperasian dan pengadaan sekolah, klinik kesehatan serta rumah bersalin, distribusi barang-barang higienis, transportasi untuk keluar dari area konflik, dan berbagai kebutuhan primer lain.

Suriah bagian barat laut menjadi wilayah di dalam negeri yang paling banyak menampung pengungsi.

Setengah dari populasinya pernah mengungsi setidaknya sekali, bahkan sebagiannya sampai mengalami tujuh kali selama konflik ini berlangsung.

Mayoritas pengungsi tinggal di kamp dan shelter yang sudah penuh sesak tanpa ada tempat berlindung lain. Persediaan makanan, air minum, dan obat-obatan minim, termasuk akses pendidikan dan kesehatan. (reliefweb)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Penindasan terhadap Muslim Uyghur (#6) – Pemerintah Komunis China Hancurkan Tatanan Keluarga Uyghur
Serdadu Myanmar Tembak Anak-anak Rohingya; 4 Terbunuh, Korban Selamat Dipaksa Mengaku Kena Ranjau »