Mahkamah Kriminal Internasional Mulai Kumpulkan Bukti Genosida Rohingya

6 February 2020, 18:37.
Sumber: Times of India

Sumber: Times of India

TIM penyelidik Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) telah memulai pencarian bukti-bukti kejahatan genosida Myanmar terhadap etnis Muslim minoritas Rohingya yang menyebabkan mereka lari mengungsi ke negara tetangga, Bangladesh.

Hal tersebut disampaikan seorang pejabat ICC, Selasa (4/2/2020).

Phakiso Mochochoko, Direktur Jurisdiction, Complementary, and Cooperation Division dari Kantor Jaksa ICC mengatakan satu tim penyelidik sedang mendatangi para pengungsi Rohingya untuk mengumpulkan bukti.

Ia menegaskan, meski Myanmar selalu menyangkal telah terjadi genosida, keadilan akan tetap ditegakkan; baik Myanmar mau bekerja sama ataupun tidak.

Mochochoko melanjutkan bahwa ICC tetap akan menangani kasus ini meski Myanmar bukanlah anggota Statuta Roma, yang menjadi cikal bakal terbentuknya ICC.

Hal ini karena warga Rohingya, sebagai korban kejahatan genosida, menyelamatkan diri ke wilayah Bangladesh, dimana negara tersebut merupakan negara anggota ICC.

Ia menyadari bahwa penyelidikan ini akan memakan waktu lama dan tidak mudah jika Myanmar tak mau bekerja sama.

“Kami mempunyai pengalaman, di beberapa kasus dimana negara yang bersangkutan tidak mau bekerja sama dengan kami, mereka melarang kami masuk ke negaranya. Namun kami tetap berhasil melakukan penyelidikan dan menghukum para pelakunya.”

Ia menjelaskan bahwa tim penyelidik akan bertanya kepada para pengungsi Rohingya di Bangladesh dan juga para saksi mata di negara-negara lain.

Mochochoko mengatakan bahwa mereka akan berusaha mengidentifikasi siapa yang merencanakan, memfasilitasi, dan melakukan kejahatan tersebut.

Tambahnya, orang yang bertanggung jawab bisa jadi kepala negara ataupun para petinggi di Myanmar.

Ia juga menjelaskan bahwa upaya repatriasi yang sedang dilakukan Bangladesh tidak akan terganggu dengan adanya penyelidikan dari ICC ini, dan tetap bisa dilaksanakan jika terjadi kesepakatan dengan Myanmar.

Ia mengatakan bahwa dalam penyelidikan ini, ICC bekerja sama dengan Mahkamah Internasional (ICJ), yang bulan lalu memerintahkan Myanmar untuk melindungi warga Rohingya dari ancaman genosida.

Lebih dari 700.000 orang Rohingya lari menyelamatkan diri ke Bangladesh setelah militer Myanmar menyerang desa-desa mereka dengan membabi buta pada bulan Agustus 2017.

Saat ini, di Bangladesh terdapat lebih dari satu juta orang Rohingya yang terpaksa mengungsi.

Myanmar telah lama mengklaim bahwa warga Rohingya merupakan imigran gelap dari Bangladesh, meskipun nenek moyang mereka merupakan pribumi negeri Arakan.

Sejak tahun 1982, hampir semua warga Rohingya ditolak kewarganegaraannya oleh Myanmar.

ICC sendiri adalah pengadilan yang menjadi upaya terakhir ketika para pejabat negara bersangkutan tidak mampu atau tidak mau mengadili kejahatan besar yang terjadi di negaranya. (timesofindia.com)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Petani Gaza Mulai Dapatkan Akses ke Tepi Pagar Pembatas, Herbisida ‘Israel’ Berimbas Kerugian Jutaan Dollar
Melenggang Mulus Dikawal Polisi, Yahudi Ekstremis Lakukan Tur Pagi-Sore di Masjid Al-Aqsha »