Lebih Dekat dengan TK Cut Nya’ Dien di Azaz – Spirit dari Tanah Rencong untuk Bocah #SuriahKita

11 January 2020, 18:51.
Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

PENGHUJUNG Oktober 2019, tim relawan Sahabat Al-Aqsha (SA) tiba di Kota Azaz yang terletak di provinsi Aleppo, Suriah, guna meresmikan amanah dari masyarakat Indonesia; berupa 3 Taman Kanak-kanak dan Ma’had Al-Quran.

Berawal dari sukses dan berkahnya TK Bintang Al-Quran di Gaza, kini Sahabat Al-Aqsha juga fokus pada pendidikan dini anak-anak Suriah yang bertahan hidup di pengungsian.

Namun ada yang unik pada ketiga TK yang Sahabat Al-Aqsha resmikan di Suriah, yaitu nama-nama TK yang mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh pahlawan nasional Indonesia.

Ada TK Cut Nya’ Dien, TK dan Ma’had Al-Quran Buya Hamka, serta TK dan Ma’had Al-Quran Diponegoro.

TK Cut Nya’ Dien

TK ini didirikan 5 tahun lalu di Kamp Pengungsian Siccu yang terletak di Kota Azaz.

Jumlah pengungsi yang tinggal saat ini mendekati 9 ribu orang. Sebanyak 4 ribu di antaranya merupakan anak-anak berusia di bawah 12 tahun.

Demi memenuhi permintaan pengungsi Suriah yang menginginkan anak-anaknya mendapatkan pendidikan, maka pembelajaran di TK Cut Nya’ Dien dibagi menjadi dua; kelas pagi dan kelas siang.

Alhamdulillaah, sistem ini dapat menampung 220 siswa setiap harinya, dengan pembagian 110 siswa di pagi hari dan 110 siswa lainnya di siang hari.

Ketua Yayasan Sahabat Al-Aqsha, Ardhi Rosyadi, menjelaskan asal muasal pemberian nama TK tersebut.

“Karena beliau adalah pejuang dari Tanah Rencong yang dibesarkan di keluarga yang memperhatikan agama, sehingga saat bumi pertiwi dijajah Belanda, beliau bersama ayahanda, suami, dan pejuang-pejuang lainnya turut serta berjuang mempertahankan tanah airnya,” ujar Ardhi.

“Kita berharap dengan dinamakannya TK ini Cut Nya’ Dien, anak-anak Suriah bisa tumbuh menjadi para pejuang yang mempertahankan tanah kelahirannya melawan kezhaliman,” tuturnya.

Mengenai tujuan utama didirikannya TK ini, Hasna Alaya, Kepala Sekolah TK menjelaskan bahwa yang sedang mereka lakukan bukan sekadar kegiatan belajar mengajar biasa.

“Kurikulum memang sama, ada materi Al-Quran, Sirah Nabawiyah, menghitung, dan membaca. Namun di balik itu semua terselip sebuah gagasan utama; yaitu menyelamatkan dan menyiapkan generasi ini agar bisa tumbuh berkembang menjadi penyelamat agama dan bangsa,” ujar Hasna.

Ardhi, yang hadir meresmikan serah terima amanah masyarakat Indonesia untuk anak-anak #SuriahKita melihat seorang anak tampak murung dan bersedih. Di kala teman-temannya asyik bermain, seorang diri ia bersandar di sebuah tiang di pojok halaman TK.

“Saya dekati dan coba menghiburnya, tapi tetap tidak bisa membuatnya tersenyum” kenang Ardhi.

Saat ditanyakan kepada Hasna, beliau menceritakan bahwa dari 220 siswa terdapat 70 anak yatim.

Mereka menyaksikan hal-hal mengerikan terjadi pada keluarga, teman-teman, dan tetangganya.

Hidup di pengungsian juga tidak lebih ramah bagi anak-anak, apalagi yang sudah tidak memiliki sosok ayah dalam keluarga.

Gangguan psikologis pada anak menjadi salah satu tantangan terbesar para guru dalam kegiatan belajar mengajar. Sebab usia anak-anak di TK dianggap sebagai usia di mana nilai-nilai Islam sangat penting untuk ditanamkan.

Untuk melakukan hal itu, guru harus membuat ikatan batin yang erat pada tiap anak, terutama yang terganggu secara psikologis. (*)

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Foto: Sahabat Al-Aqsha

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serdadu Myanmar Tembak Anak-anak Rohingya; 4 Terbunuh, Korban Selamat Dipaksa Mengaku Kena Ranjau
TK dan Ma’had Al-Quran Buya Hamka di Suriah – Harta Karun Masa Depan #SuriahKita dan Ummat Islam »