Penindasan terhadap Muslim Uyghur (#7) – Anak-anak Dipaksa Masuk Asrama Superketat, ‘Genosida Kultural’ Menguat

12 January 2020, 16:48.
Sumber: BBC

Sumber: BBC

KETIKA jutaan orang dewasa Uyghur ditahan di kamp pelatihan, secara masif anak-anak mereka dimasukkan ke sekolah-sekolah asrama milik pemerintah China, tanpa persetujuan keluarga mereka.

Banyak pula anak-anak Uyghur yang dimasukkan paksa ke rumah yatim piatu meski orangtua mereka belumlah meninggal, melainkan karena ditahan di kamp pelatihan.

Dilaporkan bahwa dalam satu kota saja, lebih dari 400 anak-anak yang kehilangan salah satu maupun kedua orangtuanya.

Hal ini disebabkan penahanan masif yang dilakukan pemerintah China kepada warga Uyghur.

Pada saat yang bersamaan, pemerintah China juga mendirikan banyak sekolah berikut dengan asrama bagi para muridnya di Xinjiang.

Dr Adrian Zenz membuat laporan penelitian bahwa kini sekolah-sekolah diperluas, asrama-asrama baru dibangun, dan kapasitasnya ditingkatkan dalam jumlah yang besar.

Ia menjelaskan bahwa semua anak-anak ditempatkan di sekolah dengan tingkat keamanan tinggi.

Sistem kamera pengawas yang menyeluruh, alarm peringatan jika ada yang keluar, bahkan sampai pemasangan kawat listrik 10.000 volt.

Beberapa sekolah menghabiskan anggaran keamanan yang melebihi anggaran untuk kamp pelatihan.

Seorang mantan guru TK bilingual di Xinjiang yang kini tinggal di Turki mengatakan bahwa semua pelajaran kala itu disampaikan dalam bahasa Mandarin.

Murid-murid yang berwajah Uyghur dilarang menggunakan bahasa Uyghur di sekolah. Bahkan seorang rekannya dipecat karena ketahuan menjelaskan pelajaran menggunakan bahasa Uyghur.

“Jika anak-anak dipaksa berbicara dengan bahasa Mandarin dan hidup sebagaimana orang-orang China Han setiap harinya, aku takut mereka tidak akan seperti kami lagi,” kata Meriyem Yusup, yang 4 orang anak di keluarga besarnya masuk ke sekolah-sekolah tersebut.

Pemerintah China pada bulan Februari mempublikasikan surat berisi perintah bahwa anak-anak sekolah dasar kelas 4 ke atas yang orangtuanya ditahan harus segera dimasukkan ke sekolah asrama yang dibangun pemerintah, meski salah satu orangtuanya masih di rumah bersama mereka.

Masih dalam surat perintah itu, para murid wajib ditanamkan nilai-nilai paham sosialis, rasa syukur atas pendidikan gratis tersebut, dan mereka harus membayar utang budi kepada negara nantinya.

Mereka juga dididik menghindari 75 perilaku yang menunjukkan ekstremisme dalam beragama.

Di antaranya mengucapkan jihad, menumbuhkan jenggot, tidak merokok, dan tidak minum minuman beralkohol.

Dr Adrian Zenz berkomentar; “Saya pikir adanya upaya sistematis memisahkan antara orangtua dengan anaknya telah jelas menunjukkan bahwa pemerintah Xinjiang berusaha mendidik generasi baru yang terpotong dari asal usulnya, dari agamanya, dan dari bahasanya.”

“Saya yakin bahwa bukti ini mengarah pada yang semestinya kita sebut sebagai genosida kultural,” tambahnya.

Pemerintah China sendiri mengatakan bahwa jutaan Yuan yang diinvestasikan dalam sektor pendidikan ini adalah untuk meningkatkan derajat ekonomi, membantu warga miskin dan yang berkebutuhan khusus di Xinjiang, serta menjauhkan mereka dari paham terorisme. (bersambung)

Sumber: Independent, BBC

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« TK dan Ma’had Al-Quran Buya Hamka di Suriah – Harta Karun Masa Depan #SuriahKita dan Ummat Islam
Ketika Kekerasan Meningkat Tajam, Pengungsi Suriah Harus Hadapi Musim Dingin Mencekam »