Keluarga #SuriahKita di Libanon dan Yordania Berjuang Keras Hadapi Musim Dingin

14 January 2020, 19:05.
Sumber: Al Jazeera

Sumber: Al Jazeera

LEMBAH Bekaa Libanon kembali dilanda musim dingin. Artinya, tantangan yang dihadapi para pengungsi Suriah di sana kian berlipat.

Pengungsi Suriah yang tinggal di tenda-tenda tak resmi di Bar Elias sangat kesulitan menghindarkan keluarganya dari kondisi kedinginan.

Meski sebagian besar mempunyai kompor untuk memasak sekaligus menghangatkan badan, mereka tidak mampu membeli kayu ataupun bahan bakarnya.

Sebagai gantinya, mereka menggunakan sampah-sampah untuk dibakar, meskipun bisa menimbulkan racun.

“Banyak orang yang sangat butuh bantuan. Kami memiliki ribuan keluarga Suriah dan Libanon yang pendapatannya di bawah 6$ per bulan,” kata Sarah Farou, koordinator UNHCR di Libanon bagian timur.

Setiap musim dingin tiba, PBB memberikan bantuan uang tunai kepada para pengungsi dan warga Libanon yang sangat membutuhkan. Masing-masing keluarga mendapat sekitar 370$.

Akan tetapi, dikarenakan minimnya bantuan yang masuk, semakin sedikit jumlah keluarga yang bisa diberi bantuan.

“Tidak pernah ada kebutuhan yang 100% bisa terpenuhi, pasti selalu ada yang kurang bagi sebagian besar orang,” kata Saleh Mustafa, salah seorang pengungsi di Bar Elias.

“Sebagian orang tak mampu membeli (kayu), sehingga mereka pergi dan mencari plastik untuk dibakar di tempat-tempat mereka.”

Di sebuah pabrik popok terdekat, para pengungsi yang bekerja di sana membawa pulang produk yang cacat sebagai bayaran untuk mereka.

Popok tersebut mereka gunakan sebagai bahan bakar penghangat di tenda mereka.

“Mereka membawanya pulang, mereka bisa gunakan itu untuk membuat roti, mereka juga bisa menggunakannya (sebagai bahan bakar) bersamaan dengan kayu,” kata seorang warga Libanon yang menjadi manajer atas 30 karyawan di pabrik popok tersebut.

Lala Hamdan Khamis, seorang pengungsi dari Suriah bagian timur mengatakan bahwa ia membeli beberapa kantong berisi popok yang cacat dengan harga 5000 lira Libanon (2,5$).

Popok cacat tersebut lebih murah dibandingkan kayu dan bisa membuat anak-anaknya merasa hangat.

Lebih dari seperempat pengungsi Suriah di Libanon hidup di bawah garis kemiskinan. Sembilan dari sepuluh keluarga di sana terjerat utang.

Ditambah kondisi Libanon yang sedang mengalami krisis ekonomi terburuk dalam puluhan tahun terakhir, para pengungsi keluarga Suriah di sana menjadi sangat rentan dibanding sebelumnya.

Kondisi Para Pengungsi di Yordania

Di Yordania, para pengungsi Suriah mengumpulkan barang-barang bantuan untuk menghangatkan mereka selama musim dingin ini.

Relawan dari lembaga kemanusiaan membagikan perbekalan untuk musim dingin seperti penghangat dan selimut untuk membantu mereka melewati dinginnya cuaca.

Seorang pengungsi bernama Onoud al-Jassim menceritakan; “Situasinya sungguh berat, selalu hujan dan sangat dingin, dan kondisi kami sangat memprihatinkan.

Mohammed al-Jasser, yang lari menyelamatkan diri dari desa Hama di Suriah pada tahun 2012, mengatakan; “Kami butuh bahan makanan, kami butuh alat-alat penghangat, dan kami butuh pelayanan medis. kami menderita akibat musim dingin yang keras. Kami tidak punya apa-apa, kami tak berdaya”.

Suhu musim dingin di gurun Yordania bisa mencapai di bawah 0 derajat Celcius pada malam hari di bulan Januari dan Februari.

Pemerintah Yordania telah menyediakan tempat bagi sekitar 1,3 juta warga Suriah, termasuk 670.000 orang yang sudah terdaftar resmi oleh PBB sebagai pengungsi. (AL JAZEERA)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serdadu ‘Israel’ Culik Sembilan Warga Palestina di Tepi Barat
Serdadu ‘Israel’ Layangkan Perintah Pembongkaran Rumah 8 Keluarga Palestina di Al-Khalil »