Penjajah Zionis Putuskan Sekap Lagi Syaikh Raed Salah 28 Bulan

11 February 2020, 19:06.
Raed Salah diusung oleh para pendukungnya setelah pengadilan ‘Israel’ memutuskan menghukumnya 28 bulan penjara (MEE / Sondus Ewies)

Raed Salah diusung oleh para pendukungnya setelah pengadilan ‘Israel’ memutuskan menghukumnya 28 bulan penjara (MEE / Sondus Ewies)

PENGADILAN zionis di Haifa, Senin (10/2/2020), menjatuhkan hukuman 28 bulan penjara kepada pemimpin politik terkemuka Raed Salah, setelah ia dihukum sejak November lalu karena tuduhan “penghasutan”.

Raed Salah, seorang warga Palestina dan penduduk Umm al-Fahm, sebuah kota kecil di selatan Kota Haifa, merupakan kepala cabang utara Gerakan Islam, yang dilarang oleh Israel pada tahun 2015.

Majelis hakim Pengadilan Haifa menuduh Syaikh Salah melakukan “penghasutan menggalang terorisme” dalam pidatonya selama aksi protes Juli 2017; terhadap pemasangan detektor logam di gerbang luar kompleks Al-Aqsha di Baitul Maqdis Timur yang diduduki.

Raed Salah mengutip ayat-ayat dari Al-Quran dan hadits, kumpulan perkataan Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam pidatonya.

Protes warga Palestina menggiring pasukan Israel untuk membongkar detektor logam setelah hampir dua minggu terpasang.

Salah ditahan pada 15 Agustus 2017 dan menjalani hukuman 11 bulan penjara; sebelum ia beralih menjadi tahanan rumah dengan pembatasan superketat.

Salah dipaksa memakai tanda elektronik dan dilarang mengakses alat komunikasi, termasuk telepon, internet, dan situs media sosial.

Dia tidak diizinkan berbicara kepada media. Hanya kerabat tingkat pertama dan kedua yang diizinkan untuk mengunjunginya.

Senin (10/2/2020), puluhan warga Palestina berkumpul di halaman depan Pengadilan Magistrasi Haifa.

Mereka menyanjung Salah dan mengusungnya di atas pundak mereka setelah keputusan pengadilan, sembari memekikkan “Allahu Akbar” dan “Dengan jiwa dan darah, kami berkorban untukmu, Al-Aqsha.”

Khaled Zabarqa, pengacara Salah, mengatakan kepada Middle East Eye bahwa Salah akan menyerahkan diri kepada otoritas Israel pada 25 Maret di penjara al-Jalameh, dekat Haifa, untuk menjalani hukuman 17 bulan.

Pengadilan telah mengeluarkan hukuman percobaan 11 bulan untuk dijalani.

Zabarqa mengatakan bahwa Salah menolak untuk mengajukan banding atas keputusan pengadilan. Kliennya tahu bahwa itu adalah kasus kritis.

“Kami menolak untuk naik banding karena kami tidak ingin pengadilan Israel menafsirkan ayat-ayat Al Quran dan hadits Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang digunakan oleh Sheikh Raed dalam pidatonya,” kata Zabarqa.

“Kami menolak untuk membiarkan pengadilan Israel memutuskan pemikiran, alasan, dan pemahaman kami; karena kami tidak melihat sistem peradilan Israel sebagai sistem yang adil, objektif, dan tidak memihak,” kata Zabarqa.

SA: Penjajah Selalu Cari Alasan Sekap Syaikh Raed Salah

Sahabat Al-Aqsha (SA) mengecam keputusan pengadilan zionis, Senin (10/2/2020), yang menghukum Syaikh Raed Salah, kepala cabang utara Gerakan Islam Palestina, 28 bulan penjara.

SA memandang, penjajah zionis selalu mencari alasan untuk menyekap Syaikh Raed Salah dengan dalih apapun, dengan berbagai cara.

“Alasan ‘mendukung terorisme’ adalah alasan yang paling tidak berani disentuh pembela HAM dan secara opini publik dianggap menang,” ujar Ketua Umum Sahabat Al-Aqsha (SA), Tomi Janto.

“Kita tidak bisa menerjemahkan tuduhan sistem ‘penzhaliman’ (disebut pengadilan ‘Israel’) secara letterlijk, karena itu bagian dari sistem dusta mereka,” kata Tomi Janto.

Telalu banyak fakta yang menunjukkan bahwa peradilan Israel merupakan sistem yang secara terang-benderang melegalkan dan menyokong penjajahan.

Syaikh Raid Salah adalah pejuang tanpa kekerasan.

Pendiri Sahabat Al-Aqsha pernah mewawancarai langsung Syaikh Salah di Kapal Mavi Marmara 10 tahun lalu.

Bahkan pendiri SA sempat sepenjara dengan Syaikh Salah.

Anggota Knesset Ahmad Tibi mengatakan kepada MEE bahwa persidangan Salah adalah murni politis.

“Semua pernyataan yang merujuk pada Sheikh Raed Salah didasarkan pada posisi politik dan tidak ada hubungannya dengan kekerasan. Kami adalah orang-orang yang menghadapi kekerasan dan diskriminasi ‘Israel’,” kata Tibi, anggota Daftar Gabungan, faksi terbesar ketiga di Knesset, yang mewakili komunitas Palestina di ‘Israel’.

Kamal al-Khatib, salah satu tokoh Gerakan Islam yang dilarang, mengatakan kepada MEE bahwa Gilad Erdan, mantan menteri keamanan publik ‘Israel’, telah “menargetkan” Salah setelah penangkapannya pada Agustus 2017.

Erdan kemudian berkata bahwa “Saya harap kali ini [Salah] akan dibawa ke pengadilan dan akan dikirim ke penjara untuk waktu yang lama.”

Setelah keputusan hari Senin, Erdan memberi selamat pengadilan dalam tweet.

Salah adalah salah satu tokoh yang paling dikenal dan berpengaruh di antara populasi Palestina di ‘Israel’, serta di wilayah di bawah Otoritas Palestina dan Gaza.

Salah memimpin cabang utara Gerakan Islam dari tahun 1996, hingga dilarang pada tahun 2015.

Dia adalah kepala kotamadya Umm al-Fahm selama 12 tahun hingga 2001. Sebelumnya, dia adalah kolumnis dan editor di media Islamic Movement Township. (Middle East Eye/Sahabat Al-Aqsha)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Lima Pasukannya Terbunuh di Idlib, Turki Serang Balik Serdadu Assad
Hamas Mengecam Keras Keputusan Pengadilan ‘Israel’ terhadap Syaikh Raed Salah »