Petani Gaza Mulai Dapatkan Akses ke Tepi Pagar Pembatas, Herbisida ‘Israel’ Berimbas Kerugian Jutaan Dollar

6 February 2020, 18:35.
Seorang petani Palestina sedang memeriksa tanamannya yang dirusak serdadu Israel [Middle East Monitor]

Seorang petani Palestina sedang memeriksa tanamannya yang dirusak serdadu Israel [Middle East Monitor]

KEMBALI ke ladangnya untuk pertama kalinya dalam 14 tahun, petani Palestina Naser Abu Isaeed menyoroti jumlah korban akibat konflik di tanah yang dulunya produktif.

“Kini saya melihat daerah kosong yang penuh lubang dan gulma kering,” kata Abu Isaeed, yang pernah menanam buah di daerah sepanjang pagar pembatas Gaza, diwartakan Reuters.

Naser adalah satu dari sekira 600 petani Palestina yang mendapatkan kembali akses ke ladang mereka; di sepanjang pagar pembatas untuk menanam tanaman di bawah proyek yang diluncurkan oleh Komite Internasional Palang Merah (ICRC).

Mengutip masalah keamanan, ‘Israel’ selama bertahun-tahun telah menetapkan jalur, dengan lebar antara 100 dan 300 meter di sepanjang 40 km (25 mil) pagar pembatas, sebagai area terlarang bagi warga Palestina di Gaza; daerah yang diperintah kelompok Hamas.

Palestina mengatakan kebijakan itu telah merampas wilayah pertanian mereka yang luas, memotong mata pencaharian, dan mengurangi ruang yang tersedia dari daerah padat yang dihuni dua juta penduduk.

Di bawah proyek ICRC, yang diluncurkan pada 2015, anggota Kementerian Dalam Negeri yang dipimpin Hamas telah membersihkan persenjataan yang belum meledak dan material perang lainnya di 40 persen dari 2.500 acre atau 1.012 hektar (1 acre = 0,4 hektar, red) di daerah itu.

Abu Isaeed adalah salah satu dari 90 petani yang tanahnya sedang direhabilitasi oleh ICRC dalam fase ketiga proyek yang dimulai Agustus lalu dan akan berakhir dengan panen pada Mei.

Herbisida ‘Israel’ Rugikan Petani Gaza

Secara keseluruhan, ICRC mengatakan sekitar 580 petani telah mendapatkan kembali akses ke tanah mereka.

Ladang dibajak, dipupuk, dan ditaburkan dengan gandum oleh pekerja yang dipekerjakan ICRC sebagai bagian dari upaya tersebut; yang diorganisasikan dalam kerja sama Kementerian Pertanian Gaza, pemerintah kota setempat, komite petani, bahkan dengan otoritas ‘Israel’.

“Kami mempertaruhkan nyawa setiap kali kami memasuki tanah,” kata Serhey Abu Mandeel, 71 tahun.

Ia mengatakan aktivitas di lahannya dipantau secara ketat oleh serdadu ‘Israel’, karena kedekatannya dengan pagar pembatas.

Keluarga Abu Mandeel memiliki lahan 12 acre yang ditanami kacang polong, kedelai, gandum, dan lentil.

Seperti petani Palestina lainnya, Abu Mandeel mengeluh bahwa herbisida yang disemprot dari wilayah yang dicaplok ‘Israel’ dibawa oleh angin melintasi pagar menuju Gaza, lalu merusak ladang di sana.

Para petani mengatakan bahwa herbisida telah membunuh tanaman mereka.

Kementerian Pertanian Gaza menempatkan kerugian mereka di $1,25 juta sejak Desember lalu.

“Kami percaya harus ada keseimbangan antara masalah keamanan dan dampak herbisida terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan dan mata pencaharian masyarakat setempat,” kata juru bicara ICRC Gaza Suhair Zakkout kepada Reuters, seraya menambahkan mereka sedang berdiskusi dengan Israel mengenai masalah ini. (Middle East Monitor)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serangan Fajar Pesawat ‘Israel’ Hantam Infrastruktur Sanitasi dan Lahan Pertanian di Gaza
Mahkamah Kriminal Internasional Mulai Kumpulkan Bukti Genosida Rohingya »