Ketika Kekerasan Meningkat Tajam, Pengungsi Suriah Harus Hadapi Musim Dingin Mencekam

12 January 2020, 20:19.
Seorang bocah pengungsi Suriah di Idlib. (Abdullah Hammam)

Seorang bocah pengungsi Suriah di Idlib. (Abdullah Hammam)

SITUASI kemanusiaan di barat laut Suriah berada pada titik puncaknya.

Eskalasi kekerasan terkini di Provinsi Idlib telah “mencabut” lebih dari 235.000 orang dari rumah mereka. Lebih dari setengahnya adalah anak-anak.

Penurunan suhu secara tajam dan ekstrem mengancam memperburuk situasi yang sudah mengerikan bagi ribuan keluarga.

Angin dingin, hujan, dan badai telah berdampak pada ribuan orang.

Kamp-kamp pengungsian resmi telah berkapasitas penuh selama berbulan-bulan.

Sebagian besar dari 400.000 orang yang terpaksa mengungsi di musim semi hidup di permukiman informal nan sangat padat; yang kekurangan air bersih, sanitasi, dan perawatan kesehatan.

Banyak pendatang baru melarikan diri dari serangan udara baru-baru ini di Idlib Selatan.

“Orang-orang Idlib telah hidup di bawah ancaman pemboman dan penembakan selama hampir sembilan tahun. Dan kini, mereka kembali mengkhawatirkan keselamatannya,” kata Rehana Zawar, Country Director International Rescue Committee (IRC) untuk Suriah barat laut.

Menurut IRC, kebutuhan paling mendesak para pengungsi adalah makanan, tempat tinggal, perawatan kesehatan, bahan bakar, dan pakaian musim dingin yang hangat.

Ada laporan bahwa ribuan orang – termasuk anak-anak – hidup di udara terbuka di bawah pohon zaitun.

Sebelas persen anak-anak yang mengunjungi klinik kesehatan yang didukung IRC menderita kekurangan gizi akut.

“Dokter yang bekerja dengan kami di lapangan telah memberi tahu kami bahwa mereka melihat bayi dengan kondisi gizi buruk setiap hari. Setiap bulan para dokter juga merawat anak-anak yang menderita masalah kesehatan mental sebagai akibat dari kekerasan yang mereka alami,” kata Zawar.

IRC memperingatkan adanya kemungkinan 400.000 orang akan melarikan diri dalam beberapa minggu mendatang jika pemboman berlanjut; yang akan menciptakan gelombang pengungsian terbesar di Suriah sejak konflik dimulai hampir sembilan tahun yang lalu.

Lebih dari tiga juta orang diperkirakan tinggal di Idlib. 1,4 juta orang telah mengungsi saat gelombang konflik sebelumnya.

Sekitar 63.000 orang tinggal di kamp-kamp resmi, sementara lebih dari 664.000 berlindung di permukiman informal. Sebagian besar dari mereka yang baru saja mengungsi tinggal di gedung-gedung publik seperti sekolah dan masjid, yang telah menjadi penuh sesak.

“Banyak keluarga pengungsi baru tidak punya pilihan selain berkemah di tempat terbuka, di mana suhu turun mendekati nol ketika malam tiba,” kata Zawar. (Rescue.org)

Anak-anak berjalan di lumpur setelah hujan lebat di Desa Qah, pinggiran Idlib utara. (Abdullah Hammam)

Anak-anak berjalan di lumpur setelah hujan lebat di Desa Qah, pinggiran Idlib utara. (Abdullah Hammam)

Seorang anak lelaki Suriah berjalan melewati lumpur, di antara tenda-tenda keluarga pengungsi di Idlib. (Abdullah Hammam)

Seorang anak lelaki Suriah berjalan melewati lumpur, di antara tenda-tenda keluarga pengungsi di Idlib. (Abdullah Hammam)

Seorang bocah Suriah berjalan di sebuah permukiman yang menampung 120.000 keluarga di dekat Kota Deir Hassan. (Abdullah Hammam)

Seorang bocah Suriah berjalan di sebuah permukiman yang menampung 120.000 keluarga di dekat Kota Deir Hassan. (Abdullah Hammam)

Pakaian tergantung di penampungan warga Suriah di pinggiran Deir Hassan di Idlib. (Abdullah Hammam)

Pakaian tergantung di penampungan warga Suriah di pinggiran Deir Hassan di Idlib. (Abdullah Hammam)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Penindasan terhadap Muslim Uyghur (#7) – Anak-anak Dipaksa Masuk Asrama Superketat, ‘Genosida Kultural’ Menguat
Perluasan Permukiman Ilegal Melenggang, Warga Baitul Maqdis Dipaksa Hancurkan Rumah Sendiri »